Last updated 31/10/2006
By: Farid Atmadiwirya
Oktober 2006

Kantor Pusat IAAS Indonesia Pindah ke Unibraw
31 Oktober 2006
IAAS (International Association of Students in Agricultural Related Science) atau yang lebih akrab dikenal dengan organisasi mahasiswa internasional untuk pangan, beberapa waktu lalu (14-19 Agustus 2006), melangsungkan National Congress (NatCon) XI di Universitas Padjadjaran, Bandung. Tema kongres ini adalah "Plant Protection to Establish Agriculture Productivity". Kegiatan tahunan National Committee (NC) IAAS Indonesia ini diikuti 4 dari 6 local committee (LC) yang ada di Indonesia.
Hadir dalam pertemuan tersebut delegasi dari Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, Universitas Haluoleo Kendari, dan Universitas Padjadjaran Bandung. Delegasi Unibraw dalam kongres ini terdiri dari Fandi A (Fakultas Peternakan 02, Local Committee Director), Ella (Fakultas Perikanan 04, External Affair Deptarment), Mayang AP (Fakultas Pertanian 03, CCLC), Ibnu SJ (Fakultas Peternakan 04), Putri (Fakultas Pertanian 05), dan Trisna (Fakultas Teknologi Pertanian 05).
IAAS Indonesia adalah salah satu bagian dari IAAS International yang beranggotakan lebih dari 50 negara. IAAS merupakan organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang pangan. Pembentukan organisasi ini dilatarbelakangi krisis pangan yang terjadi beberapa tahun silam. IAAS bersifat non pemerintah, non politik, dan non profit. Atas dasar itu, IAAS menerima seluruh mahasiswa dari berbagai bidang yang terkait dengan pengembangan pangan secara luas (dari sisi teknologi, budidaya, sosial, dan ekonomi).
Hasil kongres
Melalui serangkaian seminar yang cukup melelahkan, NatCon XI akhirnya menghasilkan beberapa pandangan untuk membuat produktivitas tanaman pertanian terlindungi. Sektor pertanian, menurut hasil kongres itu, harus menjadi prioritas utama pembangunan Indonesia, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Dan hal ini tidak dapat secara sendiri-sendiri tetapi harus bergerak secara bersama. Dengan tingkat penghidupan masyarakat dalam mengkonsumsi makanan bergizi per kapita per tahun yang rendah, tidak akan tercipta generasi yang cerdas, tidak banyak lapangan kerja yang terbuka, dan dunia pertanian tidak akan berkembang. Ironis sekali dengan negeri yang sesubur ini Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. Lebih ironis lagi, kebijakan pemerintah membuat orang menjadi malas, yaitu mengutamakan impor dibanding upaya peningkatan produktivitas di sektor pertanian (tanaman pangan, peternakan, dan perikanan). Namun demikian, pemerintah tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Hal ini terjadi karena masyarakat, termasuk mahasiswa dan praktisi pertanian, juga malas berkontribusi secara langsung dan aktif di bidang pertanian. Oleh karena itu, dengan jumlah penduduk yang semakin banyak, kebutuhan pangan yang murah dan berkualitas juga semakin dibutuhkan, diiringi oleh kebijakan pemerintah yang mendukung pembangunan di bidang pertanian serta tindakan konkret pemerintah. Suatu negara akan kuat apabila sektor pangan di negara itu juga kuat.
National Committee
Agenda utama yang lain dalam Kongres Nasional XI IAAS ini adalah pemilihan NC, dan penyusunan strategi kebijakan pengembangan IAAS. Hasil pemilihan NC, terpilih seorang wakil dari IPB dan 2 orang wakil dari Unibraw sebagai Executive Committee National Committee 2006-2007. Adi Irawan (LC IPB-Departemen Agronomi 02) terpilih sebagai National Director, Ibnu Sina Jaelani (LC Unibraw-Fakultas Peternakan 04) sebagai Deputy National Director, dan Adelia Mayang Puspita (LC Unibraw-Fakultas Pertanian 03) sebagai National Exchange Program Coordinator. Dan Unibraw juga dipercaya untuk menjadi National Operational Office IAAS Indonesia yang sebelumnya berkedudukan di IPB Bogor. Untuk sementara, kantor itu menempati Sekretariat IAAS LC Unibraw Sekber UKM Unibraw.
Sementara itu strategi IAAS ke depan yang berhasil dirumuskan meliputi pengembangan program pertukaran mahasiswa (Expro) Indonesia (anggota maupun non anggota IAAS) ke negara-negara anggota IAAS di seluruh dunia, pengembangan konsep desa binaan (Village Concept Project) di LC-LC yang ada di Indonesia, pengembangan kemitraan terhadap institusi-institusi maupun sektor usaha yang bergerak di bidang pertanian, pengembangan proyek-proyek ilmiah (seperti penelitian kompos di LC Unibraw), pengembangan jaringan dan memperluas keanggotaan baik secara individu maupun perguruan tinggi yang berada di bidang pengembangan pangan secara luas di Indonesia, dan pengembangan pola HRD di internal IAAS, serta pengembangan public relations melalui e-mail di iaas_indonesia @yahoo.com, dan membuka situs resmi IAAS Indonesia (www.iaasindonesia.com) yang rencananya akan diluncurkan pada akhir November ini.
Dengan pindahnya kantor pusat IAAS Indonesia ke Unibraw, Malang, diharapkan kiprah Universitas Brawijaya semakin meningkat sebagai universitas yang mendukung program pengembangan sektor pertanian, hingga ke kancah internasional. [vty]

Halal Bi Halal di Unibraw
31 Oktober 2006
Keluarga besar Universitas Brawijaya, Selasa 31/10, pagi, menggelar acara halal bi halal di Sasana Samanta Krida. Acara ini diikuti sekitar 3000 orang yang hadir memenuhi gedung pertemuan tersebut, termasuk Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito beserta isteri, Pembantu Rektor II Prof Dr Moch Munir SH beserta isteri, Pembantu Rektor III Drs Tjahjanulin Domai MS beserta isteri, Pembantu Rektor IV Prof Dr Umar Nimran MA beserta isteri, para dekan, direktur Program Pascasarjana, para ketua lembaga, para kepala biro, serta para mantan rektor dan pembantu rektor.
Acara berlangsung akrab penuh kekeluargaan, dibuka dengan lantunan ayat-ayat suci Al Quran yang dibawakan oleh Drs HM Tabrani, dan sari tilawah oleh Hj Ninik Chairani SH, serta doa oleh Ketua PPA Unibraw Prof Dr H Thohir Luth MA, dan dimeriahkan oleh penampilan Unitas Home Band Unibraw membawakan lagu-lagu yang bernuansa religius.
Dalam kesempatan itu, Rektor Prof Yogi menyampaikan ucapan selamat idulfitri disertai permohonan maaf lahir batin atas nama pimpinan Universitas Brawijaya maupun pribadi. Rektor juga mengajak seluruh warga Universitas Brawijaya agar menggunakan momentum Idulfitri ini untuk lebih meningkatkan amal ibadah, kinerja serta pengabdian untuk menuju masa depan yang lebih baik. [Far]

Idulfitri di Unibraw
24 Oktober 2006
Syarat utama agar kita kembali ke fitrah adalah melakukan muhasabah finnafs atau introspeksi terhadap apa yang terjadi pada diri kita. Idulfitri merupakan waktu yang epat bagi kaum muslim untuk merefleksi kembali tentang kehidupan masa lalu, karena bisa jadi, krisis yang melanda kita serta musibah yang mengiringinya selama ini selain atas kehedak Allah juga akibat dari perilaku kita sendiri. Demikian ungkap Warkum Sumitro SH MH dalam khutbah Idulfitri 1 Syawal 1427 H di Lapangan Rektorat Universitas Brawijaya.
Dalam khutbah yang berjudul “Reorientasi Perjuangan di Tengah Krisis Berkepanjangan”, Warkum Sumitro yang juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini lebih lanjut menyampaikan, penyebab terjadinya krisis dan musibah tak lain karena ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu. Menurut Warkum Sumitro, Kemampuan seseorang mengendalikan hawa nafsu menentukan kualitas pribadi seseorang dan lingkungan. Semakin seseorang memiliki tingkat kemampuan pengendalian diri yang tinggi disertai Iptek yang tinggi pula, maka akan semakin besar nilai manfaatnya bagi masyarakat. Sebaliknya, semakin tinggi Iptek seseorang namun semakin rendah tingkat kemampuan pengendalian dirinya maka akan semakin membahayakan masyarakat, karena Iptek yang dimilikinya digunakan untuk mengeksploitasi alam dan manusia demi keuntungan pribadi semata tanpa memperhitungkan ekses negatif bagi kemanusiaan.
Selanjutnya Warkum Sumitro mengatakan, Islam menentang konsentrasi dan monopoli karena kedua hal ini dapat menyebabkan ketidakadilan dan penindasan. Diperlukan komitmen yang berorientasi pada kebenaran dan keberpihakan pada kelompok yang lemah. Perjuangan dalam mengangkat harkat dan martabat manusia dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan harus diarahkan pada amar ma’ruf nahi munkar. Selain itu, syarat utama untuk melakukan perubahan menurut Al-Qur’an adalah adanya nilai yang dipedomani dan dijunjung tinggi serta adanya pelaku yang dapat mengemban nilai. Nilai yang dimaksud adalah nilai ilahiyah yang memiliki kebenaran secara mutlak dan mencakup semua dimensi kehidupan. Hambatan utama dalam melakukan perubahan biasanya adalah sikap mental pelaku yang bertahan pada nilai kekinian dan kerutinan demi lestarinya kemapanan.
Pada akhir khutbahnya Warkum Sumitro mengajak semua pihak untuk menanamkan sikap-sikap hijriyah (mau berubah) dengan segala konsekuensinya. Dalam momentum Idulfitri ini, kita dapat melakukan reorientasi komitmen perjuangan kita yang mengedepankan kebenaran dan keberpihakan kepada kaum lemah serta melakukan pembenahan organisasi ke arah yang lebih profesional.
Shalat Idulfitri di Unibraw dipimpin oleh imam Drs HM Sam'un Makmur, dan diikuti segenap warga Unibraw maupun masyarakat sekitar kampus. Hadir dalam kesempatan itu antara lain Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito, Pembantu Rektor II Prof Dr Moch Munir SH, serta para mantan rektor seperti Prof Bambang Guritno, Prof Hasyim Baisoeni, dan Prof  ZA Achmady.
Sementara itu Badan Zakat, Infaq dan Shadaqah (BAZIS) Universitas Brawijaya, pada bulan Ramadan 1427 H yang lalu telah menyalurkan zakat, infaq, dan shadaqah kepada sekitar 400 orang karyawan Unibraw yang berhak menerimanya. Sampai bulan Oktober 2006, BAZIS Unibraw telah menerima dana zakat, infaq, dan shadaqah (ZIS) sebesar Rp 203 juta lebih. Dana ini terkumpul dari unit-unit kerja maupun pribadi-pribadi pejabat di lingkungan Unibraw. [nik]

Unibraw Kirim Ratusan Judul Usulan PKM 2006
19 Oktober 2006
Semiloka pembuatan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan bulan September lalu, ternyata mampu menarik minat ratusan mahasiswa untuk menuangkan ide-ide kreatif mereka dalam bentuk program penelitian.
Sebanyak 241 judul usulan PKM telah diajukan untuk dievaluasi oleh tim dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Demikian penjelasan Kepala Sub Bagian Minat dan Penalaran Bagian Kemahasiswaan Universitas Brawijaya, Drs Rudjito, Rabu 18/10.
PKM merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Misi PKM yaitu mengantarkan mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains dan teknologi serta keimanan yang baik. Sementara itu untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin yang mandiri dan arif, PKM memberi peluang mahasiswa untuk mengimplementasikan kemampuan, keahlian, sikap tanggung jawab, membangun kerjasama tim, maupun mengembangkan kemandirian melalui kegiatan yang kreatif dalam bidang ilmu masing-masing.
Empat jenis kegiatan yang ditawarkan di dalam Program Kreativitas Mahasiswa, yaitu: PKM Penelitian (PKMP) yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berkreasi atau berinovasi melalui penelitian sesuai dengan bidang ilmu masing-masing, baik dalam bentuk mono maupun multi disiplin. PKM Penerapan Teknologi (PKMT) bagi mahasiswa yang ingin berkreasi atau berinovasi melalui penciptaan jasa seperti pembukuan, pemasaran, penataan ruang produksi dan sebagainya atau karya teknologi seperti peralatan, prototipe, model, proses dan sebagainya yang diperlukan oleh kelompok masyarakat produktif, kelom-pok usaha tani, industri kecil, maupun pedagang kecil sesui dengan bidang ilmu masing-masing baik dalam bentuk mono-maupun multi disiplin. PKM Kewirausahaan (PKMK) bagi mahasiswa yang mau berkreasi atau berinovasi melalui penciptaan ketrampilan berwirausaha dan berorientasi pada profit. Serta PKM Pengabdian pada Masyarakat (PKMM) bagi mahasiswa yang ingin berkreasi melalui kegiatan peningkatan kecerdasan, keterampilan, pengetahuan masyarakat, peningkatan kualitas lingkungan hidup, maupun pengembangan kelembagaan masyarakat.
Rudjito menuturkan, judul usulan PKM yang diajukan ke Ditjen Dikti paling banyak adalah PKMP sebanyak 123 judul. Urutan berikutnya adalah PKMM 47 judul, PKMK 41 judul dan PKMT 30 judul. Semua judul proposal berasal dari semua fakultas/program studi di Universitas Brawijaya, meliputi FH (3 judul), FE (4 judul), FIA (16 judul), FP (25 judul), Fapet (25 judul), FT (26 judul), FK (10 judul), Faperik (32 judul), FMIPA (29 judul), FTP (63 judul), dan Prodi Bahasa Sastra (2 judul). Beberapa judul proposal yang diajukan diantaranya “Usaha jasa katering makanan tradisional sebagai pemenuhan kebutuhan makan siang dosen dan karyawan di Universitas Brawijaya” (PKMK-FTP), “Perancangan Modul Keyboard dilengkapi dengan voice processor sebagai alat bantu belajar komputer bagi penyandang cacat tuna-netra” (PKMM-FT), “Pemanfaatan tekno-logi pengolahan limbah lumpur kertas sebagai bahan pakan konvensional ayam pedaging” (PKMP-Fapet), dan “Peman-faatan game komputer sebagai alternatif media pembelajaran matematika pada sub bab trigonometri untuk siswa SMA” (FMIPA-PKMT).
Rudjito menambahkan, pengumuman proposal yang diterima yaitu awal Desember 2006 dan monitoring dan evaluasi (monev) akan dilakukan April 2007. [nik]

Dr Eko Ganis Penguji Program Doktor di Australia
18 Oktober 2006
Universitas Brawijaya kembali mendapatkan kepercayaan internasional di bidang akademik. Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi, Eko Ganis Sukoharsono SE MCom-Hons PhD (41 tahun), dipercaya menjadi penguji program doktor di Graduate Program University of Wollongong, New South Wales, Australia.
Kepercayaan itu tidak demikian saja diperoleh. Proses pengajuan sebagai calon penguji sudah dilakukan sejak April 2006, dan baru 14 September 2006 secara resmi diterima. Sebagai alumni S-3 Universitas Wollongong Australia (1995), Eko Ganis PhD merasa mendapatkan kehormatan menerima kepercayaan ini. Eko Ganis PhD telah beberapa kali memaparkan hasil-hasil risetnya dalam konferensi internasional baik di New York (AS), Manchester (Inggris), maupun di Australia. Karya-karya ilmiahnya dimuat di berbagai jurnal internasional. “Barangkali terbitan dan pemaparan di forum internasional itu menjadi pertimbangan untuk dipilih sebagai penguji internasional untuk program Doktor”, kata Eko Ganis.
Disertasi yang direview oleh Eko Ganis berjudul "The Dynamics of Financial Reporting Practice in An Indonesian Insurance Company: A Reflection of Javanese Views on An Ethical Social Relationship".
Kepercayaan internasional ini semakin menunjukkan, Universitas Brawijaya mempunyai potensi cukup besar untuk mensukseskan visi melewati batas nasional.
Fakultas Ekonomi sebagai fakultas unggulan, khususnya Jurusan Akuntansi, sejak lama telah menyelenggarakan kelas-kelas khusus dengan pengantar bahasa Inggris, dan ini terus dikembangkan sehingga nantinya lulusan fakultas ini siap bersaing di pasar internasional. Tak lama lagi, Fakultas Ekonomi akan membuka kelas internasional. [egs]

Dialog Publik: Malang Olympic Garden
16 Oktober 2006
Pembangunan pusat perbelanjaan dan hotel di sekitar stadion Gajayana menjadi pokok bahasan yang cukup menarik. Perjanjian kerjasama yang awalnya disepakati adalah renovasi stadion Gajayana ternyata melebar dengan pembangunan mall dan hotel. Pemikiran pembangunan Malang Olympic Garden (MOG) bermula dari keberhasilan Arema menjuarai Copa Indonesia tahun 2005, sehingga berhak mewakili Indonesia dalam Liga Champion Asia (LCA) bersama Persipura Jayapura. Tragedi pun terjadi ketika Arema tak bisa berangkat ke LCA dikarenakan beberapa sebab. Di antaranya, kondisi homebase Arema yang tidak memenuhi standar internasional di samping keterlambatan PSSI mendaftar ke panitia.
Oleh sebab ini kemudian Walikota Malang, Peni Suparto, mempunyai pemikiran untuk merenovasi stadion Gajayana. Permasalahan kemudian muncul ketika rencana renovasi ini hanya menjadi alasan belaka untuk memperlancar proyek besar pembangunan MOG. Draft baru tentang persetujuan kerjasama yang diajukan oleh Pemkot melibatkan investor menjadikan jalan cerita berubah. Kontroversi pun terjadi di beberapa kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM), akademisi, dan masyarakat umum. Permasalahan dampak ekologis menjadi faktor utama.
Helmi Teguh Yuwana ST MT, anggota komisi C DPRD Kota Malang mengatakan pengetokan palu keputusan persetujuan perjanjian kerjasama tentang pemanfaatan sebagian tanah di kawasan stadion Gajayana Malang berlangsung sangat cepat. “Kita hanya diberi waktu 10 hari untuk mempelajari draft permohonan persetujuan tersebut,” jelasnya.
Bersama tiga narasumber lain, Helmi berbicara dalam dialog publik “Menguak Kontroversi Malang Olympic Garden” yang diadakan Eksekutif Mahasiswa Unibraw, Senin (16/10) di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya. Narasumber lain yaitu Prof Dr Ir Harnen Sulistyo, Nadjidah SH MHum, dan Ir Agustina Nurul Hidayati MS.
Helmi juga mengatakan, ada beberapa kejanggalan yang terjadi di antaranya pembahasan tidak melibatkan alat kelengkapan dewan, tidak melibatkan tim ahli, langsung paripurna dan masih banyak lagi. Pembangunan MOG menjadikan icon Malang sebagai kota wisata menjadi kabur.
Visi kota
Pakar planologi ITN, Ir Agustina Nurul Hidayati MS, menjelaskan, pembangunan kota harus berawal dari visi kota. Sejak 4 periode pemerintahan silam, telah disepakati visi kota Malang yaitu Tri Bina Cita (Kota Pendidikan, Industri, dan Pariwisata). Pembangunan MOG menurut Nurul berdampak pada visi kota. Selain mengaburkan ikon Kota Malang juga menjadikan visi kota menjadi bertambah, yaitu Malang Kota Belanja.
Jika berdasarkan Perda Nomor 7 tahun 2001 tentang RTRW pembangunan MOG telah melanggar “high controlled zone” atau pengendalian ketat. Kawasan stadion Gajayana dalam Perda tertulis sebagai daerah ruang terbuka hijau. Jika pembangunan tetap dilakukan, maka dampak selanjutnya yang terjadi adalah genangan air di mana-mana karena daerah resapan air berkurang. ”Penumpukan fasilitas perdagangan di sekitar pusat kota menjadikan sebagian masyarakat kurang terlayani terutama bagian selatan dan timur kota,” jelas Nurul.
Selain itu, lulusan ITB ini memaparkan dampak pembangunan dari aspek sosial ekonomi. Masyarakat akan cenderung konsumtif, hasrat masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional pun semakin berkurang, pendapatan masyarakat tradisional semakin berkurang, dan pelanggaran siswa didik pun akan meningkat. Nurul pun menganalisis dari sisi positif yang akan terjadi. Di antaranya penyerapan tenaga kerja, barang yang lebih murah, penambahan PAD dan persaingan perbelanjaan modern akan menguntungkan konsumsi masyarakat.
Lalulintas
Sementara itu, menurut gurubesar teknik sipil Unibraw Prof Dr Ir Harnen Sulistyo, pembangunan MOG akan memunculkan dampak pada lalu lintas. Di Indonesia masalah lalu lintas tidak diperhatikan secara serius. Pembangunan untuk kepentingan bisnis sama sekali meniadakan faktor lalu lintas. Kecelakaan banyak terjadi, kemacetan di pusat-pusat kegiatan menjadi langganan sehari-hari.
Prof Harnen mengatakan, interaksi antara tata ruang kota dengan tranportasi akan terjadi secara alamiah. Kontrol arus lalu lintas menurut pakar jalan raya ini, dapat dilakukan. "Hanya saja, mau atau tidak sistem institusi menjalankannya? Pemerintah kota sebagai pelaksana program, seharusnya lebih telaten melakukan pengaturan ini,” tegasnya. Pembangunan MOG yang diprediksikan harus selesai pada tahun 2007, ternyata Amdal Lalin (analisis mengenai dampak lingkungan lalu lintas) proyek ini masih belum selesai.
Nadjidah, staf penelitian PP Otoda Fakultas Hukum Unibraw memandang bahwa dengan dibangunnya MOG sama artinya dengan merobek jantung kota Malang. Ruang terbuka hijau sebagai kawasan yang sangat penting telah diabaikan keberadaannya bahkan telah ditiadakan. “Ini sama juga dengan bunuh diri ekologis,” ucapnya menggebu-gebu.
Menurut Nadjidah, pembangunan dengan renovasi merupakan dua peristiwa hukum yang berbeda. Pun dari segi implikasinya. Ia mengatakan bahwa perjanjian yang dibuat antara Pemkot Malang dengan PT Mustika Taman Olympic tidak memenuhi ketentuan Pasal 1320 KUH Perdata (syarat sahnya perjanjian). Terutama pada syarat obyektif sehingga akibat hukumnya adalah batal demi hukum.
Syarat obyektif yang dimaksud menurutnya ada dua hal yang dapat memberatkan pembangunan MOG. Pertama, obyek yang diperjanjikan merupakan aset negara yang harus melalui prosedur pengelolaan barang milik negara/daerah sesuai dengan PP No 6 tahun 2006. ”Dalam PP no 6 tahun 2006 tersebut ditunjukann bahwa kerjasama harus melalui tender,” jelasnya.
Kedua, causa yang halal yaitu tempat yang dijadikan tempat pembangunan merupakan tempat yang terlarang dan mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan baik fisik maupun sosial. ”Ini merupakan pelanggaran Perda Nomor 7 Tahun 2001 tentang RTRW,” terang dosen Fakultas Hukum ini. [vty]

Pelatihan Update Data Sistem Informasi Terpadu
16 Oktober 2006
Guna mensosialisasikan dan mengakselerasi pemanfaatan teknologi informasi unit kerja di lingkungan Universitas Brawijaya, Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi (BAPSI) Universitas Brawijaya menyelenggarakan pelatihan selama dua hari (Senin-Selasa, 16-17/10). "Pelatihan Update Data Sistem Informasi Terpadu" ini, dibuka Pembantu Rektor IV Universitas Brawijaya, Prof Dr Umar Nimran MA. Dalam sambutannya, Prof Umar mengatakan, sistem informasi adalah sebuah keniscayaan menuju era teknologi informasi dan otonomi, di mana sangat diperlukan kesiapan data yang cepat, akurat, dan bermanfaat guna mendukung pengambilan keputusan baik di tingkat fakultas maupun rektorat. Lebih lanjut seluruh peserta diimbau agar serius mengikuti pelatihan ini sebagai bekal tugasnya mendatang yang juga menjadi tonggak bagi pengambilan keputusan pimpinan. “Update data sangat terkait dengan pemutakhiran data yang bisa dilakukan per hari, per jam bahkan per detik guna mendukung ketersediaan data bagi pengguna, salah satunya pimpinan”, tuturnya.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh unit kerja di lingkungan Universitas Brawijaya. Hari pertama, diikuti 38 orang dari seluruh fakultas di lingkungan Universitas Brawijaya, sementara hari kedua diikuti 30 orang dari lembaga-lembaga, rektorat, UPT dan unit kerja lain.
Penanggungjawab kegiatan, Mulyaningwati SSos, mengatakan kegiatan ini didukung oleh dana Program Cakupan Perguruan Tinggi (PCPT) SP4 batch II tahun ke-2 yang diperoleh BAPSI Unibraw. Para operator yang dilatih nantinya akan menjadi tim update data di masing-masing unit kerja yang menangani berbagai jenis data seperti data akademis, data keuangan, data kemahasiswaan, data kepegawaian, dll. Menurut instruktur pelatihan ini, Nanang Yudhi Setyawan ST dosen Ilmu Komputer FMIPA Unibraw, berbagai data tersebut akan dimasukkan ke dalam database yang dikelola BAPSI, melalui web (internet).
Sementara itu Kepala BAPSI Dra Siti Romlah menjelaskan, Sistem Informasi Manajemen Perguruan Tinggi (SIM PT) merupakan implementasi kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang memanfaatkan teknologi informasi untuk menangani 9 item. Di antaranya: sistem informasi akademik (SIAKAD), sistem informasi keuangan (SIKEU), sistem informasi ketenagaan (SINAGA), sistem informasi kemahasiswaan (SIMAWA), sistem informasi penelitian dan pengabdian masyarakat (SIPENMAS), dll. Pemanfaatan teknologi informasi ini, menurut Siti Romlah, telah dirintis dua tahun silam, dengan mengadakan sosialisasi dan menyebarkan kuisioner di masing-masing unit kerja. ”Dari hasil kuisioner tersebut, kita mengetahui bahwa sistem informasi berbasis data sangat dibutuhkan”, ungkapnya. Setelah itu, pihaknya menindaklanjuti kuisioner tersebut dengan pengumpulan data dari masing-masing unit kerja guna membuat program database. Dijelaskan lebih lanjut, format database tiap unit kerja memiliki standar dan terpadu pada tingkat universitas sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Selama ini Siti Romlah mengaku tidak memiliki kendala mendasar dalam implementasi sistem informasi selain belum mengenalnya operator pada teknologi komputer yang digunakan, yang harapannya bisa diselesaikan melalui pelatihan kali ini . ”Infrastruktur sudah bagus, komunikasi dengan pihak Kepala Tata Usaha juga lancar”, katanya dalam mentabulasi kendala selama ini yang telah berhasil diselesaikan. [nok]

Unibraw Bangun Kembali Gedung SMA di Klaten
14 Oktober 2006
Bencana gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah akhir bulan Mei lalu menyebabkan sebagian besar bangunan rusak dan roboh. Termasuk rumah, kantor, tempat ibadah, dan sekolah. Klaten, adalah salah satu daerah yang mengalami kerusakan terparah. Beberapa sekolah di daerah ini ambruk, salah satunya adalah SMA Negeri 1 Gantiwarno, Klaten.
Sebagai bentuk dari pengabdian kepada masyarakat dan didorong oleh rasa kemanusiaan, Universitas Brawijaya turut berpartisipasi dalam membangun kembali gedung sekolah yang telah roboh itu.
Proses pembangunan kembali gedung SMA Negeri 1 Gantiwarno, hingga sekarang masih berlangsung. Dipimpin Ir Abdul Hadi Djaelani, Tim Unibraw, Jumat 13 Oktober silam meninjau langsung ke lokasi pembangunan. Bangunan tiga ruang kelas, gudang dan kamar mandi seluas 350 meter persegi itu menghabiskan dana lebih kurang Rp 150 juta, dijadwalkan selesai sepekan mendatang dan siap untuk diresmikan. Dana diperoleh dari sumbangan sivitas akademika Universitas Brawijaya. Menurut koordinator penanggulangan bencana alam Universitas Brawijaya Drs Tjahjanulin Domai MS, pembangunan sekolah merupakan tahap kedua dari bantuan yang telah dilaksanakan. Sebelumnya Universitas Brawijaya telah memberikan bantuan berupa pengiriman tim kesehatan ke Yogyakarta/Klaten.
SMA Negeri 1 Gantiwarno dipilih, sesuai dengan rekomendasi pemerintah Kabupaten Klaten dan hasil survei yang dilakukan oleh tim penanggulangan bencana. [nik]

Evaluasi Penerbitan Mimbar Koran Kampus dan Buka Puasa
14 Oktober 2006
Dalam rangka meningkatkan silaturahmi seluruh unsur yang terlibat dalam penerbitan MIMBAR Koran Kampus Universitas Brawijaya, Hubungan Masyarakat (Humas) Universitas Brawijaya menyelenggarakan acara buka puasa bersama di lobi lantai I gedung Rektorat, Sabtu 14/10. Acara seperti ini rutin dilaksanakan setiap bulan Ramadhan, berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Diawali dengan evaluasi penerbitan MIMBAR selama setahun ke belakang oleh Pemimpin Redaksi Mimbar, Drs Djanalis Djanaid, acara ini diikuti oleh Kepala Humas Farid Atmadiwirya, Kasubag Minat dan Penalaran Bagian Kemahasiswaan, Drs Rudjita, dan seluruh jajaran redaktur MIMBAR, termasuk Mimbar Mahasiswa, serta fungsionaris Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa.
Dalam evaluasinya, Drs Djanalis Djanaid,  berkisah tentang perjalanan Mimbar sebagai sebuah koran kampus yang terbit sejak 1971, dan banyak mengalami pasang surut. Ke depan, menurut Djanalis, Mimbar harus lebih inovatif lagi dalam penampilannya agar lebih digemari pembaca. “Dulu, Mimbar menarik dan digemari pembaca karena menampilkan karikatur-karikatur sebagai ciri khas koran kampus", ujarnya. Djanalis mengingatkan, peran media tidak hanya bergantung pada tulisan yang ada, tetapi juga karikatur yang menyertai tulisan tersebut. Karena karikatur diharapkan bisa menjadi daya tarik bagi pembaca.
Selain itu, menurut Djanalis, Mimbar harus lebih meningkatkan sistem distribusinya sehingga mudah diakses oleh seluruh sivitas akademika. Misalnya, dengan membuat kotak-kotak outlet MIMBAR di tempat-tempat strategis, seperti perpustakaan, ruang kuliah, tempat-tempat parkir, dan lain-lain, sehingga mahasiswa atau siapapun dengan bebas dan mudah dapat memperoleh koran ini.
Djanalis juga menekankan perlunya koordinasi yang baik antara kedua media (Mimbar Koran Kamups dan Mimbar Mahasiswa) yang terbit secara bersama-sama. Koordinasi harus dilakukan agar tema setiap edisi tetap serasi di antara keduanya.
Acara yang berlangsung santai ini ditutup dengan shalat Maghrib berjamaah diteruskan dengan buka puasa bersama. [fjr]

Zakat Infaq Shadaqah On Campus
14 Oktober 2006
Pada tahun 2005 jumlah penduduk miskin tercatat 35,1 juta jiwa atau 15,97 persen dari total penduduk di Indonesia. Angka tersebut terus bertambah pada tahun 2006, mencapai 39,05 juta jiwa atau sekitar 17,75 persen. Padahal melihat potensi Indonesia sebagai negara agraris dan mempunyai lahan pertanian yang luas, angka kemiskinan tersebut semestinya dapat dikurangi.
Aliansi Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ekonomi melalui acara “Zakat Infaq Shadaqah On Campus 1427” Sabtu (14/10) mencoba memandang permasalahan tersebut dari sisi yang berbeda: Sumber dana zakat dapat dijadikan sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan kemiskinan. Acara yang dikemas dalam bentuk seminar ini mengambil tema “Eksistensi Zakat dalam Pengentasan Kemiskinan dan Win Solution bagi Perekonomian Rakyat.”
Menurut Agung Wijayanto, pembicara dalam seminar itu mengatakan, akar kemiskinan berasal dari struktural atau manusia itu sendiri. Penyebabnya, dapat berasal dari kejahatan manusia terhadap alam, ketidakpedulian dan kebakhilan kelompok kaya, sebagian manusia bersikap dzalim, eksploitatis dan menindas sebagian manusia yang lain. Selain itu juga karena konsentrasi kekuatan politik, birokasi dan ekonomi di satu tangan. Terakhir, karena gejolak eksternal seperti bencana alam atau peperangan sehingga orang yang semula kaya berubah menjadi miskin.
Agung dalam makalahnya menyatakan, penyaluran zakat memberikan dampak yang signifikan bagi pengentasan kemiskinan. Ada beberapa persyaratan, di antaranya, jumlah zakat terhimpun harus bernilai besar terhadap APBN, telah dikelola secara profesional, didukung regulasi yang kondusif. Pemerintah pusat dan daerah harus berperan aktif dan bertanggungjawab atas keberhasilan pengelolaan zakat.
Ketentuan berzakat
Menurut ketentuan Islam, orang kaya wajib mengeluarkan zakat dan disunnahkan untuk bersedekah. Sedangkan orang miskin tidak wajib berzakat, tapi dianjurkan untuk berinfaq. Ahmad Jalaluddin MA, pembicara berikutnya mengatakan, mereka yang berzakat kekayaannya akan diganti Allah dengan kekayaan yang lebih dari tahun sebelumnya. Bukan malah sebaliknya. “Belum ada penemuan yang mengatakan bahwa mereka yang terus-menerus berzakat menjadi jatuh miskin. Tapi sebaliknya,” kata alumni Al Azar University di Mesir ini. Ahmad juga mengatakan bahwa urgensi dari berzakat adalah membersihkan, mensucikan dan membuat ketenangan jiwa muzakki (orang yang berzakat). Malah sifat kikir hanya akan menghancurkan harta yang harta yang dia miliki.
Ada dua jenis harta yang harus dikeluarkan zakatnya. Pertama tafsili (terurai) yaitu telah ditentukan dalam Al-Quran yaitu harta emas dan perak, hasil pertanian, peternakan, berdagang dan temuan/rikaz. Kedua ijmali (global) yaitu harta, hasil usaha yang baik/halal dan beberapa dari hadits Nabi. “Harta yang dimaksud harta adalah semua harta yang tidak dipakai atau menganggur wajib dizakati,” terang Ahmad. Ketentuan pengeluaran zakat emas/perak pun sama. Jika emas/perak tersebut dipakai untuk perhiasan maka tidak wajib dizakati.
Berdasarkan fatwa ulama pada Muktamar Internasional I tentang zakat di Kuwait, 30 April 1984, yang terkena zakat di antaranya profesi perusahaan dan kegiatan usaha lain. Maka yang terkena tidak hanya perorangan saja, tapi juga lembaga. Orang yang berhak menerima zakat ada 8 orang di antaranya fuqara, masakin, amilin, muallaf, untuk memerdekakan budak, orang yang berhutang, sabilillah dan ibnu sabil. Menurut Ahmad, muallaf yang dimaksud bukan berarti mereka yang baru saja masuk Islam, tapi juga dapat berarti tokoh atau orang suka mengganggu orang Islam. Pemberian zakat kepada tokoh yang disegani dimaksudkan agar orang tersebut dapat mengajak pengikutnya masuk Islam. Sedangkan memberikan zakat kepada orang yang suka mengganggu orang Islam dimaksudkan agar mereka tidak mengganggu lagi.
Acara seminar sehari ini di Widyaloka Universitas Brawijaya dihadiri oleh mahasiswa, karyawan, dosen, pejabat di lingkungan Unibraw. Aliansi Mahasiswa Pasca Sarjana FE Unibraw ini bertujuan untuk memberikan pencerahan akan arti penting berzakat di Unibraw selain beberapa tujuan yang lain. [vty]

Pengakuan Internasional atas Keilmuan dan Keahlian Prof Djanggan
14 Oktober 2006
Merupakan idaman bagi setiap ilmuwan profesional, mendapatkan pengakuan internasional. Prof Dr dr Djanggan Sargowo SpPD SpJP (K) (59 tahun), memperoleh pengakuan kemampuan di bidang keilmuan dan keahlian oleh dua kelompok yang sangat mapan dalam hal kualifikasi akademik dan profesional di bidang kardiovaskuler (penyakit jantung) adalah kelompok American College of Cardiology (ACC) dan European Society of Cardiology (ESC).
Prof Djanggan Sargowo mengajukan menjadi fellow ACC awal 2006 dan setelah dilakukan penilaian oleh Board of Trustee dari Committee Credentialing and Membership, Prof Djanggan Sargowo diterima menjadi fellow American College of Cardiology sejak 1 September 2006. Dengan demikian Prof Djanggan Sargowo menyandang gelar FACC dan mendapatkan tugas untuk pengembangan ilmiah baik skala nasional maupun internasional serta aktif melakukan penulisan terhadap karya-karyanya baik dalam bentuk buku maupun jurnal ACC. Prof Djanggan Sargowo merupakan pemegang fellow ke-11 dari seluruh dokter spesialis jantung di Indonesia.
Persyaratan yang ditetapkan oleh organisasi itu meliputi menghasilkan karya ilmiah yang telah dipresentasikan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah, aktif pada organisasi baik nasional maupun internasional, pernah menjadi pengurus pada organisasi kardiovaskuler baik nasional maupun internasional, aktif mengikuti kegiatan seminar, simposium, konggres yang dilaksanakan oleh organisasi kardiovaskuler internasional, tercatat sebagai International Society of Cardiology dan organisasi regional Asia Pasific Society of Cardiology minimal 5 tahun, serta mendapatkan rekomendasi dari dua orang fellow senior di negaranya dan satu senior fellow dari negara lain.
Dalam pengajuan aplikasi, Prof Djanggan Sargowo mengirimkan sembilan karya ilmiah untuk dinilai. Yaitu: A Comparative Study Between Two-Month Soy Milk Supplementation and Tibolone Towards Lipid Fractions and Mda In Atherosclerotic Post-Menopause Women, Antihypertensive and Vascular Protective: What Is New? Pleiotropic Effecs Of Antihypertensive Drugs In Protecting Vascular Remodelling: Focus On Ace Inhibitors, F2 Isoprostanes: Indices Of Oxidative Stress In Atherosclerosis, Green Tea Pollyphenols Inhibit Oxidized Ldl-Induced NF-Kb Activation In Huvecs, Level Of Lipoprotein A (Lpa) Of Acute Myocardial Infarction In Saiful Anwar General Hospital, Medical School Brawijaya University Malang, Malondealdehid As Lipid Peroxidase Free Radical In Acute Myocardial Infarction At Saiful Anwar General Hospital Malang, Prevention Of Stroke By Blood Pressure Control, Role Of Cardiovascular Therapy In The Management Of Cardiovascular Continuum-Benefit Of Statin Therapy Beyond Cholesterol Control, Dan A Young Female With Floppy Mitral Valve Syndrome.
Prof Dr dr Djanggan Sargowo SpPD SpJP (K) FACC, adalah dokter lulusan Universitas Gadjah Mada (1974), doktor ilmu kedokteran dari Universitas Airlangga (1996), profesi bidang kardiologi dari Universitas Indonesia (1983), spesialis penyakit dalam dari Universitas Airlangga (1989), saat ini menjabat sebagai gurubesar Fakultas Kedokteran dan saat ini menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana Universitas Brawijaya. [nik]

Buka Puasa dan Doa Bersama Anak-anak Panti Asuhan
13 Oktober 2006
Semenjak tahun 2002, Universitas Brawijaya mempunyai agenda rutin tahunan: buka puasa dan doa bersama anak-anak panti asuhan. Untuk tahun ini, acara digelar hari Jumat (13/10). Sebanyak 70 orang anak dari tujuh panti asuhan hadir memadati lobi lantai I gedung Rektorat Unibraw, tempat berlangsungnya acara. Acara ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Fatimatuz Zahroh dari Panti Asuhan Nurul Abyad. Pada kesempatan itu pula diberikan bantuan dana kepada masing-masing panti asuhan dan anak-anak yang hadir.
Menurut Ir H Chanif Mahdi MS, koordinator pelaksana acara, tujuh panti asuhan yang mendapatkan bantuan, lima di antaranya menjadi "pelanggan tetap". Lima panti asuhan itu berlokasi di sekitar kampus Unibraw, yaitu Panti Asuhan Aisyiyah Dinoyo, Panti Asuhan Sunan Giri Tlogomas, Panti Asuhan Sunan Ampel Sumbersari, Panti Asuhan Siti Hajar Jl Srigading Dalam Malang dan Panti Asuhan Nurul Abyad Jalan Sigura-gura Malang. Sedangkan dua panti asuhan lain yang mendapatkan bantuan adalah Panti Asuhan Al Husna, Landungsari dan Panti Asuhan Al Ikhlas, Janti.
Setiap panti asuhan menerima bantuan dana sebesar Rp 1 juta dari Rektor (Rp 500 ribu untuk panti asuhan, dan Rp 500 ribu sisanya untuk anak-anak yang mengikuti acara tersebut. “Masing-masing anak mendapat Rp 50 ribu,” jelas Chanif. Di samping itu, ada tambahan dana dari fakultas, lembaga, dan perorangan. Dari Dekan FIA Rp 1 juta, dari Dekan FMIPA Rp 1,4 juta, dari Ketua LPM Rp 500 ribu, dan dari Kepala Biro Administrasi Umum Rp 200 ribu.
Selain itu, ada tambahan hadiah bagi mereka yang dapat menjawab pertanyaan pembawa acara. Kontan saja arena itu riuh rendah dengan teriakan anak-anak kecil sambil mengacungkan tangan. “Siapa nama rektor Unibraw,” tanya pembawa acara. Nama Prof Yogi Sugito yang memang baru menjabat rektor beberapa bulan silam, ternyata masih belum familiar di benak anak-anak itu. “Bambang Guritno,” jawab salah seorang anak. “Salah,” teriak pembawa acara. Sampai kemudian ada anak yang menjawab nama Pak Yogi lengkap dengan titelnya. Ada dua orang anak yang berhasil menjawab dua pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara. Masing-masing dari mereka berhak mendapatkan uang sebesar Rp 50.000.
Riuh suara anak-anak tersebut terhenti dengan terdengarnya adzan magrib. Mereka kemudian menyantap hidangan ta’jil dan dilanjutkan dengan shalat maghrib berjamaah di lantai 9 gedung Rektorat. Acara kemudian diakhiri dengan ramah tamah dan buka bersama. [vty]

Lokakarya Peningkatan Kualitas Kepemimpinan di Fapet
12 Oktober 2006
Sebagai salah satu implementasi dari upaya peningkatan kinerja jurusan melalui program SP4 (Sistem Perencanaan, Penyusunan Program dan Penganggaran), Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Brawijaya menyelenggarakan Lokakarya Peningkatan Kualitas Kepemimpinan. Tema lokakarya adalah “Pola Kepemimpinan di Perguruan Tinggi Ditinjau dari Segi Aspek Internal (Hati Nurani)”. Acara digelar di ruang pertemuan Fakultas Peternakan, Kamis (12/10). Ketua Program SP4 Jurusan Produksi Ternak, Ir Sarwiyono MAgrSt berharap pembekalan melalui lokakarya ini dapat meningkatkan jiwa kepemimpinan personel di Jurusan Produksi Ternak khususnya, dan Fakultas Peternakan pada umumnya . Sebagai narasumber dalam lokakarya tersebut Drs. Djanalis Djanaid, Ketua Unit Korpri Universitas Brawijaya yang juga dosen FIA Unibraw, dan instruktur dalam berbagai pelatihan kepemimpinan dan kewirausahaan, baik di dalam maupun luar negeri.
Dalam presentasinya, Djanalis Djanaid menyampaikan konsep dan teknik dalam “Kepemimpinan Berlandaskan Hati Nurani”. Dimulai dari proses pemilihan pemimpin, ia menyarankan kepada para calon pemimpin untuk menguasai politik di samping juga teknik marketing guna memperkuat posisi seseorang dalam pencalonan. Secara khusus, ia meminta agar setiap calon pemimpin memiliki karakter khusus guna mencitrakan dirinya secara proporsional disamping penegakan nilai-nilai moderat (nilai-nilai kearifan) sehingga dalam kancah perpolitikan ia bisa diterima semua pihak, baik dari golongannya maupun dari masyarakat umum di luar golongannya.
Dalam hal ini, secara khusus Djanalis mencontohkan karakter moderat yang dimiliki Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, ia juga mencontohkan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad yang menurut pria kelahiran Bukittinggi 63 tahun silam ini mampu memimpin negeri para mullah tersebut dengan prinsip-prinsip yang masih ternilai moderat.
Lebih lanjut, Djanalis juga mementingkan perlunya para calon pemimpin tersebut untuk memiliki jiwa besar sehingga mampu merangkul semua pihak serta legowo menerima kekalahan jikalau dalam sebuah pemilihan setiap calon pemimpin tersebut kalah. “Semua teknik untuk menjadi pemimpin dan sukses dalam memimpin bisa dipelajari, jadi tidak perlu pergi ke dukun”, gurau Djanalis yang disambut gelak tawa 40 peserta yang memenuhi ruang pertemuan.
Selain lokakarya kepemimpinan yang diselenggarakan hari ini, program SP4 juga diimplementasikan dalam studi banding ke beberapa institusi besar seperti IPB dan UGM, seminar Bahasa Inggris, lokakarya tematik dengan beberapa pakar yang kompeten dibidangnya, dll sehingga diungkap oleh Sarwiyono akan mampu meningkatkan kualitas keberadaan Jurusan Produksi Ternak dimulai dari perbaikan pola pikir para personel yang membantu didalamnya. “Salah satunya melalui dukungan program SP4, Jurusan Produksi Ternak mendapatkan akreditasi A”, kata Sarwiyono yang sempat pula membocorkan obsesinya untuk melangkah ke program A3 dan ISO. [nok]

Pelatihan Pengembangan Kepribadian dan Pelayanan Prima
11-12 Oktober 2006
Dalam rangka penguatan kegiatan penelitian di lingkungan Universitas Brawijaya, Lembaga Penelitian Unibraw menyelenggarakan pelatihan selama dua hari.
Pelatihan di lantai III Gedung Lembaga ini diikuti oleh seluruh pimpinan dan staf Lembaga Penelitian (Lemlit), Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM), dan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Brawijaya, sekitar 30 orang.
Pada hari pertama, Rabu 11/10, diberikan pelatihan “Pengembangan Ke-pribadian dan Memahami Karakteristik Stakeholder”. Sedangkan pelatihan dan sosialisasi “Pelayanan Prima” diberikan pada hari kedua, Kamis 12/10.
Kedua pelatihan itu merupakan kerja sama Lemlit Unibraw dengan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Lemlit Unibraw Prof Dr Ir Syamsulbahri MS, menghadirkan pemateri Dra Psi Dwita Falverry MM dari JPC Training and Consultancy.
Menurut salah seorang peserta Dra Susantinah Rahayu, seorang pelayan masyarakat harus memberikan pelayanan yang terbaik bagi seluruh stakeholder. Pelayanan harus diberikan secara sopan, sungguh-sungguh, ramah, hormat dan berpikir positif terhadap semua tamu yang datang. Selain itu juga ditunjang oleh penampilan yang prima seperti misalnya menggunakan pakaian yang rapi dan serasi, menggunakan sepatu yang sopan, dan bermake up bagi perempuan.
Setelah pelatihan ini, menurut  rencana juga akan diselenggarakan pelatihan mengenai sistem informasi manajemen bagi staf lembaga. [nik]

Lokakarya Pengembangan Kurikulum
11 Oktober 2006
Kualitas lulusan menjadi penentu utama keberlangsungan hidup suatu perguruan tinggi. Perguruan tinggi dikatakan berkualitas apabila telah mampu menghasilkan lulusan yang memenuhi kompetensi. Bila sebuah perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang banyak menganggur maka perguruan tinggi itu lambat laun akan ditinggalkan oleh masyarakat. Kalaupun laku tetapi kualitas mahasiswa barunya rendah, maka kualitas lulusannnya bisa jadi juga rendah. Bagaimana agar mampu menghasilkan output yang berkualitas sekaligus efisien, diperlukan berbagai pengembangan dan salah satunya adalah pengembangan kurikulum.
Hal ini disampaikan Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito pada pembukaan Lokakarya Pengembangan Kurikulum Program Studi dan Peningkatan Kualitas Layanan Data Akademik, Rabu 11/10, di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya.
Lebih lanjut rektor menyampaikan, sebuah perguruan tinggi bisa tutup bila tidak bisa menjaga kualitas yang dimiliki antara lain seperti mahasiswa, tenaga pengajar, tenaga administrasi, sarana prasarana dan program studi. Rektor sangat mengharapkan peran ketua juruan dan ketua program studi untuk melakukan sosialisasi mengenai pengembangan kurikulum kepada para dosen. ”Hal ini sangat sulit dilakukan ketika ingin berkembang adalah merubah pola pikir. Di tingkat para dosen, sebagian besar masih menganut pola tatap muka (teacher center). Padahal salah satu yang berpengaruh dalam menghasilkan anak didik berkualitas adalah mengurangi tatap muka dan memperbanyak tugas-tugas yang diberikan. Dosen hendaknya hanya sebagai fasilitator dan bertindak sebagai mentor. Dengan memberikan banyak tugas kepada anak didik, secara langsung melatih kemandirian mereka,” tegas rektor.
Paradigma Baru Kurikulum
Dalam presentasi berjudul Paradigma Baru Kurikulum Perguruan Tinggi, Rektor menyebut beberapa faktor penghambat pengembangan kurikulum. Faktor penghambat itu meliputi: kelambatan dalam mengambil keputusan, kurang berani melakukan perubahan, kurangnya sarana prasarana, rendahnya kualitas mahasiswa baru dan dosen, komitmen yang rendah dari pimpinan universitas, fakultas, jurusan, atau pimpinan program studi, serta kepentingan pribadi dosen atau pimpinan yang terlalu dominan.
Rektor selanjutnya mengungkapkan berbagai strategi yang dapat dilakukan untuk pengembangan yaitu menjalin kerjasama dengan instansi lain terutama dalam penggunaan laboratorium dan dosen. Strategi berikutnya adalah pembuatan kurikulum yang efisien dengan mengurangi jumlah mata kuliah untuk mengurangi beban dosen dan penggunaan ruang kuliah. Rektor menuturkan, masyarakat sesungguhnya tidak membutuhkan sarjana yang memiliki spesialisasi. Sebagai contoh seorang sarjana pertanian seharusnya mengerti tentang bagaimana mengelola tanah, cara memberantas hama, ataupun mengembangkan varietas tanaman baru secara satu kesatuan dan tidak terspesialisasi sebagaimana yang berlaku saat ini. Penggunaan laboratorium bersama terutama bagi riset dosen serta menggalang donatur dari masyarakat baik dalam dan luar negeri juga merupakan strategi yang bisa ditempuh. Strategi yang juga perlu dilakukan adalah mengembangkan unit-unit bisnis, mengembangkan program studi yang favorit serta mengembangkan program double degree dengan sponsor dari pihak luar. Kesemua strategi itu dapat dilakukan apabila dana dari pemerintah dan masyarakat dirasakan kurang.
Pelaksanaan program pengembangan kurikulum dan proses belajar mengajar (PBM) di Universitas Brawijaya sendiri menurut rektor, terdiri dari lima hal yaitu penerapan KBK dan muatan nasional serta muatan universitas menuju sarjana yang berkualitas, perubahan kurikulum menjadi lebih efisien dengan cara mengurangi jumlah mata kuliah dan menghilangkan mata kuliah yang kurang relevan, penerapan PBM yang mengacu pada problem based learning (PBL) dan student centered learning (SCL), pembukaan kelas bahasa Inggris seperti yang telah dilakukan Fakultas Kedokteran serta pengembangan soft skills bagi mahasiswa dan dosen.
Lokakarya yang diselenggarakan oleh Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan ini berlangsung selama 3 hari 11-13 Oktober 2006, diikuti oleh para dekan, pembantu dekan I, ketua jurusan, serta ketua program studi. Berbagai strategi diulas, meliputi KBK, PBL dan SCL, kurikulum yang efisien, pembelajaran dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, mata kuliah nasional dan muatan universitas, komputerisasi dan sistem informasi akademik sebagai penunjang program kerja rektor dan pengembangan SIAKAD. Dalam lokakarya para peserta diberi kesempatan untuk berdiskusi dan melemparkan gagasan-gagasan cerdas dalam rangka menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hadir sebagai pemateri diantaranya yaitu Prof Dr Ir Yogi Sugito, Prof Dr Ir Hendrawan Soetanto MRurSc, Prof Dr Ir Darsono Wisadirana MS, Prof Dr Ir A Latief Abadi MS, Dr Bagyo Yanuwiadi, Dra Sri Endah Tabiati MEd, dan dr Retty Ratnawati MSc. [nik]

Peringatan Nuzulul Qur’an di Unibraw
9 Oktober 2006
Dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an, Universitas Brawijaya mengadakan ceramah agama seusai shalat tarawih di Masjid Raden Patah, Senin 9/10. Ceramah diberikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof. Dr. Imam Suprayogo.
Hadir dalam kesempatan tersebut Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Yogi Sugito dan istri, pimpinan fakultas dan lembaga, pejabat di lingkungan Pemkot Malang dan Pemkab Malang, serta perwakilan dari seluruh universitas baik negeri maupun swasta se-Malang Raya.
Dalam ceramahnya, Prof. Dr. Imam Suprayogo mengemukakan adanya fenomena baru keagamaan masa kini, dari ekslusif menuju ke inklusif. “Jika dulu agama menjadi urusan NU, Muhammadiyah, ataupun partai-partai Islam, maka sekarang permasalahan agama menjadi urusan semua orang”, tuturnya. Lebih spesifik lagi, selaras dengan tema memperingati Nuzulul Qur’an, ia mengangkat fenomena ketertarikan generasi muda Islam terhadap Al Qur’an. Ia gembira dan bangga, generasi muda saat ini mencintai kitab suci Al Qur’an, mulai dari sekedar membawa Al Qur’an kecil dalam tasnya, membacanya dengan indah, menghafalnya, bahkan menterjemahkan dan menafsirkannya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di seantero belahan dunia. Prof Imam Suprayogo menjumpai fenomena yang sama di tempat yang pernah ia kunjungi, seperti di Qom (Iran). “Di Qom, gerakan mencintai Al Qur’an telah dimulai sejak usia 1-2 tahun”, kisahnya. Ia maklum, anak-anak lebih mudah menghafal daripada orang dewasa, karena pikirannya relatif masih bersih. “Sehingga tidak heran jika dalam usia 9 tahun, putra Dr. Ahmad Thabathaba’i di Iran, mendapatkan gelar doktor honoris causa karena hafal Al Qur’an”, tutur doktor sosial politik lulusan Universitas Airlangga ini.
Secara khusus ia mengatakan kebanggaannya terhadap gejala untuk dekat dengan Al Qur’an yang semakin meluas yang dibuktikan dengan semakin bertambahnya jumlah mahasiswa hafal Qur’an di universitas yang dipimpinnya.
Lebih lanjut Prof Imam Suprayogo mengungkapkan, universalitas nilai-nilai dalam Al Qur’an dimulai dari konsep ketuhanan, penciptaan manusia dan jagad raya, keselamatan dunia dan akhirat, konsep tentang ihsan, amal shaleh, akhlakul karimah, dll. Hal ini, menurutnya, kontradiktif dengan metodologi dan cakupan studi Islam yang hanya berkutat pada fiqih, tauhid, akhlak, bahasa Arab, ushuluddin, tarbiyah, syari’ah, adab dan dakwah. Menindaklanjuti hal ini, Prof Imam Suprayogo memaparkan strategi pengembangan institusi yang dipimpinnya untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dalam semua bidang, seperti sains, teknologi, dll.
Sebagai “huda lin naas” (petunjuk bagi seluruh umat manusia), demikian Prof Imam Suprayogo, Al Qur’an memuat banyak inspirasi yang menarik, sebagaimana nama berbagai surat dalam Al Qur’an, mulai dari Al Fatihah (Pembuka), Al Baqarah (Sapi Betina), Ali Imran (Keluarga Harmonis), An Nisa (Wanita Shalihah), bahkan juga sampai pada Al Hadiid (besi). Menurut Prof Imam Suprayogo, "masih sangat banyak yang belum dikaji secara optimal". [nok]

Unibraw Peringkat II Lomba Karya Tulis Lingkungan Hidup Nasional
9 Oktober 2006
Dua dari enam karya tulis bidang lingkungan hidup mahasiswa Universitas Brawijaya, yang lolos ke babak final Lomba Karya Tulis Mahasiswa Bidang Lingkungan Hidup tingkat nasional, berhasil menempati peringkat kedua nasional. Tim Universitas Brawijaya meraih medali emas untuk bidang sosial ekonomi dan budaya kesehatan, dan medali perunggu untuk bidang biofisika dan kimia.
Posisi pertama berhasil diraih oleh Institut Pertanian Bogor dengan perolehan masing-masing satu emas, perak dan perungggu, sementara posisi ketiga diraih oleh Institut Teknologi Bandung dengan perolehan satu emas.
Presentasi karya tulis lingkungan hidup ini berlangsung di Yogyakarta 6-8 Oktober 2006.
Kasubbag Minat dan Penalaran Drs. Rudjito menuturkan, total usulan karya tulis tingkat nasional itu sebanyak 365 judul yang terdiri dari 308 judul berasal dari 32 PTN dan 57 judul dari 31 PTS. Setelah melalui proses seleksi terdapat 14 finalis yang kesemuanya dari PTN. Tiga bidang yang dipertandingkan dalam LKTM LH meliputi biofisik dan kimia, biotis, serta sosek dan budaya kesehatan. LKTM bidang lingkungan hidup merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Dewan juri terdiri dari Dr Ir Hj Illah Sailah MS (IPB), Dra Ina R Mariani MA (UI), Dr Ir Nastiti Siswi Indrasti (IPB), Dr Ir H Hatta Dahlan MEng (Unsri), Prof Sudharto P Hadi MES PhD (Undip), Harry Supriyono SH MSi (UGM), Dr Ir Betsi Sihombing MSi (UNJ), Dr EKS Harini (IPB) dan Ir Arif Sufyandi Dipl H MT PhD (Unpad).
Karya tulis Universitas Brawijaya yang meraih medali emas adalah ”Rekonstruksi Etika Bisnis Perusahaan dalam Mewujudkan Corporate Social and Environtmental Social Responsibility" karya Fanny Widadie mahasiswa Fakultas Pertanian dengan pembimbing Dr Ir Kliwon Hidayat MS, dan medali perunggu diraih oleh Prima Kharisma, mahasiswa MIPA dengan pembimbing Drs Warsito MS dalam judul ”Pemanfaatan Glukosa Hasil Biokonversi Limbah Klobot Jagung dalam Sel Elektrokimia Biofuel sebagai Salah Satu Sumber Energi Alternatif”. [nik]

Biang Macet dan Banjir, Matos Digugat
Senin, 09 Okt 2006
MALANG - Keberadaan Malang Town Square (Matos) di kawasan pendidikan kembali digugat masyarakat. Sebab, sejak berdirinya Matos dua tahun lalu, kawasan di Jl Veteran tersebut selalu digenangi air ketika musim penghujan. Selain itu, akibat keberadaan Matos di kawasan tersebut juga menimbulkan kemacetan dan keruwetan lalu lintas.
Koordinator Pusat Pengembangan Otonomi Daerah (PP Otoda) Universitas Brawijaya Kota Malang Ibnu Tri Cahyo mengatakan, dampak akan adanya banjir dan kemacetan tersebut sudah diprediksi sejak Matos belum dibangun. Karena itu, akademisi dan beberapa elemen masyarakat menentang upaya pembangunan Matos saat itu.
"Saat itu, kami sudah mengingatkan. Namun, masyarakat tidak bisa berbuat- apa-apa untuk menentang, karena masyarakat yang menentang saat itu dihadapkan kepada preman-preman," terang Ibnu.
Penentangan masyarakat saat itu disebabkan beberapa hal. Di antaranya karena kawasan tersebut berada di kawasan pendidikan, lahan yang digunakan untuk berdirinya Matos adalah lahan yang digunakan untuk peresapan, dan amdal yang digunakan matos diindikasikan tidak beres.
"Terbukti sekarang. Jika amdalnya beres, tentu tidak akan ada banjir, demikian pula dengan amdal transportasinya, jika beres tentu tidak akan ada kemacetan seperti yang dijanjikan dulu," sambungnya.
Karena itu, ia menyarankan agar Pemkot Malang segera mengambil langkah-langkah untuk melakukan evaluasi untuk mencegah kemacetan. Misalnya dengan tidak memperpanjang izin gangguan (HO) untuk objek-objek di kompleks Matos yang menyebabkan ledakan pengunjung. Jika yang menyebabkan ledakan pengunjung adalah bioskopnya, maka bioskopnya yang dilarang beroperasi.
Atau bisa juga dengan cara membatasi jam buka usaha toko-toko yang ada di Matos. "Artinya, objek yang ada di Matos tersebut dilarang buka secara bersamaan. Ini harus dilakukan agar keberaaan Matos tidak memperparah gangguannya kepada masyarakat Kota Malang dan sekitarnya," terang Ibnu.
Sedangkan mengenai persoalan banjir yang disebabkan Matos, Ibnu menjelaskan bahwa persoalan banjir di Jl Veteran tersebut sudah parah dan tidak mungkin bisa diselesaikan. Ini disebabkan karena amdal yang dipunyai Matos tersebut diduga tidak benar dan memalsu data. "Karenanya, penyebab banjir yakni pembuat amdal yang memalsu data ini bisa dipidana," tutur dosen Fakultas Hukum Unibraw tersebut.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Tulus Wahjuono, tim advokat Malang Corruption Watch (MCW). Persoalan banjir dan kemacetan tersebut sudah diduga sebelumnya. Sayangnya, saat itu, pemkot ngotot pada pendiriannya dengan memberikan izin berdirinya Matos di kawasan pendidikan dan peresapan. "Karenanya, Pemkot Malang harus bertanggungjawab dalam kasus ini," lanjut Tulus.
Ia mengatakan, ia bersama elemen masyarakat lainnya terus melakukan perlawanan terhadap Matos. Salah saunya adalah menyampaikan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negeri. "Gugatan kami dimenangkan dalam perkara pembatalan hak guna bangunan (HGB). Namun, dalam pengadilan tinggi di Surabaya, kami dikalahkan dengan alasan formalitasnya belum memenuhi. Tapi, secara subtansi, gugatan kami benar," jelas dia.
Untuk saat ini, perkara gugatan Matos tersebut masih dalam kasasi. Namun, Tulus yakin, ia akan memenangkan kasus tersebut karena secara subtansi dan peraturan perundang-undangan, apa yang dilakukan Matos dan pemkot tersebut melanggar peraturan perundang-undangan. "Saya yakin akan menang di kasasi," yakinnya.
Apabila kasasi dimenangkan oleh pihaknya, maka semua sertifikat yang berhubungan dengan pendirian Matos harus dibatalkan. Dan sesuai dengan aturan hukum, maka bangunan Matos tersebut harus dibongkar. Dan pihak yang bertanggungjawab atas pembongkaran Matos tersebut adalah pemkot. Termasuk juga dalam memberikan ganti rugi biaya pembuatan Matos kepada investor.
Kalaupun tidak dibongkar, maka bangunan tersebut tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk pusat perbelanjaan. Tapi, bisa dialihkan untuk kepentingan pendidikan dan lingkungan sesuai dengan pemanfaatan semula. (fir)
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=140661&c=88

Peringatan Ulang Tahun IAAS UB
7 Oktober 2006
Puluhan aktivis International Association of Agricultural Students (IAAS) pada Sabtu sore (7/10) berkumpul di ruang pertemuan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dalam kesempatan tersebut, bergabung dengan aktivis UKM lain dan alumninya, mereka mengikuti kegiatan buka bersama dalam rangka peringatan ulang tahun kedua UKM yang banyak berinteraksi dengan sesama rekannya dari seantero dunia ini.
Ketua Umum IAAS, Fandi Aris Rahman (mahasiswa THT FPt UB angkatan 2002) menjelaskan, usia dua tahun itu dihitung dari saat pendeklarasian IAAS menjadi UKM di tingkat universitas. Sebelumnya, sejak 1996 IAAS masih berada di tingkat fakultas. Hadir dalam acara tersebut adalah beberapa alumni IAAS di antaranya Stefan K Priawan (mantan Vice President IAAS World, Dede Suparjo (Presiden EM UB), perwakilan DPM dan perwakilan beberapa UKM lainnya. Lebih lanjut dijelaskan Fandi, ajang ini merupakan sarana sosialisasi bagi keberadaan IAAS dan kiprahnya di tengah-tengah mahasiswa dan masyarakat.
Salah satu agenda IAAS setiap tahunnya yang menarik bagi mahasiswa adalah international exchange program (pertukaran pelajar internasional). Dijelaskan oleh Adib Firman Hidayat (mahasiswa THP FTP angkatan 2005), ketua Divisi Exchange Programme IAAS LC UB, kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun oleh aktivis IAAS dari seluruh dunia. ”Jika tahun sebelumnya, ada 2 mahasiswa dari Austria yang mengikuti EP di Malang, maka untuk tahun ini ada seorang mahasiswa dari Slovenia”, katanya.
Di salah satu gazebo di kompleks UKM Unibraw, Adib memperkenalkan mahasiswa asing peserta exchange programme asal Slovenia, yang hadir dalam acara itu. Dia adalah Janko Skok. Pria yang dilahirkan 26 tahun silam ini adalah mahasiswa jurusan agronomi, Fakultas Pertanian University of Maribor, Slovenia. Menurut rencana, Janko demikian ia biasa dipanggil, akan tinggal di Indonesia sampai Desember 2006. Menurut laki-laki berkacamata ini, waktu kurang lebih dua bulan tersebut akan ia manfaatkan untuk magang di Soerjanto Orchid Batu dan selebihnya akan dihabiskan untuk berjalan-jalan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) bersama pacarnya yang menurut rencana akan menyusul pada November nanti.
Janko yang mengaku perjalanannya ke Indonesia ini merupakan kali pertama perjalanannya keluar Eropa, menyatakan kegembiraannya dapat berkunjung ke Indonesia. Diceritakannya, pertama kali ia menginjakkan kaki di Bali, ia kagum dengan keindahan panorama di Pulau Dewata ini. ”Saya pasti akan mengunjungi tempat ini nanti”, ucapnya. Setelah itu, dalam perjalanannya dari Bali menuju Malang, ia sempat menemui kerusakan hutan yang menurutnya parah di sepanjang perjalanan tersebut. ”Di Eropa, hutan sangat dilindungi dan dilestarikan, sangat berbeda dengan disini, saya kaget sekali”, ungkapnya dalam membandingkan upaya konservasi antara kenyataan yang ditemuinya di Indonesia dengan benua asalnya.
Kontrak magang selama dua bulan yang diikuti Janko akan dilakukan sepenuhnya di Soerjanto Orchid Batu milik Bapak Novianto. Menurut Adib, Soerjanto Orchid selalu menjadi langganan mahasiswa peserta EP setiap tahunnya. Jika sebelumnya mahasiswa Austria yang menggeluti bidang biokonservasi berkesempatan magang di Bromo, maka untuk Janko yang menggeluti Agronomi, konsentrasi magang hanya di tempat pembudidayaan anggrek tersebut.
Ketika ditanya mengapa ia memilih Indonesia? Janko menjawab tertarik dengan keindahan alam di Indonesia disamping keanekaragaman hayati yang ada didalamnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, secara khusus ia memilih anggrek karena merupakan bunga yang keindahannya eksotis dan juga telah marak pembudidayaannya di Eropa. Dalam magang, Janko akan melakukan berbagai kegiatan dalam pembudidayaan anggrek mulai dari persiapan medium, pembibitan, subkultur, aklimatisasi, perawatan sampai pada pemasaran. ”Menurut literatur yang pernah saya baca, kira-kira membutuhkan waktu satu tahun mulai dari penanaman sampai bunganya mekar”, kata Janko. ”Saya yakin akan mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman praktis melalui kegiatan magang ini”, ungkapnya. [nok]

Diklat Kewirausahaan Muslim
7 Oktober 2006
Fakta rendahnya kesempatan kerja yang berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran intelektual di Indonesia menuntut para generasi mudanya untuk kreatif dalam menciptakan lapangan pekerjaan baru melalui wirausaha. Dengan latar belakang ini, Unit Aktivitas Kerohanian Islam (UAKI) Universitas Brawijaya menyelenggarakan “National Moslem Entrepreneurship Training”. Kegiatan diselenggarakan di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Sabtu 7/10, diikuti oleh 150 orang peserta yang berasal dari LDK (lembaga dakwah kampus) se-Malang Raya, remaja masjid, mahasiswa, dan umum.
Ketua pelaksana, Rizky Indragiri, mahasiswa Teknik Mesin Unibraw angkatan 2005, mengatakan kegiatan ini terutama untuk memotivasi dan menstimulasi jiwa entrepreneur generasi muda, khususnya mahasiswa.
Untuk itu, UAKI Unibraw mengundang pihak-pihak yang berkompeten sebagai pemateri, mulai dari akademisi dan konsultan, Drs. Djanalis Djanaid dan timnya dari lembaga training Indopurels, assosiasi pengusaha yaitu JPMI (Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia), praktisi yaitu Ate Rushendi, pemilik depot bubur ayam “Abah Odil”, dan lembaga permodalan BMT (baitul mal wat tanwil).
Dalam kajian “Orientasi Kewirausahaan”, Drs. Djanalis Djanaid memaparkan mengenai seluk-beluk menjadi seorang wirausaha. Mulai dari perencanaan bisnis, pemasaran praktis, teknik negosiasi, perilaku wirausaha, manajemen konflik dan manajemen hati nurani, hingga teknik marketing.
“Untuk dapat menjadi pengusaha yang sukses, diperlukan pemilihan bidang usaha yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan pasar”, ungkap Djanalis dalam presentasinya yang sesekali disambut gelak tawa audiens dengan teknik penyampaiannya yang segar.
Sementara itu, Ate Rushendi, pemilik depot bubur ayam “Abah Odil” yang juga anggota dari JPMI dalam presentasinya menyampaikan materi “Bangkit dari Keterpurukan Berkat Bubur Ayam”. “Abah Odil” yang berarti ayah si Odil (putra Ate Rushendi) merupakan buah dari perjuangan selama beberapa tahun, dimulai dari nol, setelah perusahaan tekstil tempatnya bekerja selama ini bangkrut. Bisnis bubur ayam yang dimulai dari gerobak PKL itu kini maju pesat dengan berhasil membuka beberapa cabang di kota Malang. [nok]

Talk Show: Ramadhan dari Segi Medis
5 Oktober 2006
Ratusan mahasiswa baru angkatan 2006, Kamis (5/10) mengikuti acara “Ramadhan Ceria Bersama Mentoring” di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya. Kegiatan religius ilmiah ini dibuka oleh Pembantu Rektor III Drs Tjahjanulin Domai MS. Dalam kesempatan itu Dr dr M Rasjad Indra MS dari Laboratorium Faal FK Unibraw membawakan topik “Puasa Ditinjau dari Segi Medis”.
Berangkat dari pengamatan dan penelitiannya selama ini, Dr Rasjad Indra mengatakan, peradaban manusia pada saat ini justru berakibat buruk bagi kehidupan manusia sendiri. Kemudahan manusia modern dalam mencari makan, berakibat fatal bagi dirinya. Berbagai penyakit  ber-awal dari makanan. Satu di antaranya adalah obesitas.
Di jaman batu, manusia harus mencari makan di hutan. Pada era pertanian, untuk makan, manusia harus bercocok tanam terlebih dahulu. “Sekarang, kita tinggal angkat telepon sambil tiduran, makanan siap saji sudah datang di hadapan kita”, ungkapnya.
Beberapa waktu yang lalu Dr Rasjad Indra melakukan penelitian secara garis besar (kuantum), mengenai puasa dari aspek antropologis sampai aspek molekulernya,  melibatkan 16 mahasiswa baik muslim maupun non muslim, dan sukarelawan sampel penelitian dari santri Pondok Pesantren Ar-Rahman (usia muda), jamaah haji Indonesia (usia tua) serta masyarakat Mondoroko (Singosari) dan di sekitar tempat tinggalnya, Batu. Dari berbagai penelitian mengenai puasa itu, ia berhasil membuktikan secara ilmiah dampak positif puasa bagi kesehatan manusia.
Permasalahan pertama menyangkut makanan, yaitu obesitas. Menurut Dr Rasjad Indra, obesitas merupakan “starting point” bagi berbagai penyakit seperti jantung dan diabetes mellitus (DM) yang merupakan jenis gangguan/ketidaknormalan sel tubuh manusia yang terinduksi dari pola makan yang tidak sehat. Dengan berbagai paramater medis, akhirnya diketahui pada individu yang mengalami kelebihan berat badan, dengan puasa, kelebihan tersebut menga-rah ke normal, sedangkan yang kelebihan berat badan sangat tinggi  bisa agak turun tetapi tidak sampai pada normal. “Ini mengisyaratkan anjuran untuk menjalankan puasa bukan hanya pada bulan Ramadan saja selama tiga puluh hari, tetapi lebih dari itu, bisa dilanjutkan dengan berbagai puasa sunnah yang dilaksanakan setelah bulan Ramadan, seperti puasa Daud dan puasa Senin Kamis”, ungkapnya.
Selain itu, Dr Rasjad Indra juga membimbing seorang mahasiswa nonmuslim yang tertarik mengungkap puasa Rama-dan. Diawali dialog dengan mahasiswa tersebut, ia merespon ketertarikan si mahasiswa melakukan pengamatan puasa dengan hipotesa dari literatur yang dibacanya bahwa puasa Ramadan me-ningkatkan asam urat. “Tetapi dari hasil pengamatan dengan berbagai parameter medis dan biokimiawi ternyata asam urat malah turun”, ungkapnya. Setelah itu, beberapa mahasiswa lain tertarik meneliti  “Efek Meditasi terhadap Metabolisme Tubuh Manusia”. Bersama mahasiswa nonmuslim pula, Dr Rasjad Indra meneliti efek puasa terhadap LDR (trigliserin), sejenis lemak darah yang menyebabkan penyakit jantung. Dari hasil penelitian diketahui bahwa dengan puasa, LDR dapat turun untuk yang berkadar tinggi, kemudian LDR tetap untuk yang berkadar normal dan LDR tidak menurun untuk yang berkadar rendah.
Dalam talk show selepas ceramah muncul beberapa pertanyaan tentang pengaruh puasa bagi gastritis (maag), pengaruh puasa terhadap kecerdasan serta sejauh mana puasa dapat meminimalisir penyakit yang disebabkan pola makan seperti DM dan jantung.
Menjawab berbagai pertanyaan itu, Dr. Rasjad Indra menggunakan pendekatan analisis medis dan ilmiah. Mengenai gastritis, Dr Rasjad Indra membedakan menjadi dua, yaitu gastritis karena faktor jiwa dan saraf serta gastritis karena infeksi. “Cara membedakan keduanya bisa dilakukan dengan uji laboratorium yang dilakukan dengan pemeriksaan gastrokopi”, jawabnya.
Melalui puasa yang dijalankan dengan hati yang tenang dan ikhlas tentu dapat menjadi terapi bagi jenis gastritis yang pertama tetapi untuk jenis yang kedua menurutnya dibutuhkan pengobatan intensif dan dengan puasa saja menurutnya tidak akan efektif.
Menanggapi pertanyaan pengaruh puasa terhadap kecerdasan otak, Dr. Rasjad Indra memberikan “bocoran” penelitian yang saat ini sedang dilakukannya, tentang keberadaan reseptor insulin pada otak manusia. “Insulin adalah hormon yang berperan dalam penyimpanan kelebihan makanan”, terangnya. Lebih lanjut dikatakan, otak merupakan bagian sel dalam tubuh manusia yang tidak membutuhkan insulin.
Menurut Dr Rasjad Indra, meski tidak butuh insulin, otak ternyata memiliki reseptor insulin untuk mengatur glukosa yang dibakar dan menjadi insulin. “Ini berhubungan dengan memori di otak”, katanya. Bagi orang yang berpuasa, kadar glukosa darahnya rendah sehingga insulin akan turun, dan berakibat menaiknya kinerja reseptor insulin (up regulation), termasuk di otak yang berkorelasi positif pula dengan pengayaan reseptor insulin di memorinya.
Terkait dengan DM, Dr. Rasjad Indra menyampaikan hasil penelitiannya bahwa bagi penderita pre-DM terbukti secara kuantum bahwa dengan puasa, kadar gula darah dapat mengarah ke rentang normal. “Tetapi puasa saja tidak cukup untuk yang telah mengidap DM”, katanya. Melihat berbagai kelebihan puasa, Dr Rasjad Indra mengajak pada setiap audiens untuk berbangga memiliki kemampuan menjalankan ibadah puasa tanpa harus anarkhis terhadap orang yang tidak berpuasa ataupun membuka warung pada waktu puasa.
“Dengan keyakinan yang kita miliki, ditambah berbagai bukti ilmiah keunggulan puasa, jangan terusik dengan mereka yang tidak menjalaninya”, ajaknya. [nok]

Enam Karya Tulis Lingkungan Hidup Unibraw Lolos ke Final
4 Oktober 2006
Sebanyak enam karya tulis bidang lingkungan hidup mahasiswa Universitas Brawijaya, lolos ke babak final Lomba Karya Tulis Mahasiswa Bidang Lingkungan Hidup tingkat Nasional. Keenam karya tulis itu akan dipresentasikan di Yogyakarta pada 6-8 Oktober 2006. Demikian keterangan Drs Rudjita, Kasubbag Minat dan Penalaran pada Bagian Kemahasiswaan Universitas Brawijaya, Kamis (4/10).
Rudjita menuturkan, Universitas Brawijaya sebelumnya mengirimkan 44 karya tulis untuk tiga bidang yang dipertandingkan. Tiga bidang yang dipertandingkan itu meliputi biofisik dan kimia, biotis, serta sosek dan budaya kesehatan. LKTM bidang lingkungan hidup merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Universitas Brawijaya nantinya akan berkompetisi dengan sebelas universitas lainnya.
Selain Universitas Brawijaya, universitas di Jawa Timur yang juga maju ke babak final adalah Instititut Teknologi 10 Nopember Surabaya (5 karya tulis), dan Universitas Negeri Malang (1 karya tulis). Universitas Brawijaya dan Institut Pertanian Bogor adalah dua perguruan tinggi dengan jumlah finalis paling banyak.
Judul karya tulis dari Universitas Brawijaya yang akan dipresentasikan adalah: (1) ”Penataan Taman Kota Berbasis Eko-Arsitektur sebagai Upaya Mengurangi Tingkat Kebisingan di Daerah Perkotaan” karya Eko Surono mahasiswa Fakultas Teknik, dengan dosen pembimbing Ir Antariksa MEng PhD, (2) ”Implementasi Proyek Clean Development Mechanism dalam Menunjang Pengembangan Energi Berkelanjutan di Indonesia” karya Abdul Mukti Alfatoni mahasiswa Ilmu Administrasi, dengan dosen pembimbing Drs Bambang Santoso H MS,( 3) ”Rekonstruksi Etika Bisnis Perusahaan dalam Mewujudkan Corporate Social and Environtmental Social Responsibility" karya Fanny Widadie mahasiswa Fakultas Pertanian dengan pembimbing Dr Ir Kliwon Hidayat MS, (4) ”Pemanfaatan Glukosa Hasil Biokonversi Limbah Klobot Jagung dalam Sel Elektrokimia Biofuel sebagai Salah Satu Sumber Energi Alternatif” karya Prima Kharisma, mahasiswa Fakultas MIPA dengan pembimbing Drs Warsito MS, (5) ”Upaya Menjaga Kelestarian Terumbu Karang Melalui Penerapan Marine Protected Area (MPA) Berbasis Masyarakat” karya Baihaqi dari Fakultas Perikanan dengan pembimbing Ir Daduk Setyohadi MP, dan (6) ”Peluang Produksi Pupuk Organik Cair Tanaman Berbahan Baku Urin Sapi” karya Willy Priliyani mahasiswa Fakultas Peternakan, dengan dosen pembimbing Khotibul Umam A SPt MSi. [nik]

BAZIS Unibraw Salurkan ZIS kepada 400 Karyawan
4 Oktober 2006
Badan Zakat, Infaq dan Shadaqah (BAZIS) Universitas Brawijaya, pada bulan Ramadan 1427H ini akan menyalurkan zakat, infaq, dan shadaqah kepada sekitar 400 orang karyawan Unibraw yang berhak menerimanya.
Sampai bulan Oktober 2006, BAZIS Unibraw telah menerima dana zakat, infaq, dan shadaqah (ZIS) sebesar Rp 203 juta lebih. Dana ini terkumpul dari unit-unit kerja maupun pribadi-pribadi pejabat di lingkungan Unibraw.
Secara rinci, saldo dana ZIS sampai Desember 2006 tercatat Rp 182 juta lebih, ditambah dengan pemasukan dari Kantor Pusat Rp 1,5 juta, Program Pascasarjana Rp 2,6 juta, Fakultas Hukum Rp 5,3 juta, Fakultas Ilmu Administrasi Rp 1,25 juta, Fakultas Pertanian Rp 250 ribu, Fakultas Peternakan Rp 2,25 juta, Fakultas Teknik 3,37 juta, Fakultas Kedokteran Rp 1,5 juta, Fakultas Perikanan Rp 3,45 juta, Fakultas MIPA Rp 1 juta, Fakultas Teknologi Pertanian Rp 500 ribu, Pusat Pembinaan Agama Rp 250 ribu, Rektorat Rp 1 juta.
Dana ZIS yang terkumpul telah disalurkan sebanyak Rp 21 juta lebih, dengan rincian Rp 14,4 juta untuk pemberian beasiswa kepada 24 orang anak karyawan Unibraw, Rp 4,68 juta untuk beasiswa 52 anak masyarakat sekitar kampus, serta Rp 2 juta untuk bantuan korban gempa Yogyakarta.
Pada tahun 2005 yang lalu, BAZIS Unibraw berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 67,5 juta. Dari dana ini telah disalurkan untuk 286 orang mustahiq, dengan rincian 138 orang dari Kantor Pusat, 131 orang dari fakultas-fakultas dan 17 orang petugas BAZIS. Besar dana yang disalurkan mencapai Rp 28,6 juta.
Pinjaman bergulir tanpa bunga
Ketua BAZIS Unibraw HA Latief Syafradji SH mengungkapkan, mulai tahun 2007 mendatang, BAZIS Unibraw meluncurkan sebuah program baru berupa bantuan pinjaman modal usaha bergulir tanpa bunga untuk jangka waktu 2 tahun. Besar pinjaman Rp 3 juta, diberikan kepada warga Unibraw kurang mampu yang telah memiliki usaha, dan terdaftar sebagai karyawan Unibraw.
Calon peminjam ditetapkan oleh BAZIS Unibraw berdasarkan rekomendasi hasil pengamatan, pertimbangan, dan penilaian pengurus BAZIS masing-masing unit kerja. Pengurus BAZIS masing-masing unit kerja bertanggung jawab atas keakuratan hasil seleksi calon. Peminjam dana modal usaha, diharapkan aktif menyisihkan zakat, infaq, dan shadaqah dari hasil usahanya guna dikelola BAZIS Unibraw sesuai dengan kemampuannya. Pengembalian dana pinjaman usaha dilakukan dengan cara mengangsur setiap bulan selam 2 tahun, melalui pengurus BAZIS unit kerjanya masing-masing. [Far]

Memulai Bisnis Tanpa Uang
3 Oktober 2006
Memulai usaha tanpa mengeluarkan uang sudah menjadi hal yang biasa. Hal itu disampaikan oleh Drs Arif Himawan Kusumanegara dalam Seminar Kewirausahaan yang diadakan Koperasi Mahasiswa Universitas Brawijaya, Selasa, 3/106 di Cafe Maleo. Tapi ternyata pandangan tersebut belum menjadi panutan yang banyak digunakan oleh khalayak. Banyak kalangan masyarakat masih terpatok pada pemikiran bahwa memulai suatu usaha harus mengeluarkan banyak uang untuk modal usaha. Padahal kenyataannya tidak demikian. Salah seorang mahasiswa Unibraw telah membuktikan hal ini, menjadi seorang pengusaha dengan menjual ide. Puji, mahasiswi berumur 19 tahun ini hanya bermodalkan omongan dan ide. Ia menjual ide untuk mengadakan program pendidikan tentang kewirausahaan yang diadakan di sekolah-sekolah.
Ia kemudian dijadikan Arif, penyaji seminar ini, sebagai contoh bahwa memulai bisnis ternyata tidak harus mengeluarkan modal berupa uang. Pendiri Soerabaia Consulting dan Redaktur Majalah Pengusaha Jakarta ini mengatakan, memulai usaha berawal dari ide. Sedangkan ide dapat dicari melalui cara apapun. Misalnya dengan browsing di internet atau melihat peluang dari lingkungan sekitar.
Seminar sehari ini mencoba untuk memfokuskan pada tema “Creating Money Without Money.” Faisal Tri Putra, ketua pelaksana acara ini mengatakan bahwa tujuan dari acara ini adalah melatih mahasiswa untuk bisnis sambil kuliah. Selain itu mereka juga bermaksud untuk menjadi ajang silahturahmi antar lembaga mahasiswa semi otonom yang ada di Unibraw dan bekal untuk menghadapi era globalisasi.
Peserta yang mereka tembak pada umumnya adalah mahasiswa dan juga karyawan. “Peserta dari karyawan kami tujukan untuk meningkatkan mutu mereka,” jelas Faisal. Peserta yang mendaftar sebanyak 29 orang. Faisal mengatakan bahwa untuk menikmati fasilitas ini mereka kemudian ditarik biaya sebesar Rp 10.000 untuk anggota Kopma, dan Rp 15.000 untuk non anggota Kopma. Acara seminar kemudian ditutup dengan buka bersama. [vty]

Jurusan THP Terakreditasi A
3 Oktober 2006
Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Simon Bambang Widjanarko MAppSc mengabarkan, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) dari fakultas yang dipimpinnya mendapatkan akreditasi "A" dengan nilai 388. Hal ini tertuang dalam Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) Nomor 012/BAN-PT/Ak-X/S1/VIII/2006.
Yang menggembirakan, nilai 388 ini menurut Prof Simon adalah yang tertinggi tertinggi di Indonesia, mengungguli Jurusan Teknik Pertanian dan Jurusan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor yang meraih nilai 379.
Fakultas Teknologi Pertanian adalah fakultas kesepuluh dari Universitas Brawijaya, merupakan peningkatan status dari Jurusan Teknologi Pertanian yang semula dalam naungan Fakultas Petanian Unibraw. Diresmikan sebagai fakultas berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 012a/O/1998 tanggal 26 Januari 1998
Fakultas ini memiliki 3 jurusan, yaitu: Teknologi Hasil Pertanian, Teknik Pertanian, dan Teknologi Industri Pertanian, dengan jumlah mahasiswa terdaftar sebanyak 1618 (pada tahun akademik 2005-2006). Selain itu FTP Unibraw juga mengelola program diploma III Teknologi Industri Pertanian. [sbw]

Mahasiswa Unibraw Juara Pertama Peneliti Remaja 2006
3 Oktober 2006
Dua orang mahasiswa Universitas Brawijaya Endah Silfiyanti dan Heri Kristianto berhasil keluar sebagai juara pertama pada ajang Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia 2006 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 11 September 2006 ini, penelitian Silvi dan Heri dengan judul “Pengaruh Ekstrak Daun Pare (Momordica charantia) Dalam Menghambat Pertumbuhan Larva Aedes sp” berhasil menarik perhatian dewan juri, dan mengalahkan empat finalis lainnya.
Ajang Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) 2006 merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh LIPI guna mencari dan mengembangkan potensi penelitian di kalangan remaja. Tiga bidang yang dipertandingkan meliputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknik. Jumlah peserta PPRI kali ini sebanyak 171 dan untuk bidang IPA diikuti oleh 55 peserta. Setelah melalui proses seleksi, terpilih lima peserta yang masuk ke babak final untuk kemudian melakukan presentasi di hadapan dewan juri. Peserta yang lolos final lainnya berasal dari Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan Universitas Atmajaya Jakarta. Peserta dari Universitas Atmajaya dengan judul “Enzim Keratinase Asal Isolat dari Tanah Belelarang Tangkuban Perahu dan Aplikasinya” berhasil keluar sebagai juara kedua dan peserta dari Universitas Lambung Mangkurat dengan judul “Identifikasi Respon Nyeri Penderita Dismenore (Nyeri Haid) Sebelum dan Sesudah Pemakaian Sepatu Listrik Sebagai Upaya Alternatif Terapi” keluar sebagai juara ketiga.
Penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran dari program studi Ilmu Keperawatan Universitas Brawijaya Malang ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kasus kematian akibat demam berdarah (DBD) oleh nyamuk Aedes sp di Indonesia dari tahun ke tahun. Berdasarkan data yang ada di Departemen Kesehatan pada akhir Pebruari 2004 terdapat 12.482 penderita DBD di 21 provinsi, dan 241 orang diantaranya meninggal. Peningkatan kasus demam berdarah tersebut berhubungan dengan banyaknya populasi nyamuk dewasa dan larva nyamuk Aedes sp yang sering dijumpai di tempat penampungan air.
Insektisida Alami
Menurut Silfi dan Heri, kegiatan yang perlu dilakukan untuk pemberantasan penyakit demam berdarah ditujukan untuk memutuskan rantai transmisi atau penularan pada salah satu atau lebih mata rantai yang meliputi host (manusia), agent (bibit penyakit) dan environmental (lingkungan). Masyarakat saat ini cenderung menggunakan obat kimia sintesis untuk memberantas larva nyamuk Aedes sp. Namun pemberian zat kimia sintetis yang berulang-ulang pada serangga, dapat menyebabkan resistensi pada keturunannya. Solusi yang dapat ditempuh adalah mengurangi penggunaan insektisida sintesis dan beralih pada penggunaan insektisida yang alami dan ramah lingkungan. Daun pare (Momordica charantia) menarik penelitian Silvi dan Heri untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes sp.
Pare (Momodica charantia) merupakan salah satu tanaman yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. Manfaat pare dalam dunia kesehatan telah terbukti dapat menurunkan demam, obat cacing, sakit saat haid, terlambat haid, nifas, memperlancar ASI, batuk, bisulan, sembelit, mual, hepatitis, malaria, sifilis, kencing nanah, penurun gula darah pada penderita DM, disentri, rematik, sariawan, obat luka, impotensi dan bahkan kanker. Pare juga dapat dimanfaatkan sebagai insektisida karena mengandung  alkaloid yang pahit yaitu momordicin. Kandungan lain pare seperti saponin, flavonoid, triterpenoid, asam oleat, asam linoleat dan asam stearat berfungsi sebagai pengatur pertumbuhan, mempunyai daya racun, menghambat sistem respirasi, mempengaruhi sistem saraf, menyebabkan kehilangan koordinasi dan sebagai penolak serangga. Pada penelitiannya Silfi dan Heri merubah daun pare menjadi ekstrak untuk kemudian diberikan kepada larva Aedes sp.
Hasil penelitian Silfi dan Heri menunjukkan, ekstrak daun pare (Momordica charantina) mempunyai efek larvasida terhadap larva Aedes sp. Selain itu terdapat hubungan antara konsentrasi ekstrak daun pare dengan jumlah larva Aedes sp yang mati. Senyawa-senyawa dalam daun pare yang diduga berfungsi sebagai larvasida adalah alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid dan minyak lemak.
***
Endah Silfiyanti adalah putri dari Sunardi dan Kunarti, kelahiran Pati 22 tahun silam. Saat ini Silfi tengah mengikuti studi profesi keperawatan setelah menyelesaikan ujian komprehensifnya di program studi ilmu keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Sementara itu Heri Kristianto lahir di Madiun 23 tahun silam. Putra dari Sujat ini pernah meraih penghargaan sebagai juara kedua bidang IPA peneliti remaja 2005 yang diselenggarakan LIPI dan Piagam Penghargaan dari Royal Australian Chemical Institute (RACI): Australian National Chemistry Quiz tahun 1999 dan 2000. [nik]

Kerjasama FIA Unibraw-Ditjen Otoda
2 Oktober 2006
Fakultas Ilmu Administrasi Univer- sitas Brawijaya menjalin kerjasama dengan Direktorat Jenderal Otonomi Dae-rah Departemen Dalam Negeri Repu-blik Indonesia. Naskah kerjasama itu ditanda-tangani kedua belah pihak pada Senin 2 Oktober 2006. Penandatanganan naskah dilakukan oleh Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito bersama Dirjen Otoda Dr Kausar AS.
Kerjasama  yang dilakukan kedua belah pihak akan diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia aparatur baik legislatif maupun eksekutif. Secara teknis peningkatan sumber daya manusia dilakukan melalui orientasi, pembekalan, pelatihan, bimbingan dan penyuluhan, penelitian dan pengembangan bersama antara kedua belah pihak. Termasuk didalamnya adalah penyusunan dan perangkaian kegiatan dalam rangka mendukung implementasi otonomi daerah. [nik]