November 2006
Pelatihan SIM Lembaga Penelitian Unibraw
30 November 2006Dalam rangka meningkatkan kualitas layanan serta meningkatkan pengetahuan staf, Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Brawijaya mengadakan pelatihan sistem informasi manajemen (SIM). Pelatihan berlangsung dua hari, 29-30 November 2006, di Perpustakaan Universitas Brawijaya.
Kegiatan yang diikuti oleh 25 orang peserta ini menghadirkan pemateri dari PT Lintang Kawuryan sebuah lembaga pengembangan pendidikan. Materi yang diberikan meliputi aplikasi internet dan SIM Lemlit. Menurut panitia pelatihan Drs Nur Subchan, dengan pelatihan ini diharapkan pelayanan yang diberikan staf bagi para peneliti di lingkungan Universitas Brawijaya menjadi lebih optimal. Selain itu, diharapkan pula mata rantai pelayanan penelitian mulai dari pembuatan proposal hingga penyusunan laporan dalam jurnal dapat berjalan lebih sinergis. Diakui selama ini proses pelayanan penelitian terlihat tidak terintegrasi satu sama lain. Dana dari pelatihan ini berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) Direktorat Pendidikan Tinggi. [nik]Delapan Makalah Unibraw di Seminar IT/ICT di Jakarta
30 November 2006
Delapan makalah Universitas Brawijaya, 5 dipresentasikan dan 3 makalah poster (ditulis tetapi tidak dipresentasikan), lolos dalam seminar nasional "Bersama IT/ICT Membangun Bangsa: Aplikasi Teknologi dan Informasi Indonesia 2006" di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Kamis 30/11. Demikian Prof. Soekartawi, ketua steering committee seminar menuturkan kepada PRASETYA Online. Gurubesar pertanian Unibraw ini menjelaskan, seminar bergengsi tersebut menampilkan sekitar 71 makalah, terselenggara atas kerja sama Depdiknas dengan UNESCO dan Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta.
Kelima makalah Unibraw yang dipresentasikan adalah "Pemanfaatan ICT untuk Pengembangan Jejaring Pendidikan Nasional" oleh Soekartawi (FP Unibraw), Gatot HP (BPKLN Depdiknas) dan Bondan Prakoso (FMIPA Unibraw); "The Power of Cultural and Managerial Aspect towards ICT Adoption: A Case Study in Horticultural Agribusiness in East Java" oleh Sudaryanto (Unej) dan Soekartawi (Unibraw); "Rancang Bangun Prototipe Sistem Informasi: Layanan Angkutan Umum dalam Kota Malang" oleh Arief A. Subroto, Herman Tolle dan Yoga AK Putra (FT Unibraw); "Pengembangan Aplikasi Kamus Bahasa Jawa Online Menggunakan PhP dan MySQL" oleh Arief A. Subroto, Primantara H Trisnawan dan Rieke A. Wijayanti (FT Unibraw); dan "Penggunaan Komputer dalam Pengukuran Hidrologi Individu Pohon dalam Area Resapan Air" oleh Mth S. Budiastuti (UNS) dan SM Sitompul (FP Unibraw).
Sementara itu tiga makalah poster yang lolos adalah "Membangun Sistem Informasi Manajemen Perguruan Tinggi" oleh Siti Romlah (BAPSI Unibraw); "Penggunaan Komputer untuk Analisa Persilangan dalam Perakitan Klon Ubijalar" oleh Sri Utami (STIPF) dan Nur Basuki (FP Unibraw), dan "Penggunaan Komputer dalam Nerlove Supply Model" oleh Ratya Anindita, Jelita A Elvirawati dan Soekartawi (FP Unibraw). Seorang dosen FMIPA Unibraw, Dewi Yanti Liliana, hadir sebagai peserta seminar yang dihadiri oleh pembicara dari UNESCO (Dr A Umarov), Universiti Sains Malaysia (Prof Ahmad H Mohamad) dan Johannes Kepler Universitat Linz (Prof Ismail Ibrahim). Bahkan Walikota Malang, Drs Peni Suparto MAP, juga hadir dan membawakan makalah soal e-Government di Kota Malang. [Skw]Sertijab Dan Sat Menwa 803 Unibraw
30 November 2006Kepala Bagian Kemahasiswaan Universitas Brawijaya, Ali Farid SH, memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) Komandan Satuan Resimen Mahasiswa (Sat Menwa) 803 Unibraw, Kamis 30/11. Upacara yang berlangsung di gedung Student Center Unibraw ini dihadiri pejabat dari Polwil Malang, Polresta Malang, Pemkab Malang, Rindam V Brawijaya, Kodim 0833/KM, Korem 083 Baladhika Jaya, Wing II Paskhas Abdurahman Saleh, Bakesbang & Linmas Kota Malang, serta Kasubbag Minat Penalaran Unibraw Drs Rudjita.
Jabatan komandan Sat Menwa itu diserahkan oleh Dan Sat Menwa periode 2005/2006, Dede Suparjo mahasiswa Fakultas Ekonomi, kepada penggantinya Dan Sat Menwa periode 2006/2007 Hadi Pranoto mahasiswa Fakultas Pertanian. Bagi sebuah organisasi, serah terima jabatan adalah salah satu proses untuk mempertahankan eksistensi sebuah organisasi.
Dalam sambutannya, Ali Farid SH mengharapkan seluruh jajaran Satuan Resimen Mahasiswa Universitas Brawijaya mencari terobosan guna menarik minat mahasiswa untuk bergabung dengan Resimen Mahasiswa yang dari tahun ke tahun jumlahnya semakin berkurang. Selain itu juga mengharapkan agar Sat Menwa 803 Unibraw membuat program-program inovatif dan kreatif, seperti misalnya kegiatan outbound khusus bagi mahasiswa, agar mereka menjadi manusia Indonesia yang pandai, terampil, cekatan, mampu bekerjasama, tegas dan disiplin. [nik]Temu Bisnis Agroindustri Jagung
30 November 2006
Penanganan secara serius beberapa komoditi pertanian strategis di Indonesia dapat memberikan konstribusi positif secara menyeluruh dalam semua aspek dan stakeholders, baik itu petani, industriawan maupun pemerintah. Hal ini menjadi latar belakang Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Pertanian (Himatitan) menyelenggarakan kegiatan “Temu Bisnis dan Agroindustri Jagung”. Kegiatan diselenggarakan di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Kamis 30/11, mengundang stakeholders agroindustri jagung, seperti GAPOKTAN di wilayah Malang Raya mewakili petani, PT Bogasari Flour Mills Tbk, PT Charoen Phokpand, PT BISI, PT Tanindo, dan PT Petrokimia Gresik dari kalangan industriawan, serta kalangan pemerintah dan akademisi.
Ketua Pelaksana Dr Ir Imam Santoso MP dalam sambutan mengatakan, Jawa Timur merupakan daerah sentra pertanian, khususnya jagung. Jagung merupakan salah satu komoditi strategis yang harus ditangani dengan baik sehingga produksi yang melimpah ketika panen tidak merugikan petani, dan pengolahan pascapanen dapat mendukung proses selanjutnya. “Melalui kegiatan ini diharapkan dapat ditemukan model kemitraan yang sesuai untuk mempertemukan berbagai stakeholders dalam penanganan jagung”, ungkapnya.
Lebih lanjut dijelaskan, konsepsi kemitraan yang ditawarkan nantinya adalah fasilitasi pendampingan, bantuan peralatan serta jalinan kerjasama. Untuk merealisasikan hal ini, dalam kegiatan ini dilangsungkan pula MoU antara GAPOKTAN Malang Raya dengan salah satu industri pakan ternak ternama di Indonesia.
Acara yang dibuka ketua LPM Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Syamsulbahri MS ini, didukung oleh keynote speech Menteri Pertanian RI, Dr Ir Anton Apriantono MS. Di samping itu penyaji Dr Ir Moehaimin Sovan MA dari Direktorat Pemasaran Domestik Departemen Pertanian RI, membawakan “Pengembangan GAPOKTAN dalam Rangka Menumbuhkembangkan Agroindustri Komoditi Strategis”, Fransiscus Welirang Direktur PT Bogasari Flour Mills, dengan materi "Local SME’S Development" dan PT Petrokimia Gresik dengan materi “Pengalaman Kerjasama Kemitraan PT Petrokimia Gresik”.
Dalam makalahnya Menteri Pertanian menyatakan, revitalisasi pertanian tidak dimaksudkan untuk membawa keterjebakan dalam dikotomi ”resource based economy” atau “knowledge based economy”, tetapi justru memandang bahwa kedua pendekatan tersebut dibutuhkan, bersifat komplementer dan harus saling mendukung.
Kemitraan strategis sevagai satu solusi, menurutnya bukan saja merupakan kebutuhan tapi sebuah keharusan karena sektor pertanian bukanlah sektor yang dapat berdiri sendiri. Dalam agroindustri jagung, Menteri Pertanian RI menyebut tiga hal yang berpengaruh bagi pengembangannya, yagn meliputi penguatan kelompok tani (GAPOKTAN), penguatan kemitraan usaha antara kelompok tani (GAPOKTAN) dengan Industri pengolahan dan pasar serta penguatan agroindustri jagung melalui pemanfaatan sarana dan teknologi pascapanen yang telah tersedia seperti alat mesin panen, pemipil, pengering, penyimpan dan pengolahan serta pengembangan usahanya. Lebih lanjut disampaikan dalam makalahnya bahwa pengembangan kemitraan agoindustri jagung ini diarahkan untuk mewujudkan sistem dan usaha agrobisnis yang terpadu antara pengembangan kawasan produksi jagung di bagian hulu dengan pengembangan kelembagaan pasca panen dalam bentuk GAPOKTAN serta industri pengolahan pakan ternak dan industri makanan di bagian hilirnya.
Dalam kesempatan tersebut, beberapa petani yang tergabung dalam GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) di wilayah Bantur, yaitu Kelompok Tani Sri Banturono dan Sri Binakarya turut ambil bagian dalam kegiatan pameran dengan memamerkan produk olhan jagung diantaranya nasi jagugn, punten, bledus, marning, empok instan dan empleng. Salah satu perwakilan petani , Cipto Kawedar, dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa selama ini pihaknya merasa merugi ketika panen, dimana jagung yang mestinya bisa dijual dengan harga yang layak harus jatuh karena permainan harga dari pedagang. “Kami berharap pendampingan dapat berkelanjutan terutama menjelang masa tanam nanti pada bulan Februari”, ungkapnya. Selain dari GAPOKTAN, kesempatan pameran juga digunakan untuk memamerkan beberapa produk olahan lainnya seperti gathot instan, thiwul instant, kripik buah, VCO, kripik tempe serta beberapa unit alat dan mesin pertanian. [nok]Sucik Maylinda Raih Doktor dari IPB
29 November 2006Susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang produksinya terus meningkat setiap tahun. Meskipun demikian, tingkat ketersediaan susu dan tingkat kebutuhan susu dalam negeri masih belum tercukupi. Hal ini salah satunya disebabkan rendahnya populasi dan potensi genetik sapi perah, serta kondisi manajemen pemeliharaan yang kurang baik.
Demikian ungkap Ir Sucik Maylinda MS dalam disertasi berjudul ”Marker Genetik Penentu Potensi Produksi Susu pada Sapi Perah Impor dan Lokal di Grati Pasuruan”. Ujian terbuka disertasi dosen senior Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya ini berlangsung di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Rabu 29/11.
Penguji utama dalam ujian itu adalah Dr Ir Muladno MSA, sedangkan anggota penguji terdiri dari Dr Drh Palla Waruka MSc, Dr Ir Endang Triwulansih MS, dan Prof Dr Adi Sudono MSc, serta penguji tambahan Dr Ir Kusumo Dwianto dan Dr Ir Suryahadi DEA.
Lebih lanjut Sucik mengungkapkan, Propinsi Jawa Timur merupakan daerah kantong sapi perah yang menghasilkan produksi susu lebih tinggi dibandingkan daerah lain seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah. Salah satu daerah penghasil susu di Jawa Timur adalah Grati di Kabupaten Pasuruan. Sapi perah lokal Grati dikenal sebagai Identitas Fauna Kabupaten Pasuruan, yang banyak dipelihara masyarakat. Sapi grati merupakan sapi perah lokal keturunan dari sapi peranakan ongole dan sapi fries holland yang disilangkan pada jaman pemerintahan Hindia Belanda. Sebagai usaha untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri, pemerintah mendatangkan sapi impor. Keberadaan sapi impor ternyata belum mampu menghasilkan produksi susu secara optimal. Penyebabnya di antaranya sapi impor belum mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat, dan tata laksana pemeliharaan sapi perah di peternakan rakyat yang masih tradisional.
Menurut Sucik, saat ini telah ditemu-kan teknologi baru untuk menyeleksi ternak yang didasarkan atas marker genetik sifat tertentu sapi. Metode penyeleksian ternak sapi ini untuk menghindari pemeliharaan ternak yang tidak produktif. Penelitian Sucik mendeteksi polimorfisme gen hormon pertumbuhan (growth hormone/GH) dan reseptor hormon pertumbuhan (growth hormone receptor/GHR) pada sapi perah impor dan lokal, dengan cara mengisolasi DNA, PCR-RFLP yang menggunakan enzim restriksi Msp1 dan Alu1, serta elektroforesis dengan gel agarosa 2 persen. Penelitian dilakukan di Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur Kecamatan Grati Pasuruan.
Hasil penelitian Sucik menunjukkan produksi susu sapi lokal lebih tinggi dari pada sapi impor. Gen GH hanya berpotensi digunakan sebagai marker untuk produksi susu sapi impor. Gen GHR baik sapi impor dan lokal, dapat berpotensi untuk digunakan marker yang berhubungan dengan produksi susu. Genotipe kombinasi GH dan GHR juga berpotensi untuk digunakan sebagai marker untuk produksi susu.
Berdasarkan penelitiannya pula Sucik merekomendasikan: dalam kebijakan impor sapi perah, sebaiknya dihindari penempatan sapi di daerah dataran rendah atau kurang dari 500 m dari permukaan laut. Hal itu disebabkan karena sapi tercekam oleh panas lingkungan yang tinggi.
Dalam yudisium, Sucik Maylinda dinyatakan lulus dengan indeks prestasi kumulatif 4.00 dan masa studi 3 tahun 3 bulan, sehingga berhak menyandang gelar doktor dalam ilmu peternakan.
Dr Ir Sucik Maylinda MS adalah pe-rempuan kelahiran Pamekasan 18 Sep-tember 1956, sarjana peternakan Uni-braw 1979, dan magister sains peternakan lulusan IPB (1986), dengan jabatan akademik lektor kepala, golongan IV/b, mengabdikan diri sebagai dosen pada Fakultas Peternakan Unibraw sejak 1981. Dr Sucik Maylinda adalah isteri dari Dr Ir Woro Busono MS, juga staf pengajar Fakultas Peternakan Unibraw. [Far/nik]Penghargaan bagi Pensiunan
29 November 2006Dalam rangka peringatan hari ulang tahun ke-35 Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), diberikan piagam penghargaan dan tali asih kepada 21 orang pensiunan/janda pegawai di lingkungan Universitas Brawijaya. Mereka mengakhiri tugas sebagai pegawai, baik karena memasuki memasuki masa pensiun maupun karena meninggal dunia pada tahun 2006 ini.
Berikut adalah daftar nama mereka: Ir Damanhuri (FPi, golongan IV/c, terhitung mulai tanggal 1/1/2006), Drs Soekarto MSi (FIA, gol IV/d, tmt 1/1/2006), Drs Djoko Winarso MSi (FIA, gol IV/d, tmt 1/3/2006, meninggal dunia), Prof Dr Moch Ichsan (FIA, gol IV/e, tmt 1/3/2006, meninggal dunia), Drs Lukman Syamsudin MA (FIA, gol IV/d, tmt 1/3/2006, meninggal dunia), Ir Titik Pudjiastutie (FPt, gol IV/b, tmt 1/3/2006), Dr Ir Drs Made M Ardhana MAppSc (FPt, gol IV/b, tmt 1/4/2006), Ir Imam Syafii MS (FP, gol IV/d, tmt 1/4/2006), Drs Koesnadi (FTP, gol III/c, tmt 1/4/2006), Drs Sukarno (FE, gol IV/c, tmt 1/6/2006), FX Hardjito (FK, gol III/b, tmt 1/7/2006), Muhammad Dikin (FT, gol II/b, tmt 1/7/2006), Edi Suprapto (KP, gol III/c, tmt 1/7/2006), Prof Dr Mohamad Saleh Sjafradji MADE (FE, gol IV/e, tmt 1/8/2006), Drs Abdul Gafur (KP, gol IV/b, tmt 1/8/2006), Dra Berlian Gani (FE, gol IV/c, tmt 1/9/2006), Prof Dr R Riyadi Soeprapto MS (FIA, gol IV/d, tmt 1/9/2006, meninggal dunia), Mulyono (FP, gol II/b, tmt 1/9/2006), Endang Mubihandari (KP, gol III/c, tmt 1/9/2006), Drs I Ketut Tirte (FIA, gol IV/c, tmt 1/10/2006), dan Dra Tryfena Maria Pigawahi Pajouw (FK, gol IV/b, tmt 1/11/2006).
Bantuan modal tanpa bunga
Dihadiri oleh puluhan pensiunan Unibraw, upacara pemberian penghargaan ini berlangsung di gedung Widyaloka, seusai upacara bendera HUT Korpri di lapangan depan gedung Rektorat pagi harinya.
Dalam sambutannya, Ketua Unit Korpri Unibraw, Drs Djanalis Djanaid, mengatakan Korpri Unibraw siap membantu para anggotanya. "Titik beratnya adalah pengembangan sumberdaya manusia", tutur Djanalis, "baik dari aspek manajemen, spiritual, maupun kesehatan". Ditambahkannya, untuk para anggota yang akan pensiun, Korpri Unibraw selain sanggup untuk memberikan pelatihan kewirausahaan juga menyediakan bantuan modal tanpa bunga bagi mereka yang ingin membuka usaha produktif. Hal ini dilakukan Korpri Unibraw bekerja sama dengan Badan Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS) Unibraw.
Sementara itu Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito dalam sambutannya menegaskan, setiap organisasi harus ada manfaat bagi anggotanya. "Jika Korpri Unibraw tidak bermanfaat bagi anggotanya, bubarkan saja", tegas Rektor. Menurut Rektor, sebenarnya paling tidak ada dua manfaat organisasi semacam Paguyuban Pensiunan Unibraw. Yang pertama adalah memberi kesempatan mereka untuk bertemu dan berkumpul. Dan yang kedua, memberi kesempatan bagi anggota untuk mengembangkan hobi atau kegemaran masing-masing. "Misalnya, bagi yang punya hobi berkebun atau memelihara ikan, silakan dikembangkan melalui paguyuban ini". Pada kesempatan itu pula Rektor menyambut baik gagasan yang muncul di dalam Rapim beberapa waktu yang lalu, tentang perlu adanya tanah makam bagi warga Universitas Brawijaya. [Far]Upacara Bendera HUT Korpri Ke-35
29 November 2006Segenap pegawai di lingkungan Universitas Brawijaya mengikuti upacara bendera, yang diadakan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) ke-35, Rabu 29/11, di lapangan Rektorat.
Bertindak sebagai pembina upacara Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito. Para peserta upacara terdiri dari tenaga edukatif maupun tenaga administrasi baik yang berstatus pegawai negeri sipil maupun pegawai honorer. Pada kesempatan itu juga diumumkan nama 21 orang pegawai yang telah purna tugas pada tahun 2006 ini.
Pada upacara itu Rektor membacakan sambutan tertulis Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, selaku penasehat nasional Korpri. Dalam sambutan itu Presiden mengatakan, anggota Korpri sebagai aparatur pemerintah, seyogianya dapat menjadi panutan bagi masyarakat. Anggota Korpri harus mampu menunjukkan kinerja yang optimal dalam melaksanakan tugas sehari-hari, terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Presiden berharap agar kesan bahwa aparatur negara sering lamban dalam memberikan pelayanan publik harus dihapuskan. Kesan itu, memberikan citra yang tidak menguntungkan bagi birokrasi pemerintahan.
Netral dan profesional
Selain itu presiden mengajak segenap anggota KorpriI untuk senantiasa menjaga keutuhan organisasinya. Mengembangkan profesionalisme dan memperkuat netralitas anggotanya. Setiap pegawai negeri, baik perorangan maupun komunitas dalam organisasi Korpri, harus bersifat netral dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Pegawai negeri, tidak boleh memiliki afiliasi politik terbuka terhadap partai politik tertentu. Pegawai negeri juga tidak boleh bertindak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pegawai negeri harus rnemiliki keberpihakan terhadap nasib dan kepentingan masyarakat secara keseluruhan, serta kepedulian bagi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Korpri yang didirikan pada tanggal 29 November 1971 telah memiliki Anggaran Dasar Korpri yang telah disempurnakan, dan telah ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 16 Tahun 2005 pada tanggal 8 Juni 2005. Anggaran Dasar itu dapat dijadikan haluan untuk mengarahkan organisasi Korpri sebagai organisasi yang profesional dan netral. Kenetralan pegawai negeri tak lain untuk menghindari terjadinya konflik dan kegamangan pegawai negeri terutama pada saat berlangsungnya proses pemilihan kepala daerah secara langsung.
Sebagai wadah berhimpun para penyelenggara pemerintahan, Korpri harus senantiasa peka terhadap setiap perkembangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Termasuk kepekaan terhadap setiap kritik yang ditujukan kepada perilaku dan kinerja birokrasi pemerintah. Setiap kritik dan saran dari masyarakat, merupakan masukan positif bagi perbaikan kinerja pemerintahan. Anggota Korpri harus memberikan penjelasan secara tepat kepada masyarakat serta wajib memberikan informasi yang benar dan akurat. Anggota Korpri juga dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi serta dinamika kehidupan kenegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan.
Reformasi birokrasi
Salah satu upaya yang harus dilakukan menurut Presiden adalah melakukan reformasi birokrasi pada tataran struktural, pengembangan profesionalitas dengan cara meningkatkan budaya kerja, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para penyelenggara negara terhadap prinsip-prinsip good governance, serta melakukan penguatan etos kerja aparatur pemerintahan.
Reformasi birokrasi menurut presiden, menjadi bagian penting dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik. Titik berat dari pemerintahan yang baik adalah pada upaya peningkatan kualitas pelayanan publik dan pemberantasan korupsi secara terarah, sistematis, dan terpadu. Presiden menegaskan kepada seluruh jajaran pemerintahan agar memberikan sanksi yang tegas sesuai dengan ketentuan yang berlaku, jika ditemukan praktik KKN. Perlu meningkatkan efektivitas pengawasan aparatur negara baik melalui pengawasan internal, pengawasan fungsional, maupun pengawasan masyarakat. [nik]Staf BAPSI Berikan Technical Assistance LAKIP ke Poltek Banjarmasin
29 November 2006Memenuhi permintaan Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban), Universitas Brawijaya mengirimkan seorang staf Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi (BAPSI), Tjahyo Handoko, untuk memberikan technical assistence. Bantuan teknis tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan Tim LAKIP di lingkungan Poliban dalam rangka penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP) instansi itu.
Technical assistance dilaksanakan pada Pelatihan Penyusunan LAKIP POLIBAN yang berlangsung pada tanggal 29 November 2006, dengan dua materi sekaligus, yakni: Pengantar Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) dan Technical Assistance Penyusunan Laporan Bulanan LAKIP sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14/Tahun 2006. Pelatihan selama sehari itu diikuti 18 orang peserta wakil tujuh program studi yang ada di Politeknik Negeri Banjarmasin. [yok]Perlu Revitalisasi Pendidikan Agribisnis
28 November 2006
Seminar Nasional dengan tema "Pengembangan Pendidikan Agribisnis di Indonesia: Membangun Sumberdaya Manusia Pertanian" digelar di Jakarta, 28 November 2006. Penyelenggaranya adalah IPB dan Kantor Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan.
Dalam kesempatan tersebut hadir dua dosen Fakultas Pertanian Unibraw masing-masing Prof. Dr.Ir. Soekartawi dan Dr.Ir. Rini Dwi Astuti (Ketua PS Agribisnis). Bahkan Prof Soekartawi yang kini juga sebagai tenaga ahli di Depdiknas diundang khusus sebagai keynote speaker dengan membawa makalah yang berjudul ‘Revitalisasi Pendidikan Agribisnis untuk Pembangunan SDM Pertanian yang Berkualitas’. Dalam makalahnya Soekartawi menyarankan agar pendidikan agribisnis dievaluasi dan direvitalisasi kembali agar arah kedepannya menjadi jelas. Ini penting agar lulusan pendidikan agribisnis mampu menghasilkan sarjana atau SDM yang berkualitas untuk suksesnya pembangunan pertanian.
Sementara itu para praktisi agribisnis dan para undangan/peserta yang lain menghendaki agar mahasiswa jangan dijejali dengan teori-teori saja, melainkan juga perlu memperbanyak praktek-praktek. Dahulu mahasiswa pertanian banyak melakukan praktek lapang sehingga kalau mereka lulus dapat pekerjaan dengan relatif mudah. Tetapi kini, walaupun mereka mendapatkan pekerjaan, mereka harus belajar lagi tentang dunia nyata sektor pertanian. Maklum kebanyakan teori yang diberikan….. Demikian komentar Dr. Martha Tilaar dan Ir Tatang Hadinata (Praktisi Agribisnis) yang juga pembawa makalah di seminar tsb.
Pembicara lain dalam kesempatan tsb adalah Dr. Bayu Krisnamurti (Deputi Menko Perekonomian), Prof. Dr. Bungaran Saragih (Mantan Menteri Pertanian), Prof. Dr. Mochtar Buchori (ahli pendidikan), Dr. Nunung Kusnadi (IPB), Dr. Martha Tilaar dan Ir Tatang Hadinata (Praktisi Agribisnis), Ir. Harniati, MSc (Sekretaris Badan Litbang Pertanian Deptan) dan Dr. Ir. Ishartanto (Komisi IV DPR). [Skw]Inisiasi Pengembangan Sistem Jaminan Mutu Akademik Unibraw
28 November 2006Dalam rangka pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Akademik (SPMA), Pusat Jaminan Mutu Universitas Brawijaya (PJM-UB) mengadakan seminar dan lokakarya. Beberapa dokumen dan contoh praktek baik untuk memulai pengembangan SPMA, disosialisasikan dalam semiloka di gedung Widyaloka, Selasa 28/11. Kegiatan ini didanai Hibah SP4 Fungsionalisasi Jaminan Mutu Pendidikan PJM 2006 dan dana Monev PHK A2-A3.
Dibuka oleh Ketua PJM Prof Dr Ir Soebarinoto, acara ini dihadiri para ketua dan sekretaris jurusan, para ketua program studi, perwakilan Tim Jaminan Mutu Internal Jurusan, serta Badan Pertimbangan Penelitian (BPP) fakultas di lingkungan Universitas Brawijaya.
Diskusi tentang dokumen Manual Mutu Akademik (Kode UB-PJM-04.01.01) mengawali semiloka ini, dipimpin oleh Dr Ir M Bisri MS. Diskusi mengupas dokumen yang telah ditetapkan Rektor pada 1 Oktober 2006. Berikutnya, diskusi ”Konsep Monitoring dan Evaluasi PBM” oleh Dr Surachman MSIE dan ”Manual Mutu Penelitian dan Publikasi serta Manual Mutu Pengabdian pada Masyarakat” oleh Dr Muhammad Nurhuda. Kegiatan diakhiri dengan presentasi Dr Unti Ludigdo MS Ak tentang ”Pengalaman Jurusan Akuntansi FE UB dalam menyiapkan Dokumen SPMA di Tingkat Jurusan”.
Untuk memperoleh saran dan gambaran kesiapan jurusan/PS/BPP dalam mengembangkan SPMA, dibagikan kuisioner bagi para peserta. Hasil diskusi dan aspirasi dari jurusan/PS/BPP tersebut akan dilaporkan Rektor dan menjadi usulan kegiatan PJM tahun 2007. Setelah sosialisasi, PJM segera menyusun usulan tentang perlunya penetapan oleh dekan/pimpinan lembaga tentang perangkat gugus jaminan mutu (GJM) di fakultas/lembaga dan unit jaminan mutu (UJM) di jurusan. Nantinya tim itu mengembangkan dokumen SPMA di unit masing-masing. Untuk itu, beberapa pelatihan dan pendampingan penyusunan dokumen akan dilakukan PJM pada awal tahun 2007, sebelum dilakukan satu siklus penjaminan mutu melalui audit mutu akademik internal (AMAI) Universitas Brawijaya. PJM juga telah memrogramkan sertifikasi 30 auditor AMAI UB dengan mengundang auditor Kantor Jaminan Mutu (KJM) UGM dengan dana Hibah IMHERE 2007. [eas]Gebyar Festival Tari 2006
28 November 2006Salah satu bentuk budaya bangsa bisa dilihat dari seni yang ditampilkan dalam tari. Unit Aktivitas Karawitan dan Tari Universitas Brawijaya (Unitantri UB) sebagai wadah mahasiswa untuk menyalurkan seni, merasa bertanggung jawab untuk melestarikan seni dan budaya serta mengangkat potensi tari mahasiswa di Unibraw. Tanggung jawab itu mereka wujudkan dalam bentuk penyelenggaraan Gebyar Festival Tari (GFT) 2006. Festival ini berlangsung pada Selasa (28/11) malam, di gedung Sasana Samanta Krida Unibraw.
Rinda Fradana, ketua pelaksana GFT 2006 mengatakan, kegiatan ini selain untuk memperingati Dies Natalis Unibraw ke-44 juga merupakan acara tahunan yang dilaksanakan oleh Unitantri UB. Kegiatan GFT tahun ini merupakan pergelaran yang ke-14 selama keberadaan Unitantri. Menurut Rinda, GFT 2006 mencoba membangkitkan semangat generasi muda dalam seni tari. Memperebutkan Piala Rektor Unibraw, GFT 2006 merupakan festival tari antar fakultas se-Universitas Brawijaya, dan antar SMA/SMK se-Malang Raya. Tema yang diusung festival tahun ini adalah "Kepedulian dalam Proses Pelestarian dan Pengembangan Seni Budaya Bangsa yang Inovatif dan Kreatif Tanpa Meninggalkan Kaidah Etika dan Estetika”.
Menurut Rinda, kriteria tari yang dibawakan untuk kategori mahasiswa berbeda dengan untuk kategori siswa SMA/SMK. Untuk kategori mahasiswa, peserta diharuskan membawakan tarian kontemporer, sedangkan untuk kategori siswa SMA/SMK tarian tradisional Malangan.
Acara dibuka oleh Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito, dan diikuti oleh 13 kelompok peserta. Untuk kategori siswa SMA/SMK, tampil 7 kelompok peserta yaitu dari SMKN 3 Malang, SMAN 1 Turen, SMA Shalahudin Malang, SMAN 4 Malang, SMA Taman Siswa, SMAN 12 Malang dan SMAN 5 Malang. Sedangkan pada kategori mahasiswa, tampil 6 kelompok peserta, masing-masing mewakili Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian, Program Ilmu Sosial, Fakultas Perikanan, Fakultas Teknologi Pertanian, dan Fakultas Ilmu Administrasi.
Selain Piala Rektor Unibraw, untuk kategori mahasiswa juga disediakan hadiah uang tunai sebesar Rp 1 juta untuk Juara I, Rp 750 ribu untuk Juara II, dan Rp 500 ribu untuk Juara III. Sementara untuk kategori siswa SMK/SMA hanya disediakan trofi.
Penilaian dilakukan tiga orang juri: Drs Peni Suparto MHum (dosen seni tari Universitas Negeri Surabaya), M Sholeh Adi Pramono SST (pimpinan Padepokan Mangun Dharma, Tumpang, Malang), dan Chattam A.R (seniman tradisional kota Malang), berdasarkan aspek koreografi dan musikalitasnya. Keputusan juri diumumkan malam itu juga. Untuk kategori siswa, Juara I SMAN 12, Juara II SMA Taman Madya, dan Juara III SMAN 4. Sedangkan untuk kategori mahasiswa, Juara I peraih piala rektor adalah Fakultas Perikanan, Juara II Fakultas Ilmu Administrasi, dan Juara III adalah Fakultas Pertanian. [vty]Meilan Sugiarto: Pemerintah Harus Melindungi Industri Kecil
28 November 2006Industri kecil pengolahan makanan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan industri strategis yang prospektif. Pelaku industri sebagian besar menghasilkan produk khas DIY, sangat dominan dengan kondisi lingkungan persaingan serta perkembangan yang cukup fluktuatif dari tahun ke tahun. Industri kecil pengolahan makanan di DIY menghadapi persaingan dengan tingkat persaingan yang kuat, dan didominasi oleh pesaing baru yang memiliki produk bervariasi.
Demikian Meilan Sugiarto SSos MSi dalam disertasi berjudul “Analisis Hubungan Kausal antara Lingkungan Persaingan, Karakteristik Manajerial, Strategi Bisnis dan Kinerja Industri Kecil (Studi pada Industri Kecil Pengolahan Makanan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)”. Ujian terbuka disertasi Meilan Sugiarto berlangsung Selasa 28/11 2006 di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. Bertindak selaku promotor Prof Dr Taher Alhabsji, dengan kopromotor Prof Dr M Syafiie Idrus MEc, dan Dr Suhadak MEc. Sementara dosen penguji terdiri dari Prof Umar Nimran MA PhD, Prof Dr Armanu Thoyib MSc, Prof Drs A Fauzi Dh MA, dan Prof Drs Ec Budiman Christiananta MA PhD dari Universitas Airlangga Surabaya.
Dari sampel 180 industri kecil pengolahan yang berada di Kabupaten Sleman dan Bantul yang diteliti Meilan Sugiarto, nampak semakin kuat lingkungan persaingan yang dihadapi industri kecil, dapat menyebabkan turunnya kinerja industri kecil. Temuan berikutnya, sebagian besar pemilik industri kecil makanan di DIY kurang memiliki pendidikan yang relevan dengan aktivitas usaha yang dijalankan, jarang mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan, dan kurang memiliki kemampuan manajerial. Hal itu menyulitkan usaha tersebut berkembang secara optimal.
Pada akhir disertasinya, Meilan Sugiarto memberikan rekomendasi bagi pemilik industri kecil agar selalu memonitor kondisi lingkungan sehingga mampu bersaing, serta meningkatkan keterampilan manajerial dan pemasaran dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan lembaga pemerintah, perguruan tinggi maupun lembaga swadaya masyarakat. Pemerintah, menurut Sugiarto, harus mengeluarkan kebijakan bagi industri kecil sehingga tercipta sebuah iklim usaha yang kondusif. Salah satu yang dapat dilakukan pemerintah adalah memberikan kemudahan para industri kecil untuk mengurus hak paten bagi produk yang dihasilkan, karena hak paten ini juga untuk melindungi sumber kekayaan bangsa.
Dalam yudisium Meilan Sugiarto dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (IPK 3,87), sehingga berhak menyandang gelar doktor bidang ilmu administrasi dengan minat administrasi bisnis.
Dr Meilan Sugiarto SSos MSi (36 tahun) adalah putera kelahiran Cirebon, 23 Mei 1970, sarjana ilmu administrasi niaga (SSos) dari Universitas Diponegoro Semarang (1994), dan magister ilmu administrasi niaga (MSi) dari Universitas Brawijaya Malang (2001), adalah tenaga pengajar pada UPN Veteran Yogyakarta. [nik]Agar Mampu Bersaing, Dokter Dituntut untuk Profesional
28 November 2006Seorang dokter dituntut untuk profesional dalam melakukan profesinya. Paling tidak terdapat dua hal utama yang harus dipenuhi oleh para dokter agar mampu bersaing dengan para dokter dari negara lain yaitu penguasaaan ilmu dan teknologi kedokteran dengan memanfaatkan teknologi informasi, serta selalu mengamalkan sumpah yang telah dilavalkannya dengan sungguh-sungguh dan menjalankan prosedur standar praktek kedokteran dengan benar. Demikian sambutan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, dr Harijanto MSPH, seusai meyaksikan pengucapan sumpah sepuluh dokter baru di gedung Biomedik, Selasa 28 November 2006.
Untuk mendapatkan ijin praktek sebagai dokter, Harijanto mengatakan, Undang-undang Praktek Kedokteran dan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) mengharuskan para dokter mendapatkan sertifikat kompetensi sebagai dokter umum. Selain itu terhitung mulai 2008, Indonesia sebagaimana kesepakatan yang telah ditandatangani bersama para anggota negara ASEAN dalam Mutually Recognition Agreement, akan memiliki satu standart kompetensi. Kesepakatan ini menurut Harijanto, mengharuskan para dokter untuk mengikuti Pendidikan Dokter Berkelanjutan untuk menjamin tingkat kompentensi yang dimiliki para dokter.
Sementara itu Direktur RSU Dr Saiful Anwar yang juga hadir mengungkapkan bahwa petugas kesehatan harus selalu melindungi masyarakat, menjamin pelayanan yang profesional melalui standar yang diakui nasional dan internasional, meningkatkan kemampuan para pelaku pelayan kesehatan, serta memacu tersedianya pelayanan kesahatan yang memadai, terjangkau oleh segenap lapisan masyarakat, efektif dan efisien serta mengutamakan keamanan bagi masyarakat.
Berikut nama para dokter baru tersebut: dr Eka Ariandini, dr Antariksa Wisuda Shofan, dr Dedi Purnomo, dr Gogilen A/L Gopal, dr Luhur Pribadi, dr Cokorde Istri Indraswari, dr Ni Putu Veny Kartika Yantie, dr Dini Rahmawati, dr Yuletta Adny Ambarsari dan dr Mitra Andini Sigilipoe. Gogilen A/L Gopal adalah salah dokter asal Malaysia yang juga diambil sumpahnya. [nik]Lokakarya Manajemen Sistem Informasi BAPSI Unibraw
27 November 2006Pembantu Rektor IV Prof Dr Umar Nimran MA, Senin 27/11, membuka Lokakarya Manajemen Sistem Informasi Terpadu BAPSI Universitas Brawijaya, di lantai VIII gedung Rektorat Unibraw. Lokakarya ini diikuti segenap pejabat di fakultas dan universitas, mulai dari pembantu dekan, ketua dan sekretaris jurusan, ketua program studi, para kepala biro dankepala bagian, serta para kepala sub bagian.
Peserta lokakarya ini mendapatkan pengarahan PR-IV dengan topik "Peranan Unit Kerja dalam Menunjang Keberlanjutan Sistem Informasi Manajemen BAPSI, mendengarkan laporan pelaksanaan kegiatan PCPT (program cakupan perguruan tinggi) serta penjelasan tentang prosedur layanan sistem informasi dari Kepala BAPSI, dan paparan tentang Sistem Informasi Terpadu BAPSI dari staf UPPTI (Unit Pengkajian dan Penerapan Teknologi Informasi) Unibraw.
Dalam pengarahannya, Prof Umar Nimran mengatakan, banyak kesalahan pengambilan keputusan diakibatkan oleh kekurangcermatan dalam menangani informasi yang masuk. Oleh karena itu, melalui forum lokakarya ini diharapkan peserta dapat saling memberi informasi, tukar-menukar informasi, dan berdiskusi dengan pakar-pakar di bidang informasi. Diakui pula, "kita ini lemah dalam hal pemutakhiran data".
Sementara itu, dalam kesempatan tanya-jawab, Dekan Fakultas Kedokteran dr Harijanto MSPH yang aktif dalam pengembangan IT di fakultasnya sejak tahun 80-an, berpendapat, yang perlu dikembangkan adalah utilisasi IT (information technology) itu sendiri. Semakin tinggi utilisasi maka semakin mudah IT dikembangkan. Tetapi kalau utilisasi rendah semakin sukar IT dikembangkan. Menurut dr Harijanto, data yang paling tinggi utilisasinya adalah data akademik, sedangkan data personalia tidak sebanyak itu diperlukan. Diusulkan agar memasukkan tugas-tugas updating data ini ke dalam tupoksi (tugas pokok organisasi) masing-masing level manajemen. Selain itu, dr Harijanto memandang perlu maintenance, termasuk maintenance sumberdaya manusia. Disadari betul bahwa tenaga di bidang IT adalah tenaga spesialis, yang tentunya memerlukan biaya mahal. Oleh karena itu perlu dipikirkan untuk memberikan jaminan masa depan bagi tenaga IT yang telah bekerja memelihara sistem informasi yang telah dimiliki universitas ini.
Ketika menutup lokakarya, Prof Umar berkesimpulan, "kita telah sampai pada kesadaran mengenai perlunya sistem informasi. Oleh karenanya marilah kita realisasikan bersama keinginan tersebut". [Far]Beasiswa Unggulan BPKLN Depdiknas
27 November 2006
Kontrak perjanjian kerja dalam bidang program beasiswa unggulan antara Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional (BPKLN Depdiknas) dan Universitas Brawijaya, awal bulan Oktober silam telah ditandatangani. Sebagai tindak lanjut, Rektor telah pula membentuk tim pengelola yang diketuai oleh Prof Ir Liliek Sulistyowati PhD dan Drs Andy Fefta Wijaya MDA PhD. Berdasarkan keputusan nomor 167A/SK/2006 tanggal 17 November 2006, terdapat tiga bidang pendidikan yang menjadi perhatian tim, yaitu bidang bioteknologi agroindustri (diketuai Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian), bidang bioteknologi perikanan dan kelautan (diketuai Pembantu Dekan I Fakultas Perikanan), dan bidang perencanaan pendidikan (diketuai Pembantu Dekan I Fakultas Teknik).
Tak berapa lama, Kepala BPKLN Depdiknas mengirimkan surat pemberitahuan hasil seleksi program beasiswa unggulan. Surat bernomor 51796/A7.4/LN/2006 tanggal 21 November 2006 itu, menyeleksi calon mahasiswa baru tahun akademik 2006/2007 yang memenuhi syarat akademik maupun administrasi sebagai mahasiswa baru Program S2 Bioteknologi Perikanan dan Kelautan, serta Program S2 Bioteknologi Agroindustri Universitas Brawijaya.
Dengan keputusan Rektor nomor 171/SK/2006 tanggal 27 November 2006, ditetapkan sejumlah 28 mahasiswa baru Program S2 Bioteknologi Perikanan dan Kelautan, dan 47 mahasiswa baru Program S2 Bioteknologi Agroindustri.
Mahasiswa baru Program S2 Bioteknologi Perikanan dan Kelautan (Program Studi Budidaya Perairan), adalah: Gunawan Abidin SPi MP, Kartika Uli SPi, Mahfud Heni Topan SPi, Yuni Setyaningsih SPi, Imam Irawan SPi, Rani Sasmita SSi, Basuki Wibowo SPi, Suwantini SSi, Budi Hariani SSi, Syarif Hidayat SSi, Iskandar Putra SPi, Muhammad Nur SPi, Tengku Said Karai SPi, Hengky Irawan SPi, Dian Iriani SPi, Dini Surilayani SPi, Devi Ulinuha SPi, Dwi Budi Wiyanto SPi, Yusmansyah SPi, Didit Eko Prasetyo SPi, Tri Prihatini SPi, Wazir Natan SPi, Ima Yudha Perwira SPi, Dony Barlianto SPi, Anjas Sasana SPi, Said Dolah SPi, Harwin Yonathan SPi, dan Yohanis B SPi.
Sedangkan mahasiswa baru Program S2 Bioteknologi Agribisnis (Program Studi Ilmu Tanaman) terdiri dari: Shalahudin SHut, Zainudin SHut, Andry Pramudyanto ST (kimia), Sopian Hadi SP, Rolistiawati SP, Iswadi SP, Desy Haryani SP, Khoirun Nizam SP, Sri Rezeki Muria ST (kimia), Joko Darma Jaya SSi, Almaisarah SP, Doni IIham SHut, Nur Hidayah S Handayani SP, Gusti Rohmaniati Istarliyah SP, Mudyawati SSi, Renitawati STP, Askur Rahman STP, Emma Ratna Fiorentina STP, Sri Nurhayati SP, Bram Hadi Wijaya SP, Elvi Kurniawati SP, Rahmat Dzulfikry SP, Midia LW Handayani STP, Irisa Trianti SP, Amalia Sukma Agustina STP, Sakunda Anggarini STP, Ika Rachmatul Layly SSi, Dyah Kinasih Wurasil SSi, Richa Kusumawanti STP, Siwi Nugrahanti STP, Haryudian Prihastuti SHut, Indi Hendraswari SHut, Retno Wulandari SHut, Rolly Yulianthi SHut, Ahmad Rivai SHut, Rizky Ayu Kristanti SHut, Dina Richa SHut, Akbar Ciptanto SHut, Ahmad Zamroni SHut, Sendy Andika Nur SHut, Nurcholis Majid SHut, Dedy Hadriani SHut, Novi Arvarita SP, Tresina SHut, dan Eko Heryadi SHut.
Mewadahi putra-putri terbaik
Program beasiswa unggulan adalah program beasiswa yang dirancang guna mewadahi putra-putri terbaik dari seluruh nusantara untuk dididik menjadi kader-kader bangsa yang matang, cerdas, dan berkepribadian nasional Indonesia serta mampu membangun dan mengembangkan sumber daya daerahnya, sehingga mempunyai daya saing baik nasional maupun internasional. Program beasiswa ini meliputi program D-IV/S1, master dan doktor, baik di dalam maupun di luar negeri. Pola pembiayaan beasiswa ini menggunakan pola sharing antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota maupun industri.
Program beasiswa unggulan merupakan bagian program di dalam Renstra Depdiknas tahun 2005-2009, yang diberi nama Persemaian Insan Indonesia Cerdas (PIIC). Koordinator program adalah Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Depdiknas. [Far]
Untuk mengetahui tujuan dan persyaratan peserta program beasiswa unggulan, silakan klik situs ini: http://www.beasiswaunggulan.depdiknas.org/hal_tujuan.phpBalon Berhadiah Dies Natalis ke-44 Unibraw Ditemukan
27 November 2006Berbeda dari tahun sebelumnya, balon berhadiah dalam rangka Dies Natalis Universitas Brawijaya yang selalu diterbangkan setiap 5 Januari, dalam peringatan HUTnya kali ini diterbangkan pada 26 Nopember 2006. Penerbangan balon berhadiah itu dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan jalan sehat, sebagai kegiatan pembuka perayaan Dies Natalis ke 44. Adalah Paidi, seorang pekerja di PTPN XII (Persero), perkebunan Tempusari, Sirahkencong, Wlingi Kabupaten Blitar yang berhasil menemukan balon berhadiah senilai satu juta rupiah. Ayah dua orang putri yang sehari-hari memetik teh itu mengatakan balon berhadiah Universitas Brawijaya tersangkut di pohon pinus tidak jauh dari rumahnya. Serah terima hadiah dilakukan oleh Ali Farid SH disaksikan oleh Drs Rudjita. Paidi mengungkapkan, uang itu akan dimanfaatkan untuk membeli hewan ternak kambing. [nik]
Sistem Pelayanan Kesehatan Menghadapi Globalisasi
26 November 2006
Kesehatan merupakan modal bagi pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia dan sebagai modal bagi pelaksanaan pembangunan nasional yang pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Globalisasi yang marak dikampanyekan dalam semua lini sebagai tantangan maupun ancaman juga merambah wilayah kesehatan yang merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum. Hal inilah yang menjadi latar belakang bagi Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia BEM Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya untuk menyelenggarakan seminar nasional dengan tajuk “Globalisasi dan Sistem Pelayanan Kesehatan” di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya pada Minggu (27/11).
Ketua pelaksana, Aji Yusworo (mahasiswa FK angkatan 2003) mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membuka wawasan para peserta yang mayoritas mahasiswa kesehatan se-wilayah Malang Raya untuk mengantisipasi dan mempersiapkan berbagai hal menjelang era globalisasi tersebut. “Melalui kegiatan ini diharapkan dapat terbentuk frame berpikir pada beberapa elemen yang terkait langsung degan dunia kesehatan yaitu pemerintah sebagai regulator, masyarakat sebagai konsumen serta para awak kesehatan sebagai penyedia layanan jasa kesehatan merumuskan strategi ke depan”, ungkapnya.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dr Harijanto MSPH menyatakan bahwa isu globalisasi telah didengungkan sejak 10 tahun lalu pada era mantan Presiden Soeharto. “Pada waktu itu, mantan Presiden Soeharto telah memperingatkan kita semua untuk melakukan persiapan”, ungkapnya.
Tetapi hal ini menurut dr. Tatong demikian ia biasa dipanggil, tidak diindahkan oleh hampir seluruh elemen bangsa. Lebih lanjut ia menduga bahwa hal tersebut terkait dengan pameo yang beredar di kalangan masyarakat terutama masyarakat Jawa yang menyatakan, “Belanda Masih Jauh". “Akibat pameo ini, seluruh elemen bangsa menjadi terlena bahkan terlupa dengan semakin berjalannya waktu hingga pada saat ini “Belanda telah Sampai di Depan Mata”, ungkapnya. Akibatnya, menurut Dekan FK, kini seluruh elemen bangsa dikejar waktu dan terbirit-birit menghadapi globalisasi, dengan persiapan seadanya. “Bukan saatnya lagi kita kini membahas apa yang akan terjadi melainkan apa yang akan kita lakukan sekarang dan kedepan?”, ungkapnya. Menggambarkan kondisi globalisasi, dr. Tatong menyatakan bahwa pada saat itu mobilitas profesional kesehatan sangat tinggi, sehingga dituntut nilai-nilai profesionalisme dan daya saing. Dalam menghadapi hal ini, pihaknya selaku institusi pendidikan kesehatan di Indonesia telah mengupayakan standarisasi internasional dalam berbagai hal, salah satunya kurikulum disamping pengorganisasian dan pelembagaan profesi dengan regulasi dari pemerintah.
Hadir sebagai pemateri dalam acara yang dibuka oleh Pembantu Rektor III Universitas Brawijaya, Drs. Tjahjanulin Domai MS, adalah wakil dari pemerintah yang dalam hal ini menghadirkan Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Direktorat Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI dengan materi “Upaya Pemerintah dalam Membangun Sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia Pada Era Globalisasi”, Direktur RSSA Malang, dr. Pawik Supriadi SP JP(K) dengan materi “Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Pendidikan dalam Menghadapi Era Globalisasi” serta Indah Suksmaningsih dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dengan materi “Pandangan Konsumen Terhadap Sistem Pelayanan Kesehatan di Indonesia pada Era Globalisasi”. [nok]Jalan Sehat Dies Natalis
26 November 2006Sebagai pembuka rangkaian peringatan Dies Natalis ke-44 Universitas Brawijaya, Minggu 26/11, panitia menggelar acara Jalan Sehat. Acara ini diawali dari depan gedung Rektorat pukul 06.00 WIB. Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito dalam kesempatan tersebut menyampaikan sambutan dan memberangkatkan para peserta jalan sehat sebagai tanda dimulainya acara peringatan Dies Natalis secara resmi.
Jalan sehat ini menempuh rute sejauh 5 kilometer: depan Perpustakaan Unibraw - jalan poros Kampus Unibraw - Jalan Veteran - Jalan Bandung - Jalan Besar Ijen - Jalan Jakarta - Jalan Surabaya - Jalan Bogor - Jalan Veteran - jalan poros Kampus Unibraw - depan Perpustakaan Unibraw.
Acara diikuti segenap sivitas akademika, para pimpinan universitas dan fakultas serta lembaga, para pensiunan, klub Jantung Sehat, dan masyarakat sekitar kampus. Dari panitia, peserta mendapatkan sarapan pagi secara gratis. Selain itu, panitia menyediakan hadiah utama berupa 1 sepeda motor VIAR Star Kit, televisi, kulkas, radio tape karaoke, sepeda gunung, dan ratusan hadiah hiburan lainnya. Pengundian hadiah diadakan di atas panggung hiburan yang digelar seusai jalan sehat di lapangan depan Rektorat. Penyanyi top kota Malang ikut memeriahkan acara ini.
Kupon undian dapat diambil pada Bagian Tata Usaha masing-masing fakultas dan unit kerja. Sedangkan bagi mahasiswa dan umum, kupon dapat diambil di Bagian Umum (gedung Rektorat lantai IV). [Far]Ir Hj Siti Achsanah Meninggal Dunia
26 November 2006
Meninggal dunia: Ir Hj Siti Achsanah (63 tahun), dosen senior Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, Minggu 26 November 2006, sekitar pukul 3.00 WIB. Dosen pada program studi teknologi hasil perikanan itu selama bertahun-tahun mengidap diabetes mellitus, dan untuk tahun ini saja telah keluar-masuk rumah sakit sebanyak 5 kali.
Jenazah almarhumah, setelah dimandikan dan disemayamkan sejenak di rumah tinggalnya, Jalan Saturnus 7 Tlogomas, Malang, sekitar pukul 9.00 WIB dishalati di Masjid Asy Syahriyah, Kompleks Perumahan Dosen dan Karyawan Unibraw, dan langsung diberangkatkan untuk dimakamkan di tanah kelahirannya, Probolinggo. Para karib kerabat, handai tolan, dan teman sejawat mengantarkan kepergiannya.
Ir Hj Siti Achsanah, adalah perempuan kelahiran Probolinggo, 20 Maret 1943. Karir sebagai tenaga pengajar diawali sejak 1974 sebagai asisten (golongan II/b) hingga kini mencapai jabatan lektor kepala (golongan IV/a) setelah mengabdikan diri selama 32 tahun, mendapatkan anugerah Satyalancana Karyasatya 20 tahun. Selama hidupnya, almarhumah dikenal sebagai pribadi yang ramah, sangat bersahabat, dan penuh dedikasi. [Far]Olimpiade Karya Tulis Islam Medis
25 November 2006
Sebagai upaya untuk melakukan analisis pengobatan yang bersumber dari Allah dan RasulNya dari segi ilmiah, Lembaga Kerohanian Islam (LKI) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang menyelenggarakan “Olimpiade Karya Tulis Islam Medis (OASIS)". Kegiatan ini diselenggarakan di Laboratorium Biomedik FK UB pada Sabtu (25/11). Salah seorang panitia, Dina Arieska (mahasiswa FK angkatan 2005) menjelaskan, kegiatan bertema “Mencetak Generasi Muslim yang Ber-tsaqofah Islamiyah dan Ilmiah” ini terinspirasi dari salah satu ayat dalam Al Qur’an, Al Mujadillah ayat 11 yang menyebutkan bahwa Allah meninggikan orang-orang yang berilmu yang menjadi motivasi awal untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Olimpiade ini diikuti 8 judul dari 5 perguruan tinggi ternama di Indonesia, yaitu “Bekam/Al Hijamah Dari Mekanisme Terapi Sampai Rahasia Ilmiah Yang Mencengangkan” (UGM), “Madu sebagai Terapi Penunjang Chloramphenicol pada Pengobatan Demam Tifoid (Unibraw), “Manfaat Jinten Hitam untuk Pengobatan Kanker Ditinjau dari Aspek Islam dan Ilmiah” (Unibraw), “Kurma sebagai Diet Penyakit Hepatitis” (Unibraw), Terapi Bekam sebagai Sunnah Rasul Ditinjau dari Ilmu Kedokteran” (UI), “Madu sebagai Obat Ajaib” (UGM), “Hikmah Lima Shalat Wajib Tepat Waktu sebagai Cermin Hidup Sehat untuk Mencegah Stress Hormon” (Unair) dan “Peran Habatussuda dalam Menghambat Proses Inflamasi” (Universitas Andalas). Bertindak sebagai juri adalah Dr. Sri Winarsih Apt MSi, dr. Viera Wardhani MKes dan Ustads Ahzar Reza. Kegiatan ini akhirnya dimenangkan oleh Universitas Indonesia sebagai Juara I yang berhak atas uang tunai senilai Rp 1 juta, disusul Universitas Airlangga sebagai Juara II yang berhak atas uang tunai senilai Rp 800 ribu dan Universitas Brawijaya sebagai Juara III yang berhak atas uang tunai senilai Rp 700 ribu. [nok]Workshop Penulisan Karya Ilmiah FIA Unibraw
25 November 2006Memanfaatkan SP4, berbagai fakultas di lingkungan Universitas Brawijaya termotivasi dan terakomodasi untuk terus meningkatkan pelayanan proses belajar mengajar (PBM). Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), dengan dana SP4 pula menyelenggarakan Workshop Penulisan Karya Ilmiah.
Prof Ir Budiono Mismail MSEE PhD, gurubesar teknik elektro Unibraw, membawakan judul “Kiat Penulisan Buku Ajar”. Sedangkan tim dari Penerbit Bayumedia Malang yang terdiri atas Drs Setiyono Wahyudi DNg, Chamim Tohari dan Iwan Setyawan, menyampaikan “Mekanisme Penerbitan Buku dan Menjadi Penulis”.
Prof Budiono menyampaikan, lembaga pendidikan bukan hanya dituntut untuk menjadikan lulusan yang terdidik saja. Lebih dari itu, lulusan juga harus mampu selalu mendidik diri dan lingkungannya. Untuk itu, menurut Prof Budiono, perguruan tinggi perlu memiliki sumber daya manusia terutama para dosen yang terampil menghasilkan karya tulis, baik berupa laporan penelitian, buku ajar asli, rakitan maupun terjemahan, yang merupakan salah satu media penerus ilmu yang utama sekaligus sebagai upaya untuk melestarikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian dari pembangunan bangsa.
Prof Budiono yang telah menerbitkan 16 buku teks dan 27 diktat yang telah dipakai di lingkungan Universitas Brawijaya ini, menjelaskan bahwa buku ajar adalah buku yang digunakan dalam mempelajari suatu pokok bahasan yang mengandung prinsip-prinsip dalam pokok bahasan itu dan/atau suatu karya tulis yang berkaitan dengan pembelajaran tentang pokok bahasan tersebut. Lebih lanjut, ia memaparkan secara rinci kelayakan sebuah buku ajar. “Buku ajar yang baik dapat dilihat dari berbagai indikasi diantaranya lingkup yang terbatas dan jelas, menggunakan contoh dan soal-soal, gaya yang konsisten serta susunan yang masuk akal”, ungkapnya.
Dipaparkan pula, dalam mengupayakan kualitas buku teks baik dari isi tulisan maupun keterbacaannya, Prof Budiono membekali 50 staf pengajar di lingkungan FIA Universitas Brawijaya dengan berbagai syarat. Diurainya dalam kesempatan tersebut, beberapa syarat yang dibutuhkan adalah penguasaan materi atau pokok bahasan yang akan ditulis, penguasaan bahasa asing, penguasaan bahasa Indonesia dengan baik, penggunaan kiat penulisan dan pengetahuan pasar.
Sementara itu, Setiyono Wahyudi memulai dengan berbagai kiat dalam penulisan buku yang memiliki nilai jual, dimulai dari karakteristik “Sang Lain” yang ada dalam buku tersebut, standar buku yang memiliki kelayakan jual sampai pada design cover buku yang menarik. Dalam kesempatan itu, Setiyono juga memaparkan kegiatan publishing dan pengorganisasiannya. Usai kegiatan workshop yang dibuka oleh Dekan FIA Universitas Brawijaya, salah seorang dosen dari Jurusan Administrasi Bisnis, Devi Farah Azizah SSos MAB mengatakan bahwa pihaknya selaku dosen muda pada jurusan tersebut merasa terbantu dengan adanya workshop kali ini.
Diakuinya, minat menulis di kalangan rekan-rekan sejawatnya memang rendah ditambah lagi mayoritas dari mereka tidak tahu mekanisme penjualan (komersialisasi) buku yang telah mereka buat. Devi yang memiliki minat dalam pengembangan disiplin ilmu Sistem Informasi Manajemen (SIM) sangat berharap agar kerjasama antara penulis dan penerbit dapat terjalin sedemikian rupa sehingga upaya penerbitan buku yang selama ini terputus dapat diselesaikan.
Sementara itu, Sekretaris Jurusan Administrasi Bisnis, Drs Wasis A Latief MP sangat berharap dengan awalan kegiatan ini para dosen di lingkungan FIA Unibraw dapat lebih kreatif dalam menulis dan menerbitkan buku hasil karyanya tersebut. [nok]Rapat Koordinasi Kehumasan Depdiknas
25 November 2006Kepala Sub Bagian Pelayanan Informasi, Mulyaningwati SSos, selama 5 hari, 19-23 November 2006, mengikuti Rapat Koordinasi Kehumasan Departemen Pendidikan Nasional. Rakor berlangsung di Hotel Quality Solo, diikuti 83 orang peserta dari 100 orang yang diundang, terdiri dari para pejabat humas Diknas tingkat provinsi, perguruan tinggi negeri, dan politeknik negeri. Berikut adalah laporannya.
Rakor bertema "Meningkatkan Peran Humas dalam Membangun Pencitraan Publik Pendidikan Nasional" ini dibuka oleh Kepala Pusat Informasi dan Humas Depdiknas, Bambang Wasito Adi SH MSc.
Dalam rakor tersebut, setidaknya 10 materi disampaikan oleh pakar yang berkompeten. "Strategi Pengembangan Jejaring Kehumasan Pusat dan Daerah" disampaikan oleh Bambang Wasito Adi SH MSc, "Membedah Persoalan Komunikasi DPR RI dengan Pemerintah" (Drs M Djoko Santoso, Komisi X DPR RI), "Kelembagaan dan Jabatan Kehumasan" (Prof H Komarudin MA, Staf Ahli Menpan), "Koordinasi Fungsi Kehumasan di lingkungan Dinas-dinas Depdiknas" (Drs Soebagyo MS Ketua Bakohumas), "Strategi Publikasi Kebijakan Pemeritah dalam Bidang Pendidikan" (Drs M Fauzie Syuaib MPd, pakar komunikasi UI), "Peran Media Cetak dalam Dunia Pendidikan" (Abun Sanda/Kompas; Danie H Soe’oed/Solo Pos; Sasongko Tedjo/Suara Merdeka/Ketua PWI Jateng), "Kemitraan Humas dan Pers" (Mulya Achdami, Ketua Forum Wartawan Pendidikan), "E-Public Relations" (Agus Windharto DEA/ITS; Joko Sarwono dan Eko Mursito/ITB), "Prosepek Humas di Masa Depan" (M.Thoriq, Konsultan Humas Depdiknas), "Peran Humas dalam Pemerintahan" (Ferdiansyah, Komisi X DPR RI), dan "Etika Jurnalistik dan Hak Jawab" (Hinca Panjaitan, Dewan Pers).
Selain itu juga diadakan diskusi kelompok dengan tiga topik berbeda, yaitu "Strategi Kehumasan", "Strategi Organisasi dan Kelembagaan Humas di Instansi Pendidikan di Daerah dan Perguruan Tinggi", dan "Strategi Koordinasi dan Jejaring Kerja Kehumasan", serta acara teleconference. Rakor ditutup oleh Staf Khusus Mendikas bidang Komunikasi Publik, Teguh Juwarno.
Penting, tapi ...
Dari rakor kehumasan itu mengemuka ungkapan "Humas punya peran penting, tapi dianggap tidak penting". Diakui bahwa Humas mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting dan strategis, karena humas merupakan sarana pencitraan publik dan membentuk image yang baik bagi instansi yang bersangkutan. Humas diketahui berfungsi sebagai "penjual" dari apa yang dihasilkan instansi, sehingga seharusnya memiliki akses langsung pada top management dan jajarannya. Tetapi pada kenyataannya, Humas masih banyak yang dianggap tidak penting, bahkan hanya dipandang sebelah mata. Sehingga banyak terjadi posisi Humas di berbagai instansi masih dititipkan pada bagian-bagian tertentu, tidak memiliki dana yang pasti, bahkan terkadang kantornya pun sulit dicari. Tetapi rakor juga mengakui, memang ada beberapa intansi yang humasnya sudah mapan, seperti Diknas DKI, ataupun perguruan tinggi negeri yang sudah berstatus BHP (badan hukum pendidikan), seperti ITB, IPB, dan UGM.
Pranata Humas
Mengenai jabatan fungsional pranata kehumasan bagi staf yang bertugas di Humas, ternyata masih banyak instansi yang belum menerapkannya dengan berbagai alasan. Di antaranya, kesulitan dalam pengumpulan angka kredit (cum), dan banyaknya staf humas yang sudah mendekati masa pensiun.
Sementara itu diinformasikan bahwa Humas Depdiknas sejak bulan September 2005 mengalami perubahan nama dan status, menjadi Pusat Informasi dan Humas, berada di bawah Sekretariat Jenderal Depdiknas. Dan sejak tujuh bulan terakhir telah melakukan berbagai pembaharuan struktur organisasi.
Rekomendasi
Dari diskusi kelompok diusulkan dan direkomenasikan antara lain: Humas perguruan tinggi secara fungsional harus mempunyai akses dengan top management dan jajarannya; posisinya Humas di dinas-dinas diupayakan menempati eselon III/a; perlu segera dibentuk jejaring kehumasan agar komunikasi antar humas dari pusat ke daerah dan sebaliknya dapat terjalin dengan baik, untuk ini diperlukan sarana dan prasarana yang memadai; diupayakan dana block grant untuk peningkatan kineja kehumasan.
Rekomendasi dan usulan ini menurut Kepala Pusat Informasi dan Humas Depdikanas akan diteruskan kepada Mendiknas dan Menpan. Namun sebelumnya akan disempurnakan terlebih dahulu melalui diskusi-diskusi lanjutan, terutama dengan perguruan tinggi dan dinas yang lokasinya dekat dengan pusat. Bahkan Kepala Pusat nantinya akan mengupayakan untuk mengajak 3 Humas terbaik dari seluruh Indonesia untuk studi banding ke luar negeri. Pada bulan Desember 2006, rencananya ada pertemuan lanjutan untuk peningkatan kinerja Humas. [MW]Pelatihan bagi Pelatih SIM Berbasis ICT
25 November 2006Pemanfaatan teknologi informasi mulai gencar disosialisasikan di lingkungan dunia pendidikan di seluruh Indonesia. Guna keperluan tersebut, Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional bekerjasama dengan Universitas Brawijaya menyelenggarakan kegiatan yang diberi tajuk “Training of Trainer SIM Perencanaan, Kepegawaian, Sarana Prasarana dan Pelaporan Berbasis ICT”. Penyelenggaraan kegiatan ini terbagi di dua tempat selama sepuluh hari, yaitu di Student Computer Service (SCS) Universitas Brawijaya, dan di Politeknik Negeri Malang mulai Senin 20/11 hingga Rabu 29/11.
Novanda P Judha selaku penanggung jawab kegiatan dari Depdiknas mengatakan, pelatihan ini merupakan satu upaya untuk mesyarakatkan teknologi informasi di lingkungan Depdiknas. ”Dengan pemanfaatan TI, diharapkan data dari daerah dapat masuk ke pusat secara cepat, tepat dan akurat sehingga dapat menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan”, ungkapnya.
Dalam pelatihan entry data SIM berbasis web, kali ini antara lain dibahas: SIM Perencanaan, SIM Kepegawaian, SIM Sarana dan Prasarana, serta SIM Pelaporan. Kegiatan diikuti oleh 452 peserta yang terbagi dalam 3 periode. Periode I diikuti oleh 165 peserta dari Dinas Pendidikan Propinsi dan Balai Bahasa, kemudian periode kedua diikuti oleh 202 peserta dari perguruan tinggi dan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) dan periode ketiga diikuti oleh 85 peserta dari politeknik seluruh Indonesia, Balai Grafika, Balai Kepemudaan, SEAMEO, serta satuan kerja dan 7 unit utama di lingkungan Depdiknas. [nok]Ekspresi Mahasiswa Arsitektur Universitas Brawijaya
25 November 2006Serangkaian kegiatan yang terkemas dalam acara bertajuk “Expression of Arch” diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur Universitas Brawijaya. Ketua Panitia, Baskoro WK (mahasiswa angkatan 2003) menjelaskan, kegiatan ini sebagai upaya melakukan ekspose terhadap berbagai karya baik akademik maupun non akademik para mahasiswa Arsitektur Universitas Brawijaya.
Berbagai acara digelar di gedung Sasana Samanta Krida Universitas Brawijaya selama 3 hari, mulai Kamis 23/11 hingga Sabtu 25/11. Antara lain: pameran karya mahasiswa, klinik arsitektur, penampilan band, kuliah tamu, lomba fotografi, lomba menggambar dan mewarnai bagi anak-anak, serta temu alumni.
Lebih dari 500 pengunjung telah datang ke lokasi pameran. Lima perguruan tinggi di Jawa Timur, yaitu ITS, UPN Surabaya, Universitas 17 Agustus Surabaya, ITN dan Unibraw, ikut ambil bagian dengan menampilkan berbagai karya mahasiswa pada stan-stan yang tersedia. Dipamerkan konsep dan gambar kerja 2 dimensi dan 3 dimensi serta maket desain bangunan. Masyarakat umum pun ada yang memanfaatkan klinik arsitektur untuk mendapatkan layanan konsultasi gratis mengenai bangunan rumah tinggal, perkantoran, ataupun ruko.
Sementara itu kuliah tamu “Baja sebagai Material Bangunan” dari Bluescope Steel, diikuti banyak mahasiswa yang tertarik dengan struktur bangunan. “Bluescope juga memamerkan salah satu hasil rancangannya dalam pameran kali ini”, tutur Baskoro mengakhiri penjelasannya. [nok]In House Training Sistem Informasi Database BAPSI
24 November 2006Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi (BAPSI) dituntut untuk memiliki database yang akurat, terkini, dan beranggotakan sumber daya manusia yang profesional dalam bidang teknologi informasi. BAPSI Universitas Brawijaya dalam rangka meningkatkan kemampuan tenaga operasional BAPSI dalam proses aplikasi database, proses analisis, dan intepretasi data dari sistem database yang dikembangkan, meningkatkan kemampuan tenaga operasional BAPSI dalam pelayanan penyajian database yang cepat dan akurat serta agar mampu menjalankan dan melakukan monitoring evaluasi sistem database yang dikembangkan, menyelenggarakan in house training pada 24 Nopember 2006. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh staf BAPSI ini dibuka oleh Kepala BAPSI Dra Siti Romlah.
Penanggung jawab pelaksanaan in house training Mulyaningwati SSos menyatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Cakupan Perguruan Tinggi melalui Program SP4 Direktorat Pendidikan Tinggi tahun 2006. Ruang lingkup kegiatan ini meliputi pengenalan basis data dalam sistem database perencanaan, aplikasi data entry, pengolahan data, analisis dan intepretasi sistem database, mengidentifikasi serta mengevaluasi keakuratan data/informasi yang disajikan, serta melakukan pengembangan dan penyempurnaan sistem database (monitoring keterkinian data yang dilakukan setiap unit kerja). Bertindak sebagai pemateri yaitu Nanang Yudi Setiawan ST.
Lebih lanjut Mulyaningwati mengungkapkan BAPSI Universitas Brawijaya selama ini masih menghadapi berbagai kendala dalam meningkatkan kualitas layanannya. Permasalahan itu terdiri dari adanya kompleksitas keragaman dan ketersediaan data, jangka waktu proses pengelolaan data yang cukup lama, dan pengolahan data masih dilakukan secara manual. Selain itu, rendahnya kemampuan staf BAPSI dalam proses analisis dan intepretasi data yang berakibat pada lamanya pimpinan dalam pengambilan keputusan perencanaan, kurangnya kemampuan staf BAPSI dalam penyajian database yang cepat, tepat dan akurat dan berakibat pada kesalahan mengintepretasikan informasi, serta belum adanya pemahaman dan penguasaan spesifikasi standart database berbasis teknologi informasi dan sistem informasi database perencanaan juga merupakan masalah yang dialami BAPSI Universitas Brawijaya. Agar kegiatan in house training berjalan efektif dan efisien, setiap peserta berkesempatan untuk langsung mengoperasikan komputer, sebagai salah satu alat yang sangat dibutuhkan dalam pengelolaan sistem informasi. [nik]Prihatin Tiyanto PH: PTS Harus Senantiasa Tingkatkan Kualitas Layanan
22 November 2006Perguruan tinggi harus dapat menyediakan pendekatan organisasi yang sehat, pendekatan pragmatis terintegrasi dengan kemampuan memahami dinamika proses perubahan, dan secara proaktif mengemudikan perubahan organisasi. Di dalam mengembangkan strategi pemasaran, aspek kunci perguruan tinggi adalah memelihara keseimbangan dengan mempertahankan dan menarik mahasiswa baru.
Demikian ungkap Drs Prihatin Tiyanto Priagung Hutomo MT dalam disertasi berjudul ”Pengaruh Strategi Organisasi, Hubungan Pemasaran, Pembelajaran Organisasi dan Kinerja terhadap Kualitas Layanan (Studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Tengah)”. Ujian terbuka disertasi ini berlangsung di Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Rabu 22/11. Bertindak sebagai promotor Prof Dr Eka Afnan Troena SE dengan kopromotor Prof Armanu Thoyib SE MSc PhD dan Dr Ir Solimun MS. Dosen penguji terdiri dari Prof Dr HM Syafi’i Idrus SE MEc., Prof Dr Hj Djumilah Zain SE dan Prof Dr Christiatius Dwi Admaja SE.
Prihatin lebih lanjut mengungkapkan, program studi pada sebuah perguruan tinggi yang mampu memperbaiki hubungan pemasaran, akan mampu bertahan dan dapat meningkatkan keberlanjutan eksistensinya. Sebuah perguruan tinggi harus mampu menciptakan layanan yang berorientasi pada lingkungan agar dapat membantu menarik, mendidik dan mempertahankan kualitas lulusan. Dengan demikian, program studi yang mampu memperbaiki kualitas layanan akan diakui dan dipercaya customers, stakeholders serta mampu menghadapi persaingan yang semakin kompetitif.
Menggunakan sampel mahasiswa dari 15 universitas di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah yang telah memperoleh akreditasi dari BAN PT, hasil penelitian Prihatin menunjukkan, hubungan pemasaran yang dilakukan perguruan tinggi, melibatkan kepentingan pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Ternyata, perbaikan kepentingan pelanggan internal dan eksternal menunjukkan telah terjadi proses perbaikan pembelajaran organisasi. Perbaikan kepentingan pelanggan internal berarti meningkatkan perbaikan tingkat kepuasan mahasiswa, sementara perbaikan kepentingan pelanggan eksternal berarti mampu meningkatkan kepercayaan dan kepuasan stakeholders. Program studi yang secara emosional melibatkan kepentingan mahasiswa dan stakeholder menurut Prihatin, akan diakui eksistensi serta kredibilitasnya oleh pelanggan dan pesaing.
Hubungan pemasaran pada perguruan tinggi swasta hendaknya melibatkan dimensi kemahasiswaan, tenaga pengajar dan pendukung, kurikulum, sarana dan prasarana serta pendanaan. Hasil penelitian juga menunjukkan, mutu pelayanan belum menjadi budaya ’way of life’ sebuah program studi sehingga tidak mencerminkan perilaku mutu pelayanan yang diberikan, sehingga menunjukkan bahwa program studi tidak siap terhadap hubungan pemasaran sebagai faktor kunci perbaikan kualitas layanan. Kualitas layanan cenderung berjalan di tempat dalam lingkup internal, serta berjalan secara tradisional.
Dr Drs Prihatin Tiyanto Priagung Hutomo MT (47 tahun), pria kelahiran Ambarawa 30 Mei 1959, adalah dosen Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Ayah 3 putra ini adalah sarjana ekonomi lulusan Universitas Diponegoro (1983) dan meraih gelar magister manajemen industri dari Institut Teknologi Bandung (1995). Dengan keberhasilannya dalam ujian terbuka ini, Prihatin Tiyanto PH berhak menyandang gelar doktor bidang ilmu ekonomi dengan minat manajemen. [nik]Aniek Masrevaniah: Kendalikan Polutan yang Masuk ke Sungai
21 November 2006Sungai di Indonesia merupakan badan penerima limbah padat yang berasal dari sebagian besar penduduk, serta limbah cair yang berasal dari industri, pertanian dan penduduk. Perkembangan kawasan hunian dan industri yang tidak dilengkapi fasilitas sanitasi maupun fasilitas pengolahan limbah yang tidak mencukupi menyebabkan beban polusi pada aliran sungai di Jawa melampaui tingkatan yang membahayakan.
Demikian Aniek Masrevaniah dalam disertasi berjudul ”Model Aliran Polutan di Sungai (Studi Kasus Sungai Brantas Tengah)”. Ujian disertasi Aniek yang digelar Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Selasa 21/11, dipromotori oleh Prof Dr Ir Sumarno MS dengan kopromotor Prof Dr Ir Chandrawati Cahyani MS dan Ir Agus Suharyanto MEng PhD. Tim dosen penguji terdiri dari Dr Ir Chasan Bisri, Ir Widyawati B Dipl HE PhD, Ir Gunawan Wibisono Dipl HE PhD, dan Prof Dr Ir H Nadjadji Anwar MS dari Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya.
Dalam disertasi itu Aniek mengemukakan, sungai di Indonesia umumnya merupakan sungai alam yang tidak terpelihara morfologinya, memiliki penampang yang tidak teratur, dan pembuangan limbah cair dari DAS yang juga tidak teratur, baik dari segi kualitas maupun jarak masuknya.
Pada sungai-sungai besar seperti Sungai Brantas telah dipasang alat pemantau kualitas air yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta I. Pemantauan yang dilakukan menghabiskan biaya pemasangan dan biaya operasi yang tidak sedikit.
Dalam menggambarkan tingginya tingkat pencemaran sungai, Aniek menggunakan parameter kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) untuk mewakili kompleksitas parameter tercemar yang ada di Sungai Brantas Tengah. Nilai DO pada badan sungai merupakan interaksi antar beberapa unsur material terlarut yaitu BOD, N dan P. Model aliran polutan di Sungai Brantas Tengah dirunut mulai dari stasiun pengamat kualitas air Jembatan Jeli di Kediri, sampai dengan Jembatan Padangan di Mojokerto sepanjang 98 km.
Hasil penelusuran polutan itu disajikan Aniek dalam bentuk grafik hubungan DO dan jarak. Grafik dari data penelusuran sepanjang tahun 2003 menunjukkan, fluktuasi DO yang diakibatkan besar dan jarak masuknya polutan yang tidak beraturan. Bentuk morfologi sungai yang tidak beraturan meningkatkan turbulensi, sehingga memungkinkan pemurnian air Sungai Brantas Tengah berjalan dengan baik. Turunnya DO yang tiba-tiba dari data yang ada menunjukkan adanya masukan polutan dengan konsentrasi yang tinggi, namun sungai mampu memulihkan dengan cepat. Aniek selanjutnya merekomendasikan agar kita mengendalikan polutan yang masuk ke sungai dengan cara mengatur waktu masukan polutan, terutama limbah cair dari industri serta mengatur beban limbah cair bila didirikan industri baru.
Dalam yudisium, Aniek Masrevaniah dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan (IPK 3,87) dan berhak menyandang gelar doktor dalam ilmu pertanian dengan minat teknik sumber daya air.
Dr Ir Aniek Masrevaniah Dipl HE (59 tahun), perempuan kelahiran Blitar, 12 Juni 1947, menyelesaikan sarjana teknik sipil (Ir) Universitas Brawijaya (1977), dan mendapatkan Diploma on Hydraulic Engineering di IHE Delf, Netherland (1981). Pernah bekerja sebagai staf perencanaan proyek induk serbaguna proyek Brantas Malang (1973-1979) sebelum akhirnya bergabung dengan Universitas Brawijaya sebagai dosen pada Jurusan Pengairan Fakultas Teknik sejak 1979. Dr Ir Aniek Masrevaniah pernah menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Pengairan (1979-1980), Ketua Jurusan Pengairan (1985-1990), serta anggota Senat Fakultas Teknik dan Senat Universitas Brawijaya selama dua periode, 1990-1993 dan 1998-2001. [nik]Pemenang Lomba Desain Logo Unibraw
21 November 2006Melalui Keputusan nomor 163/SK/2006, tanggal 14 November 2006, Rektor menetapkan pemenang lomba desain logo Universitas Brawijaya. Penghargaan berupa sertifikat dan uang tunai Rp 3 juta diberikan kepada pemenang utama, Saiful Islam dari Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro. Sementara penghargaan berupa sertifikat dan uang tunai Rp 500 ribu, masing-masing diberikan kepada empat pemenang partisipatif, yaitu: Aditya Kurniawan (Fakultas Pertanian Jurusan Budidaya Pertanian), Shafia Islamia Ishar (Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur), Nizar Luthfiansyah (Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil), dan Dian Kurnia Arismawan (Fakultas Teknik Jurusan Mesin).
Hadiah bagi para pemenang lomba desain logo ini akan diserahkan hari Minggu, 26 November 2006, pukul 06.00 WIB, bersamaan dengan acara jalan sehat dalam rangka Dies Natalis ke-44 Universitas Brawijaya, di tempat pemberangkatan lapangan depan Rektorat.
Be the best
Lomba desain logo ini didasari tuntutan pendidikan tinggi yang semakin meningkat, sehingga dalam rangka promosi Universitas Brawijaya memerlukan identitas baru dalam bentuk logo.
Desain karya Saiful Islam yang terpilih, berlatar belakang warna biru tua (deep navy; R=0, G=0, B=102), gambar dan huruf warna kuning keemasan (gold; R=202, G=151, B=50). Terdapat kalimat "Join UB be the Best" sejajar di samping kanan bulatan. Sementara itu tulisan "University of Brawijaya" sejajar dengan ujung sayap sebelah kanan. Tulisan dan gambar dicetak dengan efek timbul (3 dimensi). Jenis huruf yang digunakan adalah Franklin Gothic Book.
Makna
Makna yang terkandung di dalam logo tersebut, kalimat "Join UB be the Best" merupakan moto Universitas Brawijaya yang berupaya menjadi yang terbaik. Tulisan "UB" dalam bulatan menggambarkan keberadaan Universitas Brawijaya selalu dinamis dalam masyarakat dunia. Sayap berjumlah 3 buah mengelilingi bulatan bola dunia, menunjukkan tiga pilar Tridharma Perguruan Tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) yang bertaraf internasional. Warna emas pada huruf dan gambar mengandung arti kebijaksanaan dan kejayaan. Warna biru sebagai latar belakang menggambarkan bahwa Universitas Brawijaya bersifat universal. Bingkai (frame) berbentuk bujur sangkar (seimbang pada semua sisi) memberi arti berkeadian (fairness). [Far]Launching Forum Kajian Sains dan Al Qur’an (FKSA) PPS UB
19 November 2006
Berangkat dari kesadaran untuk lebih memperluas dan memperdalam pemahaman terhadap isi kandungan Kitab Suci Al Qur’an dengan latar belakang kepakaran ilmu, Program pascasarjana Universitas Brawijaya berupaya menghidupkan Forum Kajian Sains dan Al Qur’an (FKSA). Dijelaskan Direktur PPS Universitas Brawijaya, Prof Dr dr Djanggan Sargowo SpJP (K), forum kajian ini senantiasa memfasilitasi pakar-pakar dan peneliti-peneliti dari berbagai bidang ilmu untuk mengkomunikasikan dan mendialogkan hasil-hasil kajiannya. “Dengan cara ini, diharapkan wawasan dan pemahaman kita atas isi dan kandungan Al Qur’an menjadi lebih baik, dan pada akhirnya nilai-kualitas amal shaleh kita menjadi lebih banyak dan lebih baik”, tuturnya.
Bekerja sama dengan berbagai pihak, ke depan kegiatan FKSA akan lebih semarak dengan kesediaan beberapa narasumber menyampaikan pokok-pokok pikirannya melalui forum ini. Di antaranya, Prof H Amien Rais, Prof H Mahfud MD, Prof H Dien Syamsudin, KH Hasyim Muzadi, H Agus Mustofa, Prof H Imam Suprayogo, Dr Hj Lily Agustina, Prof H Armanu Thoyib, serta Prof H Suroso I Jazuli.
Pada acara launching FKSA di gedung baru PPS Universitas Brawijaya pada Minggu (19/11), hadir narasumber Prof Dr Fuad Amsyari MPH PhD (guru besar Unair Surabaya) dengan materi “Keterkaitan antara Ayat Kauniyah-Qauliyah", Prof Dr Ir Ika Rochdjatun Sastrahidayat (guru besar pertanian Unibraw dan pembina Forum Kajian Islam dan Sains “Bhima Sakti” Malang) dengan materi “Forum Silaturrahmi: Peranan Islam untuk Kedamaian Dunia”, dan Hanafi Pratomo (ICMI Orwil Jawa Timur) dengan materi “Di samping PKI, Gerakan JIL Sangat Membahayakan Hari Depan Umat”.
Kauniyah-Qauliyah
Dalam paparannya, Fuad Amsyari mengatakan, ayat-ayat qauliyah yang hakikatnya adalah dienul Islam, memerintahkan manusia untuk mendalami sains dengan meneliti 3 kelompok obyek, yaitu benda mati, makhluk hidup (termasuk individu manusia) dan kelompok masyarakat. “Al Qur’an dan Hadits Nabi tegas menyatakan bahwa manusia harus banyak mencari ayat kauniah dengan kajian mereka sendiri”, ungkapnya. Secara khusus, ia menyebut bahwa dunia non Islam (barat) maju dalam sains dan teknologi disebabkan 3 hal yaitu kerja manusianya yang profesional, memegang kunci teknologi serta dana dan peralatan penelitiannya yang tercukupi. Sains sendiri sebagai objek kajian menurutnya memiliki beberapa kelemahan, hanya mencakup kaidah di dunia empiris dan tidak dapat menyentuh dunia ghaib/non empiris disamping kesulitannya dalam upaya mencari kaidah-kaidah sosial-ekonomi-politik dalam masyarakat manusia. Melengkapi kelemahan ini, menurut Fuad kandungan Al Qur’an dan Hadits Nabi justru mengisinya. “Islam banyak memberi tuntunan pada dunia ghaib dan kaidah-kaidah sosial-hukum-ekonomi-politik, disinilah kesempurnaan Islam”, katanya.
Lebih lanjut diungkapkan Fuad, manusia akan berkualitas tinggi jika mendalami secara simultan Al Qur’an-Sains-Hadits sehingga tahu kehidupannya secara utuh. “Bandingkan jika hanya mendalami sains saja atau jika mengabaikan sains sama sekali”, katanya. Menatap tantangan ke depan dan merefleksikan kelemahan umat ditinjau dari sisi Islam dan sains, menurut Fuad, umat Islam memiliki permasalahan serius, yang dikelompokkan dalam 4 golongan, meliputi umat yang mendalami Islam tanpa sains, mendalami sains tanpa Islam, tidak mendalami keduanya dan mendalami Islam dan sains tapi tidak menerapkannya dalam praktek hidup nyata di dunia. Menghadapi hal ini menurut Fuad perlu diperhatikan salah satu prinsip bahwa pendalaman maksimal terhadap Al Qur’an, Hadits Nabi dan Sains perlu dukungan politik dimana negaralah yang dapat memberi dana, peralatan maksimal dan kunci teknologi mutakhir. Hal ini menurutnya sangat penting untuk menghadapi tantangan umat Islam (Indonesia) ke depan untuk maju dengan pemahaman maksimal tentang isi Al Qur’an-Hadits Nabi dan sains dan mempraktekkan kaidah yang benar (dari ayat qauliyah dan kauniyah) dalam mengelola negara demi kemajuan bangsa (makna rahmatan lil ‘alamin).
Silaturrahmi
Sementara itu dalam kajian “Silaturrahmi sebagai Variabel Sosial dan Ekonomi”, Prof Ika Rochdjatun memulai dengan rujukan dari Al Qur’an dan Al Hadits, yaitu dari Surat An Nisaa ayat 1 dan Surat Muhammad ayat 22-23, serta hadits yang disampaikan oleh Abdur Rahman bin Auf r.a dan Al-Bazzar. Dijelaskan, isi dalam Al Qur’an lebih dititikberatkan pada pembicaraan mengenai suatu sistem yang akan dibangun dalam masyarakat di mana masalah keluarga, kekerabatan, pertemanan, persaudaraan merupakan sub sistem yang harus dibangun terlebih dahulu diantaranya melalui silturrahmi. Sedangkan dalam hadits disebutkan secara gamblang bahwa silaturrahmi merupakan variabel dependent yang jika dijalankan secara profesional maka akan membuahkan hasil berupa variabel dependent yaitu kemudahan rezeki dan panjang usia yang merupakan variabel independent. “Karena sumber wahyu maupun hadits tidak melakukan penjelasan lebih lanjut bagaimana hal tersebut saling mempengaruhi, berarti kebebasan diberikan kepada ilmu pengetahuan khususnya sosial untuk memberikan analisis yang benar”, katanya.
Analisis kemudian dilakukan dengan diawali pendefinisian silaturrahmi sebagai bentuk hubungan timbal balik dari minimal 2 orang untuk saling membantu dan menolong dalam berbagai aspek kehidupan secara seimbang atau lebih satu terhadap lainnya atas dasar rasa persaudaraan sehingga dicapai kemudahan hidup di bawah keridhaan Ilahi. Silaturahmi disini dijelaskannya dapat diwujudkan dalam bentuk anjang sana atau saling kunjung, saling memberi khabar berita ataupun kerja kelompok.
Rezeki sebagai variabel independent dari silaturahmi menurutnya berkonotasi sangat luas sebagai segala sesuatu kemudahan yang diberikan Tuhan baik berupa ilmu pengetahuan, martabat, usia, oksigen, makanan, harta benda, dsb. “Pembatasan definisi rezeki dalam konteks hadits ini terletak pada masalah pendapatan per kapita karena sangat mudah mengukurnya”, ungkapnya. Sementara variabel independen kedua, yaitu panjang usia, dibagi menjadi dua, yaitu panjang usia dari aspek biologis dan panjang usia dari aspek azas manfaat. Secara biologis, penjang usia menurut Prof. Ika Rochdjatun sangat relative dan terbatas. “Untuk negara berkembang angka harapan hidup sekitar 50-60 tahun sedang di negara maju 10-20 tahun lebih lama lagi”, ungkapnya. Hal ini menurutnya dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung di antaranya tingkat pendidikan, kesehatan lingkungan, gizi, masalah sosial, dsb. “Jika dipandang secara biologis, konotasi hadits tersebut adalah bahwa peluang besar terjadinya perpanjangan usia karena silaturrahim disebabkan motivasi manusia untuk bersikap kreatif dan dinamis”, ungkapnya. Pada orang demikian, secara jasmaniah akan menimbulkan stimulasi fisik yang lebih produktif karena terpicu oleh semangat juang sehingga organ yang rusak atau aus akan cepat mengalami regenerasi atau perbaikan. Dari aspek yang kedua, panjang usia menurutnya dapat dimaknai sebagai asas manfaat hidup, yang artinya usianya pendek namun hasil karyanya dikenang dan dikenal sepanjang masa atau lebih lama dari umur biologisnya. Ketiga variabel tersebut yaitu hubungan siturrahmi dengan variabel sosial dan ekonomi kemudian dibuat sebuah model matematika oleh Prof Ika Rochdjatun. Dengan data empiris yang representatif menurutnya dapat saja diperoleh hubungan fungsi yang linier, sigmoid, eksponensial ataupun bentuk lainnya. [nok]Menteri Kesehatan RI: Penelitian Mikrobiologi Klinik Harus dari Hulu
18 November 2006Rangkaian kegiatan Kongres Nasional Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI ) VI di Hotel Santika Malang sejak Kamis (16/9) mencapai puncaknya Sabtu (18/11). Kongres dibuka oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Dr dr Siti Fadillah Supari SpJP (K).
Dalam pidato sambutan, Menkes menyatakan sangat mendukung upaya pengendalian penyakit infeksi di Indonesia yang telah memiliki angka kesakitan dan kematian terbesar. ”Penyakit infeksi telah memberikan akibat pada semua aspek, bukan hanya endemik dan pandemik tapi juka ekonomi dan politik”, ungkapnya. Melihat fenomena ini, melalui PAMKI yang beranggotakan 150 ahli mikrobiologi klinik di seluruh Indonesia, Menkes sangat mengharap kerjasama dan komitmen pro aktif para ahli tersebut dalam mengendalikan penyakit infeksi di Indonesia. Disebut secara khusus, beberapa penyakit infeksi: flu burung, HIV, malaria, demam berdarah, SARS, dan TBC. Indonesia masih menduduki ranking 3 terbesar jumlah penderita TBC sedunia. Upaya pengendalian penyakit tersebut, menurut Menkes dapat dilakukan melalui early diagnostic kit dan vaksin. Terkait dua jenis upaya pengendalian/penghambatan ini, Menkes menekankan perlunya para peneliti yang tergabung dalam PAMKI untuk lebih intensif melakukan penelitian dengan menghasilkan diagnostic kit dan vaksin sendiri untuk kasus penyakit infeksi spesifik Indonesia. ”Selama ini vaksin dan diagnostic kit kita peroleh dari luar negeri, padahal belum tentu keduanya cocok diterapkan di Indonesia”, ungkapnya. Jika memang penelitian keduanya belum memungkinkan dilaksanakan di Indonesia, Menkes berharap pola kerjasama yang dimungkinkan dengan pihak luar negeri harus dalam posisi berimbang. ”Kita punya virus/bakterinya, mereka (pihak luar negeri) punya teknologinya”, ungkapnya dalam mengupayakan kemandirian riset di Indonesia.
Penelitian
Terkait dengan penelitian dalam mikrobiologi klinik, secara khusus Siti Fadillah Supari menekankan perlunya minimal satu orang peneliti yang ditempatkan di sebuah rumah sakit pendidikan di seluruh Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, ia menghimbau agar penelitian dalam bidang mikrobiologi klinik dimulai dari hulu (penelitian dasar) sehingga efektivitasnya dapat lebih ditingkatkan dari beberapa tahun selama ini. Disampaikan pula oleh Menkes, pihaknya tidak segan-segan untuk mengucurkan dana trilyunan rupiah bagi penelitian mikrobiologi klinik yang dimulai dari hulu tersebut. Mengenai dana penelitian ini, ia mengatakan, kedudukan fakultas kedokteran di bawah Diknas mengakibatkan anggaran penelitian yang tidak sensitif pada permasalahan. ”Perlu dibangun hubungan yang lebih strategis antara fakultas kedokteran dengan dinas kesehatan sehingga penelitian-penelitian bisa lebih produktif, sensitif, dan mengena”, katanya.
Salah satu yang menjadi inspirasi dan motivasi dalam memperjuangkan anggaran penelitian dalam bidang kesehatan adalah hasil kunjungan Menkes ke Iran. Dituturkannya, negeri yang telah diembargo oleh Amerika Serikat dan sekutunya selama lebih dari dua puluh tahun ini tidak pernah dibayangkan akan tumbuh pesat seperti saat ini, terutama dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan. ”Mungkin kita harus diembargo dulu agar terpacu untuk maju”, guraunya. Digambarkannya pemerintah Iran sangat berkomitmen mendukung penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk dalam bidang kesehatan. ”Negara tersebut saat ini sedang gencar menekan angka penderita thalassemia yang melonjak drastis”, ungkapnya.
Setelah membuka secara simbolik kegiatan kongres PAMKI VI Menkes membuka pameran farmasi yang diikuti oleh beberapa perusahaan obat-obatan terkemuka di seluruh Indonesia seperti PT Kalbe Farma, Astra Zeneca, PT Meiji, Wina Co Industries, dll. Acara kongres PAMKI VI kemudian dilanjutkan dengan plenary lecture dengan pemateri dari Belanda, Prof Dr Henri A Verbrugh MD PhD dengan materi ”Role of Microbiologist in Control and Management of Infectious Diseases”. Setelah itu kegiatan dilanjutkan sampai hari berikutnya dengan berbagai materi simposium meliputi simposium sepsis, simposium typhoid fever, simposium avian influenza, simposium ESBL producing bacteria dan simposium nosocomial infection.
Pergantian Ketua
Sehari sebelumnya, sidang organisasi PAMKI telah menetapkan Prof dr Sam Soeharto SpMK dari Universitas Airlangga menggantikan ketua sebelumnya dari Universitas Indonesia yang telah menjabat dua masa kepengurusan berturut-turut. Prof Sam Soeharto mengatakan, untuk 3 tahun kedepan, dia akan berkonsentrasi membenahi eksistensi mikrobiologi klinik di Indonesia dimulai dari pendidikan, SDM, dan eksistensi profesi dengan pengesahan Keputusan Menteri. [nok]Prof Umar Nimran ke Australia
18 November 2006Prof Dr Umar Nimran MA, Pembantu Rektor IV Universitas Brawijaya, Sabtu 18/11 berangkat ke Australia dalam rangka Vocational and Technical Education Study Tour atas udangan Australian Education International (AEI).
Study tour tersebut diikuti oleh 4 (empat) orang anggota delegasi yang terdiri dari para senior officials Departemen Pendidikan Nasional, wakil dari Kadin dan pimpinan Politeknik, berlangsung hingga 24 November mendatang..
Selama di Autralia, delegasi akan mengikuti intensive briefing dan melakukan serangkaian diskusi tentang perkembangan terakhir pendidikan dan pelatihan vokasi di Canberra dan Melbourne.
Diharapkan dari kunjungan tersebut akan diperoleh masukan-masukan yang berguna bagi pengembangan pendidikan clan pelatihan vokasi di Indonesia di masa-masa mendatang. [un]Meninggal Dunia: Drs Kusnadi MSi
18 November 2006
Telah meninggal dunia, Drs Kusnadi MSi (51 tahun), dosen senior Jurusan Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya, Sabtu 18 November 2006, sekitar pukul 07.00 WIB, di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Almarhum selama bertahun-tahun keluar-masuk rumah sakit karena komplikasi diabetes yang diidapnya, dan bahkan telah berkali-kali menjalani hemodialisis (cuci darah).
Jenazah almarhum diberangkatkan dari RSSA pagi itu juga, untuk dimakamkan di kota kelahirannya, Probolinggo, diiringi oleh karib kerabat dan teman sejawatnya. Drs Kusnadi MSi adalah putra kelahiran Probolinggo 19 Agustus 1955, sarjana administrasi niaga dari FIA Unibraw (1982), dan Magister Sains Administrasi Bisnis dari PPS Unibraw (1994). Jabatan akademis terakhir adalah lektor kepala (golongan IV/a), dan mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar sejak 1983. [Far]Keselamatan Transportasi Perlu Perhatian Serius
17 November 2006Perilaku sebagian besar pemakai jalan di Indonesia sangat kurang memperdulikan keselamatan diri sendiri dan pemakai jalan lainnya. Sopan santun dan disiplin pemakai jalan sangat rendah, rambu lalu lintas tidak dipatuhi, banyak kendaraan berjalan dengan kecepatan tinggi baik di dalam kota maupun luar kota, serta masih banyak lagi perilaku lainnya yang mencerminkan rendahnya budaya dan disiplin sebagian besar pengemudi kendaraan di Indonesia. Ditambah lagi dengan masih minimnya upaya dilakukan untuk memperbaiki sarana dan prasarana transportasi guna memenuhi standar keselamatan. Untuk memecahkan permasalahan transportasi, diperlukan sistem kelembagaan yang kuat, koordinasi antar instansi yang baik dan pendanaan yang cukup untuk segera merumuskan dan menjalankan program keselamatan transportasi jalan yang terintegrasi, komprehensif dan berkelanjutan. Demikian Prof Dr Ir Yogi Sugito dalam sambutan ketika membuka Simposium Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi Indonesia (FSTPT) IX, Jumat 17 November 2006.
Lebih lanjut rektor mengatakan, perguruan tinggi sebagai salah satu stakeholder pembangunan nasional sudah seharusnya ikut berperan lebih besar dalam membantu pemerintah khususnya dalam melakukan kajian-kajian tentang masalah transportasi darat, di antaranya masalah keselamatan pemakai jalan serta membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan.
FSTPT adalah wadah pertemuan dan diskusi bagi pemerhati transportasi dari kalangan perguruan tinggi berskala nasional. Pada pertemuan kali ini tema yang diangkat “Integrasi Aspek Keselamatan dalam Perencanaan Sarana dan Prasarana Transportasi”. Hadir dalam simposium staf ahli menteri perhubungan yang Ir Cucuk Suryosuprojo, Direktur jenderal Perkeretaapian Ir Soemino Eko Saputro MM, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi M Yusuf SH MH, Kadishub Jawa Timur Hari Soegiri, pakar keselamatan dari World Bank Mr Jenny Lebo dan Prof Radin Umar PhD dari The Road Safety Research Center Universiti Putra Malaysia.
Dalam simposium terungkap, salah satu ciri pembangunan transportasi khususnya transportasi darat yang konvensional adalah terdapat banyak kecelakaan yang terjadi dan kurang efektifnya law enforcement dan manajemen.
Oleh karena itu, untuk mewujudkan sistem transportasi yang berkelanjutan maka masalah keselamatan transportasi jalan harus mendapat perhatian serius dan mendapat prioritas dalam pembangunan ataupun pengembangan sektor transportasi.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan terdapat kurang lebih lebih 1,2 juta orang di seluruh dunia telah meninggal dan 23 juta terluka akibat kecelakaan transportasi jalan setiap tahun. Masalah yang berat terjadi di negara-negara Asia Pasifik, di mana proporsi kendaraan bermotor di dunia hanya 16% namun angka kematian mencapai 44% dari total kematian kecelakaan transportasi jalan di dunia.
Khusus bagi 10 negara anggota ASEAN, 75.000 orang telah meninggal dan lebih dari 4,7 juta mengalami luka-luka akibat kecelakaan di jalan raya dalam tahun 2003. Kerugian yang ditimbulkan cukup besar, yaitu 15 milyar USD.
Estimasi kerugian terbesar terjadi di Indonesia yakni sebesar 6,03 milyar USD (2,91% dari GDP) atau sekitar 57 triliun rupiah, di ikuti oleh Thailand sebesar 3 milyar USD (2,1% GDP). [nik]Simposium Nasional IX FSTPT Indonesia
17 November 2006
Transportasi merupakan salah satu jenis infrastruktur yang berpengaruh besar terhadap proses pembangunan. Dampak positif maupun negatif yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan transportasi telah dirasakan. Berangkat dengan tujuan untuk berbagi informasi tentang perkembangan bidang transportasi, hasil penelitian murni maupun terapan, serta berbagi pengalaman praktis yang tentunya akan bermanfaat bagi pembangunan di bidang transportasi, terutama yang berkaitan dengan aspek keselamatan. Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi Indonesia (FSTPT) sebagai wadah pertemuan dan diskusi bagi pemerhati transportasi dari kalangan perguruan tinggi berskala nasional menyelenggarakan simposium tahunannya yang kali ini berlangsung di Universitas Brawijaya 17-18 November 2006.
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Jurusan Teknik Sipil dan Jurusan Pengembangan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya ini akan menghadirkan para ahli bidang transportasi yang peduli terhadap aspek keselamatan dalam prasarana maupun sarana transportasi, dari seluruh Indonesia serta negara tetangga ASEAN. Hingga saat ini, sudah delapan kegiatan simposium diselenggarakan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang dimulai di Institut Teknologi Bandung pada 1998.Menurut ketua pelaksana Prof Dr Ir Harnen Sulistio MSc, harapan yang ingin diwujudkan dengan simposium adalah (1) masalah keselamatan transportasi darat akan mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah Indonesia, (2) implementasi program keselamatan yang terintegrasi dan berkelanjutan yang didukung oleh sistem kelembagaan yang kuat akan segera terwujud di Indonesia, dan (3) aspek keselamatan hendaknya menjadi bagian integral pada setiap perencanaan sarana dan prasarana transportasi di Indonesia.
Peserta simposium berasal dari berbagai perguruan tinggi anggota FSTPT (67 perguruan tinggi di Indonesia), perguruan tinggi non anggota FSTPT, kalangan pemerintah, konsultan dan asosiasi profesi, kalangan industri, serta masyarakat umum khususnya para pemerhati transportasi. Hadir sebagai pembicara kunci Ir. Hatta Radjasa (Menteri Perhubungan RI) serta menghadirkan pembicara utama seperti Dirjen Perhubungan Darat, Dirjen Perkeretaapian dan Direktur Utama PT KAI, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Mr Jerry Lobe (perwakilan Bank Dunia), Prof Radin Umar PhD (Pakar Keselamatan Transportasi Malaysia), Dr Ir Tri Cahyono MSc (Universitas Indonesia) dan Dr Ir Heru Sutomo MSc (Universitas Gadjah Mada). Berbagai makalah dipresentasikan pada simposium, meliputi bidang-bidang Kebijakan Transportasi, Transportasi Tata ruang dan Lingkungan, Perancangan dan Operasi Transportasi, Pemodelan Transportasi: Angkutan Penumpang dan Barang, Ekonomi, Kelembagaan dan Peraturan, Ekonomi dan Managemen Transportasi, Teknik Lalu lintas Keselamatan Lalu Lintas, Material/Bahan Jalan, Perencanaan Jalan dan Manajemen, dan Teknik Jalan Raya.
Kegiatan simposium juga dipancarluaskan ke beberapa perguruan tinggi lain secara langsung melalui online broadcasting system atas kerjasama antara FSTPT dan tim Indonesian Higher Education Networking (INHERENT) Ditjen Dikti, Depdiknas. Empat perguruan tinggi yang akan menerima siaran langsung kegiatan simposium ini adalah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi 10 November Surabaya. Penutupan kegiatan simposium rencananya akan dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional yang dipancarkan secara langsung dari Jakarta. [nik]Tim Peneliti FMIPA Teliti Lumpur Lapindo
16 November 2006Sebuah tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya, mengadakan penelitian lapang di lokasi semburan lumpur panas PT Lapindo Brantas, Porong, Sidoarjo. Penelitian selama dua hari, 16-17 November 2006, dilaksanakan dengan mengadakan pengambilan sampel di tempat itu.
Tim peneliti terdiri dari tiga dosen jurusan kimia yaitu: Adam Wiryawan, Barlah Rumhayati, dan Yuniar Ponco, serta seorang dosen jurusan biologi Umi Mawarti, dibantu seorang analis kimia Darwin.
Sampel yang diambil akan diteliti di Laboratorium Kimia dan Laboratorium Biologi FMIPA. Analisis terhadap sampel direncanakan berlangsung pekan depan, dan hasilnya akan diperoleh sesegera mungkin. [aw]Sinergi Potensi Riset Perguruan Tinggi, Daerah dan Industri
15 November 2006Menyongsong paradigma baru penelitian dan peneliti dari kalangan dunia perguruan tinggi, Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Brawijaya menyelenggarakan lokakarya ”Pengembangan Riset Kemitraan: Sinergisme Potensi Riset Perguruan Tinggi dengan Potensi Daerah dan Industri”. Kegiatan yang dibiayai oleh PHK (program hibah kompetisi) A2 Jurusan Kimia FMIPA ini dilaksanakan di Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, Kamis (15/11). Dalam acara yang diikuti oleh peneliti di lingkungan jurusan Kimia dan FMIPA tersebut, dihadirkan pemateri dari Kementerian Ristek yaitu Ir Prasetyo Sunaryo MT serta Ketua Pusat Kajian Kimia Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Chandrawati Cahyani MS sebagai pembicara pada diskusi panel I. Selain itu, hadir juga Dr. Bambang Setiaji (staf pengajar Kimia UGM), Ir Dachlan Faturachman MS (Bappeda Blitar) sebagai pembicara pada panel II serta beberapa peneliti dari Universitas Brawijaya, meliputi Dr. Soebiantoro Apt MSc (peneliti bioteknologi Unibraw), Dr Rurini Retnowati MSi (peneliti bahan alam Unibraw), dan Dra Tutik Setyaningsih MSi (peneliti lingkungan Unibraw).
Dalam penjelasannya, Dr. Bambang Setiaji mengatakan, pada saat ini seorang peneliti dituntut juga menguasai kemampuan entrepreneurship. Perubahan paradigma ini memperluas peran peneliti yang semula hanya berkutat di wilayah laboratorium untuk lebih jeli dan teliti menangkap peluang pasar atas hasil penelitiannya. ”Di sini dibutuhkan peneliti yang konsisten dan memiliki kemauan serta keyakinan untuk mengaplikasikan ilmu dan hasil penelitiannya”, kata Bambang.
Hal ini, berdasarkan pengamatannya di kalangan masyarakat, seperti petani, yang memiliki kendala mendasar dalam kemampuan ”menjual”. Sebagai ilustrasi, Bambang menceritakan pengalamannya dalam melakukan penelitian VCO (virgin coconut oil/minyak kelapa murni). Penelitian yang dilakukan sejak 1979 tersebut, terbukti telah berhasil meningkatkan pendapatan petani. ”Penelitian VCO bahkan dapat meningkatan nilai ekonomi kelapa dari Rp 500/biji menjadi Rp 2.300/biji/hari”, tuturnya. Dari pengalaman ini, ia berpesan kepada peneliti untuk lebih peka terhadap pasar, berpijak pada potensi daerah yang cukup banyak serta memiliki kemauan keras untuk mengaplikasikan ilmu dan hasil penelitiannya. Selain itu, secara khusus ia menyarankan kepada pemerintah untuk lebih serius dalam meningkatkan dana dan anggaran penelitian, bukan hanya memperhatikan skala laboratorium saja, tetapi juga sampai pada pilot plan. ”Melalui home industry sebagai pilot plan misalnya, kita dapat melakukan pendampingan dan memonitor penelitian tersebut”, ungkapnya. ”Tetapi kelemahan dari model seperti ini, tentunya kualitas menjadi lebih rendah”, tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dekan FMIPA Universitas Brawijaya, Ir Adam Wiryawan MS menyatakan bahwa dengan adanya peradigma baru terhadap peneliti dan penelitian tersebut, pihaknya memfasilitasi SDM di FMIPA dengan membentuk Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M). Dengan wadah ini pula, pihaknya telah berhasil menggandeng beberapa pemerintah daerah di Jawa Timur untuk menjadi mitra diantaranya Pemkab Blitar dan Pemkab Tulungagung. Lebih lanjut, Adam mengaku bahwa FMIPA sebagai fakultas keilmuan dasar memiliki fleksibilitas dalam ruang geraknya. ”Kita bisa merambah ke ilmu-ilmu pertanian, ilmu-ilmu kedokteran, bahkan juga ilmu-ilmu sosial”, tambahnya. Dijelaskan lebih lanjut, untuk saat ini pihaknya sedang menjalin kerjasama dengan konsentrasi penelitian pada susu dan produk turunannya, minyak atsiri dan nilam, serta tanaman obat. ”Untuk tanaman obat, kita kalah dengan Jepang dan Korea”, ungkapnya. Terkait hal ini, ia menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam memproduksi obat-obatan kedua negara tersebut mengambil tanaman obat dari Indonesia, kemudian mengolahnya dan menjual kembali ke Indonesia dalam bentuk obat-obatan dengan harga yang mahal. ”Dalam hal ini, kita kalah dalam hal teknologi dan infrastruktur, SDM sebenarnya kita tidak kalah, sehingga pemerintah selayaknya meningkatkan pengadaan infrastruktur bagi penelitian”, ungkapnya.
Dalam kesempatan selanjutnya, Prof. Chandrawati Cahyani selaku Ketua Pusat Kajian Kimia menyampaikan materi bertajuk ”Pengembangan Potensi Daerah Berbasis Iptek, Knowledge Based Economy (Problem Based Research). Kemudian, Ir. Dachlan Faturachman MS (Kepala Bappeda Kabupaten Blitar) menyampaikan materi dengan tajuk ”Manfaat Kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan perguruan Tinggi di Bidang Penelitian dalam Rangka Pengembangan Potensi Daerah”. Dijelaskannya, Pemkab Blitar memiliki beraneka potensi daerah mulai dari pertanian tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, peternakan, perikanan dan kelautan, industri, pariwisata, serta pertambangan. Kerjasama dengan perguruan tinggi menurutnya sangat bermanfaat terutama menjadi rujukan politik jika suatu saat terjadi perbedaan pendapat antara eksekutif dengan legislatif tentang prioritas program yang seharusnya dijalankan dalan suatu tahun anggaran. Selain itu, kerjasama dengan PT menurutnya juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk menemukan kelemahan atas program pembangunan yang sedang dijalankan.
Melalui presentasi ilmiah, beberapa peneliti dari Universitas Brawijaya mempresentasikan hasil penelitiannya, diantaranya Dra. Tutik Setyaningsih, Msi, dkk yang memaparkan judul penelitian ”Sintesis dan Karakterisasi Karbon Mesopori Dari Limbah Sludge Industri Tekstil”, kemudian dilanjutkan Dr. Rurini Retnowati MSi yang memaparkan ”Esterifikasi terkendali Pada Produksi Senyawa Beraroma berbasis Minyak Nilam (Patchouli Oil) Dalam Upaya Meningkatkan Nilai Ekonomi”, dan Dr Soebiantoro Apt MSc yang memaparkan ”Penggunaan Fraksi Polar Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan Linn) untuk Pengendalian Pseudomonas aeriginosa pada Infeksi Nosokomial”. [nok]Kongres Nasional VI Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia
14 November 2006
Penyakit Infeksi merupakan penyakit dengan angka kesakitan yang paling tinggi di negara berkembang termasuk Indonesia. Demam tifoid, hepatitis, dan demam berdarah dengue, masih merupakan penyakit yang harus dihadapi.
Demikian juga AIDS, flu burung, dan banyak penyakit infeksi lain yang merupakan permasalahan kesehatan nasional. Diagnosis dini dan pencegahan penyakit infeksi merupakan kebutuhan sangat mendasar. Di samping itu, resistensi bakteri terhadap antimikroba makin menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan, sehingga penggunaan antimikroba harus rasional dan bijak.
Dalam rangka menuju Indonesia sehat 2010, peran spesialis mikrobiologi klinik sangat besar. Terkait dengan hal tersebut, Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) menyelenggarakan Kongres Nasional (KONAS) yang keempat. KONAS VI PAMKI diselenggarakan di Hotel Santika Malang 16-19 November. Dalam pertemuan ilmiah itu akan dibahas berbagai masalah penyakit infeksi (seperti infeksi saluran kemih, sepsis, infeksi obstetrik dan ginekologik, avian influenza, infeksi nosokomial) dan penanggulangannya (diagnosis dini dan vaksin) serta resistensi terhadap antimikroba. Tema KONAS VI ini adalah ”Strategies to Combat The Emergence And Spread Of Life Threatening Microbes”. Demikian antara lain keterangan pers Prof Dr dr Sanarto Santoso, yang disampaikan di Laboratorium Mikrobiologi FK Unibraw, Selasa 14/11.Berbagai kegiatan yang terangkum dalam KONAS VI kali ini. Di antaranya Lokakarya Molekul Adhesin yang akan dilaksanakan dua hari sebelum pelaksanaan KONAS, yang berisi penyampaian materi dan praktikum. Tema lokakarya yang diambil adalah ”Molekul Adhesin sebagai Perangkat Diagnosis Dini Penyakit Infeksi”. Kegiatan ini utamanya ditujukan untuk para anggota muda PAMKI dan peserta program pascasarjana S2 dan S3 Ilmu Biomedik. Selain itu, diselenggarakan pula Lokakarya WHONET 5.4 (advanced) pada 17 November 2006 yang berisi penyampaian materi dan praktek penggunaan sarana WHONET 5.4 untuk pengolahan data hasil pemeriksanaan mikrobiologis di rumah sakit.
Kegiatan lain, Hospital Meeting, berupa kegiatan diskusi klinik yang terkait pemeriksaan mikrobiologis. Tema kegiatan ini ”Clinician-Clinical Microbiologist Relationship In Infectious Disease Management”. Hadir sebagai pemateri dalam hospital meeting Prof Dr Henry A. Verbrugh MD PhD, pakar mikrobiologi klinik dari Belanda, yang akan diikuti oleh klinisi dan spesialis mikrobiologi klinik RSU Dr Saiful Anwar Malang. Simposium Ilmiah yang juga diselenggarakan dalam KONAS VI, akan mengupas topik-topik tentang infeksi seperti sepsis, demam tifoid, avian influenza, extended spectrum beta lactamase (ESBL) producing bacteria, infeksi nosokomial, dan probiotik-prebiotik.
Kegiatan lain yang diagendakan dalam KONAS VI antara lain sidang organisasi, temu pakar, pameran yang menampilkan produk-produk farmasi, instrumen terkini dan reagensia pendukung pemeriksaan mikrobiologi, dan buku. Tak ketinggalan kegiatan sosial, kunjungan wisata di kawasan Malang, Batu dan Pujon, serta malam keakraban.
Sekretariat panitia KONAS PAMKI VI menempati Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Jl. Veteran Malang, Telp. (0341) 569117 ext 111, fax. (0341) 564755 dan email mikrobiologi@fk.unibraw.ac.id atau labmikro@yahoo.com. [nok]Sudarmiatin: Obyek Wisata Harus Dikelola Serius
14 November 2006Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi wisatawan dalam berkunjung ke obyek wisata seperti faktor promosi, atribut obyek wisata, image konsumen, faktor kebutuhan dan gaya hidup konsumen. Kondisi itu dapat membingungkan pemasar apakah strategi pemasaran yang disusun harus mengutamakan promosi, mengedepankan atribut obyek wisata atau menciptakan image konsumen yang positif. Agar jumlah wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata meningkat, perlu diupayakan berbagai perbaikan meliputi terus melaksanakan promosi dan membangun image positif konsumen terhadap obyek wisata.
Demikian ungkap Sudarmiatin dalam disertasi berjudul "Pengaruh Atribut Obyek Wisata Alam, Promosi dan Karakteristik Individu terhadap Image Konsumen dan Pengambilan Keputusan Berkunjung (Studi Empiris terhadap Perilaku Wisatawan pada Obyek Wisata Alam di Jawa Timur)". Program Pascasarjana Universitas Brawijaya menggelar ujian terbuka disertasi ini, Selasa 14/11.
Bertindak sebagai promotor Prof Dr Eka Afnan Troena SE, serta kopromotor Prof Dr M Syafiie Idrus SE MEc dan Dr Agus Suman SE DEA. Tim penguji terdiri dari Prof Dr Djumilah Zain SE, Prof Dr Armanu Thoyib SE MSc, Dr David Kaluge SE MSc, dan Prof Dr Imam Syakir SE.
Penelitian disertasi Sudarmiatin menggunakan 200 responden wisatawan nusantara yang berkunjung ke 16 obyek wisata alam di Jawa Timur, pada hari Minggu selama bulan September 2005. Hasil penelitian Sudarmiatin menunjukkan peran image konsumen adalah sebagai mediator yang memperkuat hubungan antara atribut dan promosi obyek wisata alam dengan pengambilan keputusan berkunjung. Temuan berikutnya menunjukkan segmen pasar lebih menyukai atribut daripada promosi. Hal ini dikarenakan atribut obyek wisata alam lebih mencerminkan realitas daripada promosi.
Beberapa rekomendasi Sudarmiatin, di antaranya: membangun image positif konsumen dengan cara meningkatkan kualitas atribut obyek wisata, menjadikan kepuasan konsumen sebagai target utama dalam memberikan pelayanan pada konsumen, meningkatkan perhatian pada bidang keamanan, meningkatkan upaya pengadaan dan pemerataan produk kenangan, serta terus melakukan promosi.
Dalam yudisium, Sudarmiatin dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (IPK 3,7) dan berhak menyandang gelar doktor dalam bidang ilmu ekonomi dengan kekhususan manajemen.
Dr Sudarmiatin MSi (45 tahun) adalah perempuan kelahiran Tulungagung 8 November 1961, lulusan S1 dari Jurusan Pendidikan Bisnis IKIP Negeri Malang (1980), dan magister sains dari Program Studi Manajemen Universitas Airlangga (1985). Berpengalaman sebagai guru SMA dan SMEA di Malang (1983-1986), dan sejak 1986 hingga kini menjadi dosen pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. [nik]Laporan Prof Hendrawan dari Nairobi
13 November 2006
Selama sepekan, Ketua LP3 Universitas Brawijaya, Prof Dr Hendrawan Soetanto berkunjung ke Nairobi, Kenya, memenuhi undangan Regional Eastern Africa UNISTAFF Alumi Network, yang berlangsung dari tanggal 6-10 November 2006 di Kenyatta University. UNISTAFF merupakan program pelatihan staf PT selama dua setengah bulan di University of Kassel (dilaksanakan di kota kecil Witzenhausen), Jerman. Saat ini lebih dari 240 alumni tersebar di negara-negara Amerika Latin, Afrika, Iran, dan Asia. Acara ini mengambil tema Conference and Workshop on Quality Assurance in Higher Education.
Ada sekitar 100 peserta yang hadir, bervariasi mulai dari rektor (vice chancellor), dean hingga direktur lembaga seperti LP3 di Unibraw, membicarakan QA (quality assurance) di perguruan tinggi sebagai salah satu tantangan terbesar saat ini. Tantangan besar itu dikarenakan tuntutan kualitas lulusan perguruan tinggi menjadi bagian yang paling sulit diwujudkan dalam era globalisasi saat ini.
Dalam presentasi Vice Chancellor Keyatta University serta Catholic University of Nairobi, disebutkan masalah utama dalam mewujudkan kualitas lulusan, adalah acapkali tidak diawali dengan peningkatan kualitas para dosen dan staf penunjang di perguruan tinggi terlebih dahulu, baik yang dilakukan secara sadar maupun dengan program yang konkret.
"Kenyatta University, relatif kecil jika dibandingkan dengan Universitas Brawijaya, karena hanya memiliki 6000 mahasiswa", tutur Prof Hendrawan. "Namun ada penataan kampus yang bersih, serta ada cluster virtual university yang memberikan kesan mereka telah siap dengan persaingan di era global, dengan persiapan melengkapi E-learning dengan fasilitas serta sistem yang bagus", tambahnya. Meskipun demikian, menurut Prof Hendrawan, perlengkapan infrastruktur ICT masih sangat terbatas, hanya cukup memenuhi kebutuhan minimal. Berbeda dengan Universitas Brawijaya yang memiliki cukup fasilitas yang memadai kecuali bandwidth yang memang masih perlu ditingkatkan kapasitasnya mengingat jumlah pengguna lebih banyak. "Website Universitas Brawijaya dapat dibuka di Nairobi walau agak lambat", tukasnya.
"Saya diundang sebagai country coordinator Indonesian UNISTAFF Alumni yang dianggap berhasil dalam mewujudkan desentralisasi pelatihan dengan landasan modul dari pelatihan UNISTAFF untuk Indonesia", kata Prof Hendrawan. Sepulang dari pelatihan UNISTAFF tahun 2003, Prof Hendrawan dan para alumni lain telah melakukan berbagai upaya menyebarluaskan prinsip-prinsip dan nilai UNISTAFF bagi pengembangan sumberdaya manusia (SDM) di perguruan tinggi. Disebutkannya, tahun 2005 kelompok ini berhasil mendapatkan dana untuk melaksanakan summer school di Witzenhausen. Dalam summer school itu 14 dari 20 partisipan yang diundang mengikuti TOT (training of trainers) adalah asal Indonesia. TOT dimaksudkan untuk mempersiapkan trainers. Pada tahun 2006 ini, dua program pelatihan di Jakarta dan Surabaya terealisir pada bulan September dengan dana bantuan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti). Sebelum itu, Dikti juga telah mendanai workshop di Bogor untuk penyempurnaan modul pelatihan.Selama workshop, terselip acara tour ke daerah Rift Valley, yang tersohor dengan pemandangan indahnya ketika melintas di wilayah tertinggi yaitu 1800 m di atas permukaan laut. "Ribuan satwa liar seperti gajah, zebra, jerapah, antelope, babi hutan, leopard, puma dan berbagai jenis unggas berbulu cantik, hidup damai di ngarai tersebut. Ketika sampai di sebuah danau, tampak ribuan burung flamengo berwarna putih dan pink, memberikan pandangan menakjubkan sebagai salah satu serpihan gambaran surga yang sering kita dengar", tutur Prof Hendrawan. Di lembah tersebut hidup suku nomaden yang menjadi ikon Kenya, yaitu suku Masaii yang terkenal dengan warna-warni karya seni tradisional, mulai dari warna pakaian, perhiasan, dll. Mereka masih hidup dalam komunal kecil. Satu kelompok terdiri dari 5-10 rumah tradisional, terbuat dari kayu dan disemen dengan kotoran sapi/kerbau, beratap rumbia. Mereka tidak mengenal listrik, sehingga penerangan pada malam hari hanya tergantung pada api atau lilin. Makanan pokok suku Masaii adalah daging, susu, dan darah hewan, namun tubuh mereka tidak ada yang mengalami obesitas, rata-rata berpostur tinggi langsing. Demikian Prof Hendrawan mengakhiri kisah perjalanannya. [hst]
Promosi Doktor: Dr Samsul Islam SpMK MARS
13 November 2006Dokter Samsul Islam SpMK MARS, mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu ekonomi dari Universitas Airlangga. Dalam ujian terbuka yang dilaksanakan Program Pascasarjana Universitas Airlangga di Surabaya, Senin 13 November 2006, Samsul Islam berhasil mempertahankan disertasi berjudul "Pengaruh Pembelajaran Organisasi terhadap Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Transformasional serta Clinaical Governance di Rumah Sakit Tipe B Jawa Timur". Bertindak selaku promotor Prof Dr Umar Nimran MA, dan kopromotor Prof Dr Effendie SE. Sementara Panitia Penguji Disertasi diketuai oleh Prof Dr Imam Syakir SE. Anggota panitia penguji, selain promotor dan kopromotor, juga Prof Dr Parwoto Wignjohartojo SE Ak, Prof Dr Arsono Laksmana SE Ak, Prof Dr Murdijanto Purbangkoro SE SU, Dr Ir Solimun MS, dan Dr Muslich Anshori SE MSc Ak. Pada yudisium, Samsul Islam dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Dalam disertasinya diutarakan, organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan kinerja rumah sakit harus dipandang secara lebih komprehensif. Aspek pelayanan klinis sangatlah penting, karena berimplikasi pada morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian). Kedua hal tersebut tidak dapat diukur dengan besarnya pengorbanan uang. Itulah sebabnya, kinerja sebuah rumah sakit tidak selalu dapat diartikan sama dengan kinerja dalam entitas ekonomi atau bisnis lainnya. Aspek pelayanan klinis, bagaimana pun merupakan hal yang utama dari kenierja sebuah rumah sakit. "Tidak dapat disalahkan, jika masyarakat menuntut adanya pelayanan klinis yang baik dikarenakan tujuan utama mereka datang ke rumah sakit adalah ingin berobat, dan mendapat kesembuhan, tanpa harus mengorbankan keselamatan dan keamanan dirinya", kata Samsul Islam.
Salah satu pendekatan kinerja rumah sakit yang dipandang dapat mengakomodasi masalah kinerja klinis (clinical performance) adalah pendekatan clinical governance. Rumah sakit yang memiliki good clinical governance dapat menjawab permasalahan ini, karena berfokus pada tiga hal. Fokus utamanya pada kesehatan pasien. Tindakan yang dilakukan selalu sesuai dengan bukti ilmiah (evidence based). Konsep ini sejalan dengan tugas profesional kesehatan yang merupakan pelaku utama pelayanan sebuah rumah sakit yaitu dokter dan perawat.
Pembelajaran adalah hal pokok dalam sebuah organisasi yang kompleks seperti halnya rumah sakit pemerintah. Juga merupakan tuntutan yang tidak dapat ditawar agar rumah sakit pemerintah dapat bertahan dalam lingkungan yang terus berubah. Organisasi pembelajar (learning organization) juga hal pokok bagi terlaksananya good clinical governance. Dapat dikatakan, pembelajaran organisasi dan budaya organisasi akan lebih memandang rumah sakit sebagai sebuah organisasi hidup atau komunitas daripada sebuah mesin. Cara pandang terhadap organisasi, termasuk organisasi rumah sakit, sangat besar pengaruhnya terhadap tingkah laku orang-rang dalam organisasi tersebut, dan cara-cara yang ditempuh untuk mengembangkan atau mentrasformasi organisasinya. Good clinical governance tak bisa dilepaskan dari pendekatan humanistik, karena pelaku konsep ini adalah manusia. "Bagaimana pun, clinical governance telah berkembang menjadi wacana yang diterima secara luas dalam menilai kinerja rumak sakit. Bahkan dapat diprediksikan, masyarakat masa depan akan mempertanyakan seberapa jauh good clinical governance telah dilaksanakan oleh rumah sakit sebelum mereka percaya untuk dirawat di suatu rumah sakit". tukas Samsul Islam.
Penelitian disertasi Samsul Islam dilakukan pada 16 rumah sakit pemerintah tipe B di Jawa Timur, dengan populasi sejumlah 96 bagian pelayanan klinis. Bagian pelayanan klinis ini meliputi bagian bedah, bagian kebidanan dan kandungan, bagian anak, bagian penyakit dalam, bagian laboratorium, dan bagian radiologi. Empat variabel yang diteliti adalah pembelajaran organisasi, budaya organisasi, kepemimpinan, dan clinical governance. Hasil penelitian Samsul Islam mendapatkan beberapa kesimpulan. Disimpulkan, pembelajaran organisasi sangat diperlukan untuk meningkatkan clinical governance. Pembelajaran organisasi juga mampu menjadi pendorong melemahnya budaya hirarkhis, sehingga menjadi lebih egaliter, kolaboratif, dan adaptif. Bila pembelajaran sudah sampai pada tingkat organisasi, maka hal itu akan mampu mempengaruhi kekuatan kepemimpinan untuk menjadi kepemimpinan transformasional. Pemimpin yang datang dalam kondisi seperti ini, harus mampu menyesuaikan tipe kepemimpinannya. Bila tidak, maka pembelajaran organisasi yang sudah terbentuk akan mengalami kemunduran.
Dari segi budaya organisasi disimpulkan, budaya yang sudah ada di rumah sakit tipe B mampu mendorong terlaksananya clinical governance. Tetapi dari segi pembelajaran organisasi, ternyata budaya organisasi memperlemah pengaruh tidak langsung terhadap terlaksananya clinical governance. Makin kuat kepemimpinan transformasional, akan makin baik clinical governance. Maknanya, kepemimpinan transformasional yang sudah ada di rumah sakit mampu mendorong para anggotanya untuk dapat melaksanakan clinical governance.
Pembelajaran organisasi akan lebih mengedepankan kerja tim daripada kerja individual, yang memandang setiap permasalahan secara sistem (holistik), sehingga menumbuhkan komitmen yang tinggi untuk mencapai cita-cita bersama (visi). Visi bersama merupakan pendorong terlaksananya keterbukaan dalam menerima kritik untuk dilakukan audit terhadap tindakan klinis yang diberikan, sehingga mampu meningkatkan efektivitas klinis dengan mengelola risiko klinis sebaik-baiknya dari setiap tindakan yang diberikan terhadap pasien di bagian pelayanan klinis. Temuan ini memperkuat teori bahwa pembelajaran organisasi mampu membuat budaya organisasi menjadi egaliter, adaptif dan kolaboratif, dan kepemimpinan transformasional akan meningkatkan terlaksananya clinical governance. Temuan tersebut juga memperkuat teori bahwa rumah sakit pendidikan kualitas budayanya lebih baik, dan kinerjanya tidak lebih jelek daripada rumah sakit nonpendidikan.
Dr dr Samsul Islam SpMK MARS, (58 tahun) adalah pria kelahiran Malang 24 Juli 1948, dosen senior mikrobiologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang menjabat sebagai Pembantu Dekan II FK Unibraw sejak 1999 ini adalah dokter lulusan Universitas Brawijaya (1979), pemegang diploma Medical Microbiology dari Kualalumpur, Malaysia (1982), spesialis mikrobiologi klinik, dan magister kesehatan dengan minat administrasi rumah sakit (MARS) dari Universitas Airlangga (1999). Semasa mahasiswa Dr Samsul Islam pernah menjadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Brawijaya (1977-1978), dan hingga saat ini aktif dalam organisasi profesi maupun kegiatan sosial kemasyarakatan, antara lain sebagai direktur Rumah Sakit Islam Aisyiyah (RSIA) Malang. [Far]Andoyo Supriyantono: Upaya Mempertahankan Kemurnian Sapi Bali
13 November 2006
Untuk melestarikan dan mengembangkan sumber daya genetik sapi bali, pada tahun 1976 pemerintah membentuk sebuah Proyek Pengembangan dan Pembibitan Sapi Bali yang melibatkan masyarakat peternak. Selama 28 tahun proyek ini berlangsung, lebih banyak menitikberatkan pada produksi bibit jantan maupun betina melalui seleksi dengan kinerja bobot sapih dan bobot setahun. Padahal selain kinerja pertumbuhan, karakter reproduksi seperti service per conception, calving rate dan calving interval pada betina serta fertilitas semen pada jantan, juga dapat dipakai sebagai salah satu parameter keberhasilan dalam program perkawinan alami ataupun buatan.
Demikian Ir Andoyo Supriyantono MSc dalam disertasi berjudul "Estimasi Parameter Genetik Kinerja Produksi dan Reproduksi sebagai Dasar Penyusunan Program Pemuliaan pada Sapi Bali: Studi Kasus di P3Bali”. Ujian terbuka disertasi tersebut digelar Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Senin 13/11. Bertindak selaku promotor Prof Dr Ir Luqman Hakim MS dengan kopromotor Prof Dr Sc Ir Suyadi MS dan Prof Dr drh Ismudiono MS. Tim dosen penguji terdiri dari Dr Ir Woro Busono MS, Dr Ir VM Ani Nurgiartiningsih MSc, Dr Ir Gatot Ciptadi DESS dan Prof Dr A Duran Corebima MPd.
Dalam disertasi Andoyo memaparkan, seleksi di P3Bali dilakukan dengan mengevaluasi pejantan melalui progeny test. Pejantan progeny test terlebih dulu harus lolos performance test dan kemudian dipilih 3-5 ekor pejantan dengan kriteria fenotip yang tidak menyimpang sebagai sapi bali dengan statistik vital yang paling baik. Proses penjaringan itu sebenarnya telah sesuai dengan skema program pemuliaan yang ada di P3Bali, yaitu calon-calon bibit jantan maupun betina berasal dari populasi dasar.
Namun, menurut Andoyo, tidak semua proses pada skema dilakukan, misalnya: tidak semua betina terbaik dari populasi dasar diambil sebagai calon induk di breeding center.
Penyusunan program pemuliaan yang baik, menurut Andoyo, memerlukan nilai-nilai parameter genetik dan metode seleksi yang cocok. Parameter yang diperlukan antara lain heritabilitas, ripitabilitas dan korelasi (genetik, fenotip dan lingkungan). Parameter itu dapat digunakan dalam menaksir respons seleksi dan keakuratan seleksi relatif sehingga program pemuliaan yang disusun menjadi lebih akurat.
Penelitian dilakukan di Pulukan, Karang Asem dan Tabanan, Bali. Andoyo melakukan wawancara terstruktur dengan peternak sapi bali. Data yang diambil meliputi: statistik vital, reproduksi, pemeliharan dan penjaringan bibit, bobot sapih, bobot setahun. Hasil penelitian Andoyo menunjukkan beberapa kesimpulan, yaitu: (1) dengan menggunakan animal model, nilai heritabilitas bobot sapih yang diperoleh rendah, (2) penurunan genetik akibat seleksi terjadi pada semua karakter yang disebabkan karena tidak diterapkannya manajemen pemuliaan yang benar, (3) program pemuliaan yang menghasilkan respons seleksi terbaik dihasilkan apabila pejantan dipertahankan di dalam populasi selama tiga tahun dan induk dipertahankan selama enam tahun dengan proporsi yang seimbang, (4) skema program pemuliaan yang diusulkan mengharuskan adanya program uji kinerja baik pada jantan maupun betina dengan jumlah minimum 50 ekor dan 100 ekor, dan (5) program pemuliaan dilaksanakan di Inti dan Instalasi Populasi Dasar (IPD). Recording semua karakter dilakukan di tingkat Inti, sedangkan di IPD hanya untuk bobot sapih. Apabila tidak dimungkinkan untuk pengukuran bobot sapih, maka lingkar dada dan panjang badan dapat dijadikan alternatif untuk menduga bobot badan.
Untuk mendapatkan hasil optimum pada respon seleksi, Andoyo menyarankan rasio perkawinan antara jantan dan betina sebesar 1:20, dengan mempertahankan jantan selama 3 tahun dan betina selama 6 tahun. Selain itu, perlu dipertimbangkan untuk menyertakan Kabupaten Karang Asem sebagai IPD untuk mensuplai bibit ke Inti di Pulukan.
Dalam yudisium, Andoyo Supriyantono dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (IPK 3,93) dan berhak menyandang gelar doktor dalam bidang ilmu pertanian dengan minat ilmu ternak.
Dr Ir Andoyo Supriyantono MSc (41 tahun), pria kelahiran Merauke 18 Mei 1965, adalah sarjana peternakan Universitas Cenderawasih Manokwari (1990) dan mendapat gelar master of science dari Department of Animal Breeding Wageningen Agricultural University, Netherlands (1999). Dr Andoyo mengabdikan diri sebagai staf pengajar Program Studi Peternakan pada Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih Manokwari, dan kini menjadi dosen di Jurusan Produksi Twernak pada Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kehutanan (FPPK) Universitas Negeri Papua di Manokwari sejak 2000, dengan jabatan fungsional akademis lektor kepala (golongan IV/a). [nik]Budi Prasetyo: Perlu Perhitungkan Eksistensi dan Orientasi Aktor Kebijakan Publik
13 November 2006Proses perumusan kebijakan publik perlu memperhitungkan secara seksama eksistensi orientasi dan kepentingan aktor-aktor yang terlibat sebagai stakeholder dari kebijakan yang akan dibuat. Masing-masing aktor memiliki tingkat latar bargaining dan latar belakang sosial ekonomi yang berbeda dan proses orientasi aktor yang setara, intensif dan interface memungkinkan pergeseran pola sikap dan orientasi sebagai bentuk akomodasi dari aktor yang terlibat.
Demikian Drs Budi Prasetyo MSi dalam disertasi berjudul “Orientasi Aktor dalam Kebijakan Publik (Analisis Perumusan Kebijakan Proyek Pemberdayaan Masyarakat Pengelolaan Waduk Dawuhan)”. Ujian terbuka disertasi Budi Prasetyo digelar Fakultas Ilmu Administrasi, Senin 13 November 2006. Bertindak selaku promotor Prof Dr M Irfan Islamy MPA serta kopromotor Prof Dr Saladien dan Dr Susilo Zauhar MA. Tim penguji terdiri dari Prof Drs Ismani HP MA, Dr Andi Y Gani MS, Dr Yatim Riyanto MPd, dan Prof Dr Kabul Santoso MS.
Obyek kajian penelitian Budi Prasetyo adalah Proyek Pemberdayaan Masyarakat Pengelolaan Waduk Dawuhan (PPMPWD), merupakan program perumusan kebijakan publik yang interaktif, disusun bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan dan menjaga kelestarian waduk Dawuhan agar mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Tolok ukur keberhasilan dari PPMPWD tidak hanya dilihat dari sisi bagaimana masyarakat bisa berdaya, tetapi juga bagaimana pemerintah mampu merumuskan perubahan paradigma kebijakan publik yang partisipatif dalam arti meletakan posisi masyarakat sebagai mitra yang setara dan saling bertanggung jawab.
Penelitian Budi Prasetyo dilakukan dalam dua tahap. Pengumpulan data dilakukan mulai tahun 2001 hingga 2003, dan studi literatur yang dilakukan sejak September 2005 hingga Februari 2006. Penelitian berlangsung di Desa Sidomulyo dan Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Madiun, sebagai daerah yang paling dekat dengan waduk Dawuhan.
Hasil penelitian Budi Prasetyo menunjukkan, agenda setting dan problem definition sebagai bagian dari perumusan kebijakan merupakan tahapan penting untuk memahami dan mengakomodasi eksistensi orientasi dan masalah masing-masing aktor sehingga diperoleh kepentingan publik yang merupakan perwujudan dari kepentingan semua aktor yang berinteraksi. Temuan kedua adalah adanya perpaduan dari kepentingan publik yang didialogkan, akan menentukan gaya kebijakan publik yang dirumuskan. Ketiga, kualitas akomodasi dan partisipasi keseluruhan proses perumusan akan kualitas akomodasi dan partisipasi keseluruhan proses perumusan, akan mempengaruhi penerimaan stakeholder pda tahapan policy legitimation, disamping perlunya komitmen yang kuat di antara stakeholder. Temuan keempat, dalam skala makro orientasi aktor sangat mempengaruhi proses perumusan kebijakan publik.
Budi Prasetyo kemudian merekomendasikan perlunya penerapan orientasi aktor dalam keseluruhan tahapan perumusan kebijakan publik agar hasil kebijakan publik, sesuai dengan eksistensid dan aspirasi seluruh stakeholder yang berkepentingan terhadap kebijakan publik. Dengan penerapan model orientasi aktor dalam perumusan kebijakan publik ini maka keahlian perumusan kebijakan publik akan lebih terasa manfaatnya dalam pembangunan manusia, khususnya untuk mewujudkan perencanaan pembangunan partisipatif.
Dalam yudisium, Budi Prasetyo dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (IPK 3,89) dan layak untuk menyandang gelar doktor dalam bidang ilmu administrasi dengan minat administrasi publik.
Dr Budi Prasetyo MSi (41 tahun) adalah pria kelahiran Kediri 19 Juli 1965, tenaga pengajar di FISIP Universitas Airlangga Surabaya sejak 1990 dengan jabatan terakhir lektor kepala (golongan IV/a), sarjana lulusan FISIP Universitas Airlangga (1989), dan mendapatkan gelar magister sains dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1996). [nik]Serah Terima Gedung Kelas SMAN1 Gantiwarno
13 November 2006Setelah melalui proses pembangunan sekitar 4 bulan, gedung kelas SMA Negeri 1 Gantiwarno, Klaten, mulai dipergunakan untuk kegiatan belajar mengajar awal November ini. Gedung kelas yang roboh karena gempa 27 Mei 2006 ini dibangun kembali atas swadaya sivitas akademika Universitas Brawijaya. Secara resmi gedung kelas ini diserahkan oleh Ketua Tim Penanggulangan yaitu Pembantu Rektor III Unibraw Drs Tjahjanulin Domai MS, kepada Kepala SMA Negeri 1 Gantiwarno Drs Lugtyastyono MPd, Sabtu 11 November 2006. Turut hadir dalam acara itu Wakil Camat Gantiwarno Sumaryono, Kabag Kemahasiswaan Unibraw Ali Farid SH, koordinator pembangunan Ir Abdul Hadi Djaelani, pengawas pembangunan Slamet Winarko ST, anggota komite sekolah, muspika, dan dewan guru.
Dalam sambutannya Lugtyastyono menyatakan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepedulian sivitas akademika Unbraw, dalam pembangunan gedung kelas SMA Negeri 1 Gantiwarno. Lugyastyono menuturkan bahwa dengan berpartisipasinya Universitas Brawijaya dalam membangun gedung sekolah, bantuan paket rehabilitasi sekolah dari pemerintah yang telah diterima SMA Negeri 1 sebelumnya sebanyak 8 paket, dapat berkembang menjadi 10 paket rehabilitasi. Kepala SMA Negeri 1 Gantiwarno ini juga mengharapkan agar kemitraan yang telah terjalin tidak berhenti di tengah jalan antara lain dengan memberi kesempatan bagi alumni SMA Negeri 1 Gantiwarno untuk kuliah di Unibraw. Sementara itu Tjahjanulin Domai dalam sambutannya mengharapkan agar pihak sekolah memelihara dan mengelola gedung kelas yang telah dibangun, agar dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu yang lama.
Gedung yang dibangun terdiri dari tiga ruang kelas, gudang dan kamar mandi seluas 350 meter persegi yang menghabiskan dana lebih kurang Rp 150 juta. Dalam waktu dekat ini akan menyusul pembangunan mushola di lokasi yang sama.
Pembangunan sekolah tak lain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan didorong oleh rasa kemanusiaan sivitas akademika Unibraw atas bencana gempa Yogyakarta/Klaten Mei 2006. pembangunan sekolah merupakan tahap kedua dari bantuan yang telah dilaksanakan. Sebelumnya Universitas Brawijaya telah memberikan bantuan berupa pengiriman tim kesehatan ke Yogyakarta/Klaten. SMA Negeri 1 Gantiwarno dipilih, sesuai dengan rekomendasi pemerintah Kabupaten Klaten dan hasil survei yang dilakukan oleh tim penanggulangan bencana. [nik]Aplikasi Sekuen Stratigrafi pada Eksplorasi Hidrokarbon
11 Nopember 2006
Program Studi Geofisika Jurusan Fisika Universitas Brawijaya kembali mengadakan pelatihan untuk mahasiswa dengan pemateri praktisi perminyakan dari perusahaan minyak ternama di dunia. Pelatihan tersebut diberikan oleh geologiwan senior PT Pertamina, Nanang Muksin Halik PhD dengan tema “Aplikasi Sequence Stratigraphy dalam Eksplorasi Hidrokarbon”.
Kegiatan ini diselenggarakan di ruang kuliah Fisika dan diikuti puluhan mahasiswa Program Studi Geofisika dan yang lainnya. Turut mensponsori acara ini beberapa perusahaan eksplorasi besar dan asosiasinya di dunia. Di antaranya: Indonesian Petroleum Association (IPA), AAPG, Conoco Philips, ExxonMobil, Vico Indonesia, Star Energy, Murphy Santos, Anadarko, BPMigas, bp, PT Freeport, Chevron, dan CNOOC Limited.
Ketua Program Studi Geofisika Unibraw, Adi Susilo PhD dalam sambutan pengantarnya mengatakan, kegiatan kali ini lebih luas dari pelatihan sebelumnya yang mengarah pada aspek keilmuan geologi. Sequence sangat berperan dalam menentukan ada tidaknya hidrokarbon. Melalui sequence stratigraphy tersebut dapat diketahui rekaman pengendapan sehingga menjadi indikasi adanya deposit hidokarbon. “Seperti di Cepu yang telah diketahui memiliki endapan hidrokarbon yang besar”, katanya. Menurut Adi Susilo yang juga pengurus pusat Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), pengetahuan sequence stratigraphy sangat penting sebagai teknologi utama dalam eksplorasi baik off shore maupun on shore.
Dalam pelatihan sehari penuh tersebut, peserta dikenalkan materi sequence stratigraphy, mulai dari konsep dasar, materi praktis sampai pada studi kasus dalam eksplorasi hidrokarbon.Narasumber Nanang Muksin Halik PhD menjelaskan, sequence stratigraphy sebelumnya dikenal dengan nama seismik stratigrafi (1976) karena dikembangkan berdasarkan seismik. Istilah ini dikenalkan pertama kali oleh kelompok peneliti dari Exxon. Mereka melihat ada gejala menarik pada penampang seismik, yaitu adanya kelompok batuan yang dibatasi oleh perubahan garis waktu (unconformity). Secara definitif, sequence stratigraphy adalah studi tentang stratigrafi dalam hubungannya dengan frame stratigrafi dalam waktu. Secara teoritis, dijelaskannya konsep sequence stratigraphy awalnya dikembangkan berdasarkan hasil studi dari suatu strata yang diendapkan sepanjang passive continental margins di mana subsidence umumnya meningkat ke arah basinward dari hinge point, shelf edges yang ditandai oleh perubahan depositional dip dan pemisahan lingkungan pengendapan dangkal dan dalam, dan kondisi tektonik relatif stabil.
Menggunakan visualisasi yang menarik, peserta diajak untuk mengenali hirarki unit stratal mulai dari sequence, parasequence set, parasequence, bedset, bed, lamina set dan lamina. Dalam kesempatan tersebut, dijelaskan pula permasalahan sistem deposisi yaitu suatu kumpulan tiga dimensi dari lithofacies seperti paket lithofacies dari delta yang diendapkan oleh sistem fluvial atau submarine fan yang diendapkan oleh arus gravity flow seperti turbidy flow. [nok]Seminar Nasional: Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban
11 November 2006Bangsa yang besar adalah bangsa yang peduli dan mengembangkan sektor pertaniannya. Keberhasilan pertanian mengangkat harkat dan martabat suatu negara, tidak dicapai sendirian, melainkan hasil kerja saling mendukung dan bahu-membahu dengan bidang lainnya. Indonesia yang dikaruniai kekayaan alam yang subur dan kaya, dengan alam tropis yang sepanjang tahun hampir selalu hujan, laut dengan panjang luas 5,8 juta kilometer persegi terbentang sepanjang 8000 km di khatulistiwa dengan panjang pantai 84000 kilometer terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, merupakan potensi strategis yang harus dikelola. Untuk itu, perlu adanya upaya untuk kembali menggiatkan dan menempatkan sektor pertanian di Indonesia sebagai sektor utama pembangunan. Hal ini sesuai dengan arti vital pertanian bagi kehidupan dan harapan bangsa dan negara Indonesia pada masa kini dan akan datang.
Sebagai salah satu langkah mewujudkan revitalisasi pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya menyelenggarakan seminar dan bedah buku nasional dengan tajuk ”Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban”, Sabtu, 11 November 2006, di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya. Tema ini diangkat dari judul sebuah buku ”Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban” yang ditulis oleh 45 orang dpakar ari berbagai disiplin ilmu. Penerbitan buku setebal 857 halaman ini difasilitasi oleh Selo Soemardjan Research Center, Komunitas Pemerhati Budaya dan Filsafat Timur, dan Penerbit Buku Kompas.
Hadir sebagai pemateri dalam kesempatan tersebut adalah Dr Bayu Krisnamurthi (Deputi bidang Koordinasi Pertanian dan Kehutanan Menko Perekonomian) dan Dr Eko Legowo, Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Agama Budha yang menggantikan Dr Siswono Yudo Husodo (mantan Ketua HKTI) yang berhalangan hadir dalam kesempatan tersebut. Keduanya adalah penulis buku yang melibatkan 27 penulis dari bidang pertanian dan 18 penulis dari bidang non pertanian ini. Sebagai pembahas utama dalam bedah buku adalah Prof Ir Soekartawi MS PhD dan Prof Ir Wani Hadi Utomo PhD, didukung oleh para pajabat dari beberapa fakultas di lingkungan Unibraw. Fakultas Pertanian diwakili oleh Pembantu Dekan III Dr Ir Sudiarso MS, Fakultas Peternakan diwakili Dekan Dr Ir Ifar Subagiyo, Fakultas Perikanan diwakili Dekan Dr Ir Sukoso, FMIPA diwakili Dekan Ir Adam Wiryawan MS, dan FE yang diwakili oleh Dr Maryunani MS. Dari mahasiswa, diwakili Presiden BEM Fakultas Pertanian Unibrraw.
Penurunan minat agrokompleks
Dalam sambutan pembukaan, Rektor Dr Yogi Sugito menyatakan, dunia pertanian pada saat ini sangat tidak populer sehingga membutuhkan penyegaran kembali melalui revitalisasi pertanian. Kegiatan revitalisasi pertanian, menurut guru besar agronomi ini, membutuhkan kesadaran dan komitmen banyak pihak, bahkan lintas disiplin dan lintas sektoral, secara simultan dan menyeluruh. Secara partial, ia mencontohkan menurunnya jumlah peminat bidang agrokompleks setiap penerimaan mahasiswa baru yang menurutnya bukan hanya akan berpengaruh pada kuantitas tetapi juga kualitas dari input bahkan output. Dari permasalahan sistemik ini, Rektor menekankan perlunya penyelesaian yang bersifat ideologis dan politis terutama dukungan kebijakan pemerintah untuk menggiatkan kembali sektor pertanian. Sementara itu, ketua pelaksana kegiatan ini yang juga guru besar Fakultas Pertanian, Prof Sumeru Ashari menyatakan bahwa kegiatan bedah buku serupa telah diselenggarakan di beberapa universitas di Indonesia di antaranya Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, IPB, Universitas Indonesia, dll. Setelah kegiatan ini, perlu tindak lanjut pada skala mikro di Universitas Brawijaya melalui revitalisasi pendidikan pertanian terutama dengan peningkatan kemampuan wirausaha serta penguatan mentalitas dan kepercayaan diri para mahasiswa untuk tidak rendah diri mempelajari keilmuan pertanian. Selain itu, terkait dengan implementasi tri dharma perguruan tinggi, proyek penelitian perlu juga diarahkan pada penelitian yang aplikatif dan disseminatif.
Peran pertanian menurun
Mengawali pemaparannya, Dr Ir Bayu Krisnamurthi MS menyoroti gaya penulisan buku “Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban” yang menurutnya tidak sistematis. “Ketidaksistematisan ini adalah sebuah keniscayaan yang disengaja, guna menggambarkan isi buku sebagai ilustrasi kompleksnya permasalahan yang harus dihadapi dalam revitalisasi pertanian", tuturnya.
Menurunnya peran dunia pertanian, menurut Bayu, berpengaruh signifikan terhadap budaya Indonesia, terutama yang terkait dengan doktrin sebagai negara agraris. Beberapa nilai budaya yang disoroti, di antaranya semangat gotong royong, hormat menghormati sesama manusia serta perasaan kasih dan hormat terhadap alam. “Melunturnya identitas bangsa ini berpengaruh terhadap kondisi Indonesia sekarang yang sangat mudah ditekan oleh konspirasi internasional”, ungkapnya.
Ada dua isu dunia terkait dengan keberadaan pertanian ke depan yaitu food (makanan) dan biofuel (bahan bakar nabati). Ia mengelompokkan pertanian dalam 5 kluster, meliputi: pangan, bioenergi, biofarmasi, serat dan material, serta turisme dan estetika. Melalui pengelompokan ini, ia berharap dapat lebih menyederhanakan permasalan dalam memulai upaya revitalisasi pertanian.
Bayu yang juga staf pengajar Institut Pertanian Bogor, menilai bahwa revitalisasi pertanian harus dimulai dari perubahan kesadaran arti penting pertanian secara proporsional dan konstekstual. Dalam hal ini, ia menyampaikan fakta bahwa eksportir pertanian terbesar di dunia justru diduduki oleh negara-negara maju. ”Inilah fakta saat ini, padahal kita menggambarkan dunia pertanian adalah dunia yang identik dengan kemiskinan, tetapi justru eksportir yang berhasil malah negara maju”, ungkapnya. Kontradiktif dengan pameo yang selama ini beredar di masyarakat, sebagian besar orang miskin adalah petani dan sebagian besar petani adalah orang miskin. ”Jumlah orang miskin yang terkait dengan pertanian di Indonesia pada saat ini jika diakumulasi hampir sama dengan jumlah seluruh warga negara Malaysia ditambah Singapura dan Brunei Darussalam”, tambahnya.
Ia menilai, kemiskinan struktural dalam bidang pertanian terkait dengan banyak hal, di antaranya permasalahan lahan. ”Untuk wilayah Jawa Timur misalnya, agar bisa sejahtera, maka jumlah lahan harus ditingkatkan minimal dua kali lipat daripada saat ini”, ungkapnya. Untuk hal ini, ia memberikan dua pilihan solusi yaitu luas lahan ditambah atau mengurangi jumlah petani.
Dalam seminar yang dihadiri lebih dari 100 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, birokrat dan politisi ini Bayu juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kebijakan impor berbagai komoditi pangan strategis yang dianggapnya sebagai kebijakan yang tidak pro petani. ”Untuk itu, revitalisasi pertanian juga harus memperhatikan aspek ideologi dan politik pertanian”, ungkapnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, penulisan buku ini sangat inspirasional, bahkan menyentuh aspek afeksional karena menyertakan pula kalangan budayawan dan agamawan. Secara khusus, ia menghimbau agar ada semacam kajian intelektual religius yang dikelola secara khusus yang mampu mempertemukan antara dunia pertanian dengan doktrin-doktrin agama dan nilai-nilai budaya. Nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa di antaranya, ia contohkan melalui perdagangan antara daerah yang dapat dirintis melalui kebijakan otonomi daerah pada saat ini. ”Masing-masing daerah pasti memiliki keunggulan spesifik dan mustahil satu daerah unggul dalam semua bidang, sehingga dengan keniscayaan ini menjadikan satu daerah membutuhkan daerah lain dalam hubungan yang harmonis”, ungkapnya. Selain itu, ia juga mengatakan perlunya ditekankan daya kerjasama yang selama ini seolah terkalahkan dengan propaganda upaya peningkatan daya saing. ”Sangat ironis, apel malang pada saat ini kalah dengan apel washington di Malang”, ungkapnya. Dalam hal ini, ia mengungkapkan keunggulan apel washington yang mampu menggandeng kerjasama dengan banyak pihak di antaranya pengusaha retil besar secara strategis sehingga menjadikan peningkatan citra dan pemasarannya.
Buku ini, menurut Bayu, sangat menarik dibaca, khususnya untuk kalangan pendidikan sebagai tonggak awal dalam upaya untuk merubah mindset menuju revitalisasi pertanian. ”Demi kemanusiaan, keadilan dan kedaulatan, petani sangat penting dan strategis”, ungkapnya. Selain itu, buku ini menurutnya juga sangat istimewa karena melibatkan banyak pihak khususnya di luar bidang pertanian untuk mentransfomasikan ilmu pengetahuan menjadi sebuah kearifan.
Mental spiritual
Pemateri kedua, Dr Eko Legowo dari Sekolah Tinggi Ilmu Agama Budha menyampaikan beberapa nilai dalam agama Budha yang juga merambah wilayah sosial untuk peningkatan kesejahteraan sosial di samping upaya menggugah kesejahteraan mental spiritual dalam sebuah keseimbangan. Secara khusus, ia juga menyampaikan bahwa dalam doktrin ajaran agama Budha, para bhikku Budha dilarang keluar rumah selama tiga bulan pada setiap tahun khususnya, pada awal datangnya musim penghujan dan berakhirnya musim penghujan. ”Pada musim-musim tersebut banyak tanaman mulai tumbuh, telur mulai menetas, dsb sehingga dibutuhkan perlindungan”, tambahnya.
Bedah buku menjadi lebih lengkap dengan bahasan dari beberapa pakar Unibraw. Mengemuka dalam sesi tersebut kritik terhadap model pendidikan Indonesia. Salah satunya datang dari Dekan Fakultas Perikanan Dr Sukoso. Menurut Sukoso, pendidikan di Indonesia mendidik anak-anak untuk ”berdasi”, bukannya dekat dengan alam dan ”berkotor-kotor ria”. Hal ini ia bandingkan dengan pengalamannya menyekolahkan anak di Jepang. Digambarkannya, pendidikan di Jepang mengajarkan kepada anak-anak sejak TK untuk dekat dengan alam, mulai dari bercocok tanam, merawat tanaman, memanen sampai pada berkompetisi membuat hasil pertanian menjadi bahan olahan. Secara khusus, Dr Sukoso menyarankan pemerintah agar lebih memperhatikan potensi laut yang selama ini belum digarap secara optimal. Keluhan mengenai penurunan kuantitas dan fenomena agrokompleks menjadi pilihan kedua, juga diutarakan oleh Dekan Fakultas Peternakan Dr Ifar Subagiyo. Menurutnya, hal ini merupakan imbas dari pamor pertanian yang telah dilupakan. [nok]Sofwan Chudhorie: Kebijakan Impor Gula Tak Memecahkan Masalah
11 November 2006Industri gula nasional masih memiliki permasalahan serius yang harus segera dipecahkan. Produksi gula dalam negeri hanya mampu mencukupi 60 persen dari kebutuhan gula domestik. Untuk memperlancar kebutuhan gula dalam negeri dan pasokan gula impor, Memperindag menetapkan empat perusahaan importir gula. Tetapi dalam pelaksanaannya, kebijakan itu justru menciptakan persoalan baru.
Demikian ungkap Drs M Sofwan Chudhorie MSi dalam disertasi berjudul “Analisis Ekonomi Politik Tata Niaga Impor Gula di Indonesia (Studi Kasus di Propinsi Jawa Timur)”. Ujian terbuka disertasi kandidat doktor dalam ilmu administrasi negara ini berlangsung di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Sabtu 11/11. Bertindak selaku promotor Prof Dr Didik J Rachbini, serta kopromotor Prof Dr M Irfan Islamy MPA dan Prof Dr Ir Soemarno MS. Tim penguji terdiri dari Prof Bustanul Arifin PhD, Prof Drs ZA Achmady MPA, Dr Candra Fajri Ananda SE MSc, dan penguji tamu Dr Fadhil Hasan dari INDEF.
Lebih lanjut Sofwan mengatakan, sejak gula impor meramaikan pasar gula nasional, harga gula di pasar dalam negeri cenderung menurun dan mengakibatkan tekanan yang berat pada produsen gula domestik. Penurunan harga gula itu bukan disebabkan kelebihan penawaran tetapi karena harga gula internasional memang lebih rendah dibandingkan harga gula domestik.
Akibatnya banyak petani tebu mengalami kerugian karena hasil tebu produksinya tidak dapat terjual atau terpaksa menjual tebu dengan harga di bawah biaya produksi.
Berbagai sumber data dipergunakan Sofwan dalam penelitiannya. Di antaranya: pelaku industri gula, pengambil kebijakan, institusi yang diberi kewenangan untuk melakukan impor gula, asosiasi petani tebu rakyat, koperasi, dan lembaga riset. Penelitian dilakukan di propinsi Jawa Timur karena propinsi ini menyumbangkan sekitar 40 persen dari total produksi gula nasional.
Ada tiga temuan penting dari penelitian disertasi ini. Pertama, setelah kebijakan tata niaga impor gula diberlakukan, jumlah pasokan dan harga gula menjadi fluktuatif. Ketidakstabilan ini disebabkan oleh ketidakmampuan pihak importir terdaftar (IT) yang dalam hal ini adalah PT RNI, PTPN IX, PTPN X dan PTPN XI, dalam mengimpor gula sesuai kebutuhan, serta ketidaksanggupan pemerintah untuk mencegah impor gula ilegal karena lemahnya pengawasan.
Kedua, adanya tarik menarik antar kelompok kepentingan seperti perusahaan pemegang IT, asosiasi petani tebu rakyat, koperasi dan pabrik gula, untuk menyikapi kebijakan tata niaga impor. Ketiga, dalam prakteknya perusahaan IT hanya bertindak sebagai rent seekers. Hal ini dikarenakan ketidaksanggupan perusahaan itu mengimpor gula mengingat keterbatasan pengalaman dan dana yang dimiliki. Temuan ketiga secara langsung berimbas pada petani tebu dan konsumen. Petani tebu dirugikan karena kenaikan harga gula domestik lebih banyak dinikmati oleh investor sementara konsumen dirugikan karena harga gula menjadi mahal.
Sofwan menyarankan dua kebijakan yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan gula. Pertama, tetap meneruskan kebijakan yang telah ditetapkan, tetapi harus memenuhi dua syarat: penentuan IT harus ditata ulang melalui proses yang transparan dan memenuhi asas keadilan, serta tarif impor harus disesuaikan agar marjin antara harga gula internasional dan domestik tidak terlalu besar. Kedua, kebijakan yang ada harus dicabut dan digantikan dengan mekanisme pasar terbatas. Dalam posisi ini, tugas pemerintah hanya dua yaitu menerapkan kebijakan tarif impor yang dapat meminimalisasi marjin harga gula internasional dan domestik, serta mempercepat proses peningkatan produksi gula domestik lewat kebijakan input seperti penyediaan kredit, benih dan pupuk murah, proses produksi, dan pasca produksi.
Pada saat yudisium, Sofwan Chudhorie dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan (IPK 3,40) dan berhak menyandang gelar doktor dalam bidang ilmu administrasi dengan minat administrasi publik.
Dr M Sofwan Chudhorie MSi (64 tahun), adalah pria kelahiran Ponorogo, 5 Juli 1942. Memperoleh gelar sarjana muda administrasi niaga (BBA) dari Universitas Brawijaya (1972), Sofwan mendapatkan gelar sarjana administrasi negara (Drs) dari Universitas Islam Malang (1979) dan magister sains administrasi negara (MSi) dari Universitas Brawijaya (2000). Aktif dalam organisasi semasa mahasiswa, Sofwan pernah menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Brawijaya (1973), juga pernah menjadi anggota DPRD Ponorogo wakil dari Partai Persatuan Pembangunan (1977-1982), Ketua DPRD Ponorogo (1982-1987), anggota MPR RI (1998-1999), anggota DPR RI wakil dari Partai Kebangkitan Bangsa (1999-2004), dan sejak 2004 hingga sekarang menjadi koordinator staf ahli FKB DPR RI.
Sebelum terjun ke dunia politik, ayah 3 putra ini juga pernah aktif dalam bidang pendidikan. Di antaranya pernah menjadi asisten dosen pada Universitas NU Malang, asisten dosen pada Universitas Merdeka Ponorogo, dan Kepala SPP-SPMA Pemda Ponorogo. Di samping itu, Sofwan juga aktif dalam dunia bisnis. Sejak 1991 ia menjabat sebagai Direktur PT Danar Wijaya/Brawijaya University Press, dan sebagai Direktur Utama PT Mitra Brawijaya Utama, sebuah perusahaan yang didirikan untuk mengelola seluruh aset Universitas Brawijaya sejak 2005. [nik]Bambang Eko Suharto: Menuju Pemerintah Lokal yang Responsif dan Akuntabel
11 November 2006Menyusul diberlakukannya UU No 32/2004 sebagai pengganti UU No. 22/1999, masyarakat mengharapkan terwujudnya pemeritah lokal yang responsif dan memiliki akuntabilitas. Namun kenyataannya pelayanan pemerintah lokal belum sesuai dengan yang diharapkan. Drh Bambang Eko Suharto MSi mengungkapkan hal ini pada ujian terbuka disertasinya yang berlangsung di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Sabtu 11/11. Bertindak selaku promotor Prof Drs Solichin Abdul Wahab MA PhD, dengan kopromotor Prof Dr M Irfan Islamy MPA dan Dr Sumartono MS. Tim penguji terdiri dari Prof Soetandyo Wignjosoebroto MPA, Prof Dr Azhar Kasim MPA, Dr Soesilo Zauhar MS dan Prof Dr Syamsul Ma’arif MA dari Institut Pertanian Bogor.
Dalam disertasi berjudul ”Responsivitas dan Akuntabilitas Pemerintah Lokal dalam Menuju Good Governance (Studi Kasus pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Daerah dan Kantor Perizinan Daerah Kabupaten Nganjuk)”, Bambang Eko Suharto memaparkan responsivitas birokrasi pemerintah yang diartikan sebagai ukuran atau tingkatan sejauh mana atau bagaimana daya tanggap birokrasi terhadap harapan, keinginan dan aspirasi, serta tuntutan pengguna jasa. Sementara akuntabilitas diartikan sebagai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan sebuah tindakan.
Penelitian yang dilakukan Bambang Eko Suharto menghasilkan beberapa kesimpulan, yaitu: munculnya birokrasi anti kritik, penyusunan UU kurang melibatkan masyarakat, kepemimpinan cenderung terlalu hati-hati, belum terwujudnya professional accountability, tidak adanya pendelegasian wewenang secara proposional, sarana prasarana di daerah rural masih memprihatinkan, serta belum terwujudnya importance responsiveness.
Pada akhir disertasi, Bambang Eko memberikan beberapa butir saran: pimpinan hendaknya berlapang dada dalam menerima kritik, DPRD seharusnya memiliki staf ahli, perlu membangun kepercayaan kepada para staf, institusi Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Pangkat) haruslah profesional dan bebas KKN, aparatur pengawasan sebaiknya independen, pengurusan izin yang monosektoral harus dikembalikan ke instansi teknis, perlu diadakan pelatihan teknis pada petugas pelayanan KTP-KK (kartu tanda penduduk-kartu keluarga), serta perlu mewujudkan sistem insentif dan disinsentif.
Pada yudisium, Bambang Eko Suharto dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan (IPK 3,59), dan berhak menyandang gelar doktor dalam bidang ilmu administrasi dengan minat administrasi publik.
Dr drh Bambang Eko Suharto MSi (48 tahun), putra kelahiran Pati 14 Januari 1958, adalah dokter hewan lulusan Universitas Airlangga (1984), dan magister sains administrasi publik dari Universitas Brawijaya (1999). Ayah tiga orang putra ini pernah bekerja di dinas peternakan (1984-2000), menjadi anggota DPRD Nganjuk (1997-1999), dan sejak 2001 hingga saat ini aktif di Balitbang.Kabupaten Nganjuk. [nik]S Minardi: Upaya Meningkatkan Berat Tongkol Jagung Manis
11 November 2006Rendahnya ketersediaan fosfat dan tingginya serapan fosfat pada Andisol dianggap sebagai satu faktor pembatas terpenting bagi produksi tanaman. Asam humat dan fulvat dari bahan organik yang ditambahkan pada tanah mampu memperbaiki ketersediaan fosfat dengan menurunkan serapan fosfat. Hal ini diungkapkan Ir S Minardi MP dalam disertasi berjudul ”Peran Asam Humat dan Fulvat dari Bahan Organik dalam Pelepasan P-Terjerap pada Andisol”. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya menggelar ujian terbuka disertasi kandidat dari Program Doktor Ilmu Pertanian ini, Sabtu 11/11. Bertindak sebagai promotor Prof Ir Eko Handayanto MSc PhD, dan kopromotor Prof Dr Ir Syekhfani MS serta Dr Ir Suntoro MS. Tim penguji terdiri dari Prof Dr Ir Soemarno MS, Prof Dr Ir Syamsulbahri MS, Dr Ir M Luthfi Rayes MSc, serta penguji dari P3GI Pasuruan Dr Ir Soeyanto Simoen MS APU.
Lebih lanjut Minardi mengemukakan, fosfor (P) merupakan unsur hara makro esensial yang berperan penting dalam penyediaan energi kimia yang dibutuhkan pada hampir semua kegiatan metabolisme tanaman. Pemberian pupuk P anorganik untuk mengatasi masalah P pada Andisol ternyata kurang efisien. Sehingga perlu dipertimbangkan untuk memilih bahan organik yang dapat memberikan persentase kandungan asam-asam organik, khususnya asam humat dan fulvat tinggi pada Andisol. Pupuk kandang, jerami padi dan pangkasan Gliricidia sepium merupakan macam bahan organik yang biasa digunakan untuk memperbaiki produktivitas tanaman pada jenis tanah yang didominasi Andisol.
Penelitian Minardi dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Fakultas Pertanian UNS Sebelas Maret Surakarta serta uji lapang di Tawangmangu Karanganyar Surakarta selama kurun waktu Februari 2005 sampai April 2006.
Penelitian terdiri dari tiga tahap percobaan. Tahap pertama dilakukan Minardi untuk mengetahui peran asam humat dan fulvat yang berasal dari tiga macam bahan organik yang digunakan yaitu bahan organik kering, ekstrak asam humat dan asam fulvat. Tahap kedua dilakukan Minardi untuk mengetahui penggunaan macam bahan organik dengan kandungan total asam humat dan fulvat berbeda serta pupuk P terhadap ketersediaan dan serapan P pada jagung manis. Sementara tahap ketiga dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan macam bahan organik dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil jagung manis pada Andisol.
Hasil penelitian menunjukkan, asam humat dan fulvat mampu berperan dalam pelepasan P-terjerap dan meningkatkan ketersediaan P tanah. Baik yang diberikan langsung ke dalam tanah dalam bentuk ektrak maupun secara tidak langsung dalam bentuk bahan organik. Penggunaan bahan organik dengan kandungan asam humat dan fulvat tinggi (Gliricida sepium) mampu berperan lebih besar dalam melepaskan P-terjerap menjadi tersedia, yang selanjutnya berdampak pada peningkatan hasil berat tongkol tanaman jagung manis. Minardi merekomendasikan agar petani jagung manis harus mengelola fosfat dengan cara mengembalikan sisa-sisa panen ke dalam tanah untuk menurunkan serapan fosfat dan pemakaian pupuk P untuk tanaman sebaiknya diberikan secara bertahap sesuai saat kebutuhan.
Dalam yudisium, Minardi dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (IPK 3,96) dan layak mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu-ilmu pertanian dengan minat pemupukan dan nutrisi tanaman.
Dr Ir S Minardi MP (55 tahun) adalah dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Negeri Surakarta (UNS) Sebelas Maret. Putra kelahiran Kudus ini adalah sarjana pertanian (Ir) lulusan UNS (1979) bidang agronomi, dan meraih gelar magister bidang pengelolaan tanah dan air di Universitas Brawijaya (1997). [nik]Kuliah Tamu: Prospek Jurnalisme Televisi di Indonesia
11 November 2006Dewasa ini perkembangan pertelevisian di Indonesia semakin marak, diwarnai dengan tayangan berita atau news. Seluruh stasiun televisi nasional saling berlomba menayangkan program berita yang dikemas dalam berbagai bentuk, mulai dari straight news, hardnews, hingga investigative news. Bahkan ada fenomena produksi berita yang dikemas secara ringan. Fenomena ini terjadi hampir di semua stasiun televisi di Indonesia.
Menanggapi fenomena tersebut, Program Studi Ilmu Komunikasi, Program Ilmu Sosial (PIS) Universitas Brawijaya, Sabtu 11/11, menggelar acara kuliah tamu dengan tema “Prospek Jurnalisme Televisi Indonesia”, di Ruang Kuliah Bersama (RKB).
Diundang sebagai pembicara dalam kesempatan tersebut adalah Charles Meikiansyah (Kepala Biro Metro TV Surabaya) dan Anang Sudjoko SSos MSi (staf pengajar Ilmu Komunikasi PIS Unibraw, yang juga Koordinator Malang Media Center) yang akan menyampaikan materi bertajuk “Jurnalisme Televisi Lokal”.
Bersama 2 orang rekan kerja, Charles yang tergabung dalam Team Pemberitaan PT Media Televisi Indonesia Metro TV Surabaya, menyampaikan berbagai topik mengenai jurnalisme pertelevisian mulai dari Dasar-Dasar Jurnalistik Untuk Media Televisi, Proses Produksi Berita TV sampai pada News Gathering. Secara khusus, dalam makalahnya Charles memaparkan pengetahuan jurnalistik yang diawalinya dengan teori isi berita televisi, program siaran, teori nilai berita dan format berita televisi. Presentasi pemateri dari stasiun televisi nasional seperti Metro TV disambut antusias para peserta yang mayoritas mahasiswa semester 3 Program Ilmu Sosial. Dalam satu sessi tanya jawab, seorang mahasiswa sempat menanyakan mengapa reporter/cameraperson dari Metro TV identik dengan wanita cantik? Menanggapi pertanyaan ini, Charles kemudian membocorkan rencana pihaknya yang akan melakukan rekruitmen reporter dalam waktu dekat dengan kualifikasi tertentu. Disebutkan secara detail dalam makalahnya, kualifikasi untuk menjadi seorang reporter menurutnya adalah kualitas pribadi (motivasi, komitmen, energi, inisiatif, mampu bekerja dibawah tekanan dan intelektual tinggi), ketrampilan teknis (kemampuan menulis, kemampuan meneruskan dan membangun ide, kemampuan bekerja dalam tim, dan penguasaan peralatan), kemampuan komunikasi, dan integritas tinggi.
Dalam kesempatan itu, Team Pemberitaan Metro TV juga menyampaikan beberapa cuplikan ”behind the scene” beberapa berita, untuk memberikan pengetahuan kepada para peserta mana materi yang pantas di beritakan dan yang tidak.
Sementara itu, Dosen Komunikasi Massa Universitas Brawijaya, Anang Sudjoko dalam materi bertajuk ”Jurnalisme Televisi Lokal, Citra Lokal Dalam Kepungan jakarta Sentris” menyatakan bahwa jurnalisme TV Lokal berperan besar dalam membangun citra lokal melalui berita. Untuk meningkatkan posisi TV lokal, menurut Anang yang juga Ketua Malang Media & Communication Center masih banyak tantangan yang harus dihadapi diantaranya adalah kebutuhan SDM yang handal dan banyak sementara disisi lain SDM siap kerja dalam jurnalisme TV masih sangat terbatas. Selain itu, tantangan penting lain yang harus dihadapi adalah keengganan sponsor untuk memasang iklan disamping dominasi televisi swasta dari Jakarta yang telah mendominasi kalangan pemirsa televisi. [nok]Persiapan Dies Natalis ke-44 Universitas Brawijaya
10 November 2006
Rektor Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Yogi Sugito, Jumat 10/11, memimpin rapat persiapan peringatan Dies Natalis ke-44 Universitas Brawijaya. Dalam rapat yang dihadiri para dekan serta segenap anggota panitia, Rektor menekankan perlunya melibatkan partisipasi seluas mungkin dari sivitas akademika. "Bagaimana agar semua bisa ikut memeriahkan lomba-lomba yang diadakan. Santai-santai saja, jangan sampai terjadi pertengkaran atau perkelahian. Banyak acara-acara di TV yang bisa ditiru", kata Rektor dalam pengarahannya.Dalam kesempatan itu, Ketua Panitia Prof Dr Bambang Subroto SE MM Ak, memaparkan rencana acara peringatan secara umum. Tema peringatan yang diusulkan adalah "Mengoptimalkan Otonomi untuk Meningkatkan Daya Saing Lulusan". Diawali dengan gerak jalan sehat pada hari Minggu 26 November 2006, puncak peringatan diakhiri tepat pada hari kelahiran Universitas Brawijaya, 5 Januari 2007, dengan acara Rapat Senat Terbuka dan malamnya dimeriahkan dengan malam kesenian. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, beberapa kegiatan memang sengaja dipangkas pada tahun ini, seperti: open house pendidikan, dan upacara bendera pada tanggal 5 Januari. Prof Bambang Subroto menambahkan, dalam malam kesenian diusahakan tidak mendatangkan artis dari luar, tetapi lebih memanfaatkan potensi yang ada seperti band, campursari, tari-tarian dan gending, dari dan untuk warga Unibraw.
Semua kegiatan pertandingan dan lomba, baik olahraga maupun seni, diselenggarakan dalam kurun waktu sekitar satu bulan itu. Perkecualian hanya bagi kegiatan-kegiatan ilmiah seperti seminar dan lokakarya, yang boleh diadakan setelah lewat tanggal 5 Januari 2007. Untuk itu fakultas-fakultas dipersilakan melaporkan rencana waktu pelaksanannya kepada panitia.
Beberapa kegiatan diintrodusir pada peringatan dies natalis tahun ini, seperti kuis-kuis yang dapat melibatkan banyak orang baik yang bersifat santai maupun serius, dan pagelaran wayang orang dengan pemain para pejabat. Dalam cabang olahraga, misalnya, juga diadakan pertandingan tenis dan bulutangkis dosen dan karyawan antar perguruan tinggi negeri se Jawa Timur, serta pertandingan bola voli antar SMU se Malang Raya. Semuanya diadakan di dalam lingkungan kampus.
Namun demikian lomba/pertandingan untuk cabang-cabang "tradisional" seperti senam kesegaran jasmani, tarik tambang, sepak bola mini, dan gebyar tari nusantara, dan sebagainya masih tetap diadakan.
Di samping olahraga dan kesenian, dalam peringatan dies natalis ini tetap juga diselenggarakan kegiatan-kegiatan ilmiah, pengabdian masyarakat, kebersihan lingkungan, pemeriksaan kesehatan dan sebagainya.
Kepanitiaan inti dies natalis kali ini adalah personel dari Fakultas Ekonomi (FE) dan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), diketuai Dekan FE Prof Bambang Subroto dengan wakil ketua Dekan FIA Dr Suhadak MEc; sekretaris: Pembantu Dekan I FE Dr Munawar Ismail SE DEA, Dr Sumartono MS; bendahara: Drs Bambang Hariadi MEc, Drs Choirul Saleh MSi, Imam Safii SE MM.
Dies natalis Universitas Brawijaya diperingati setiap tanggal 5 Januari, mengacu pada surat keputusan Menteri PTIP nomor 1 tahun 1963 tanggal 5 Januari 1963 tentang penegerian Universitas Brawijaya, yang kemudian dikukuhkan dengan Keputusan Presiden nomor 196 tahun 1963 tanggal 23 September 1963.
Selama 44 tahun ini, Universitas Brawijaya mengalami kepemimpinan 11 rektor, yaitu: H Doel Arnowo (1963-1966), Prof Dr Eri Soedewo (1966), Kol Moejadhi (1966-1969), Prof Dr Ir Moeljadi Banoewidjojo (1969-1973), Prof Darji Darmodiharjo SH (1973-1979), Prof Dr Harsono (1979-1987), Prof Drs ZA Achmady MPA (1987-1994), Prof Drs HM Hasyim Baisoeni (1994-1998), Prof Dr Eka Afnan Troena (1998-2002), Prof Dr Ir Bambang Guritno (2002-2006), dan Prof Dr Ir Yogi Sugito (2006-sekarang).
Jumlah fakultas telah berkembang dari 5 fakultas pada saat dinegerikan tahun 1963, menjadi 10 fakultas ditambah 2 program (bentuk transisi sebelum menjadi fakultas) pada saat ini. Kini program studi yang dikelola sebanyak 44 program studi S1, 17 program studi S2, 5 program studi S3, 10 program studi pendidikan dokter spesialis I, dan 17 program diploma. [Far]Kursus Interpretasi Data Seismik
9 November 2006
Laboratorium Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya selama dua hari 9-10 November 2006, menyelenggarakan Kursus Interpretasi Data Seismik. Kursus digelar di ruang pertemuan FMIPA Unibraw.
Untuk ini, Laboratorium Geofisika FMIPA Unibraw bekerja sama dengan Dr. Waluyo, salah seorang geofisikawan senior dari Pertamina Jakarta yang bertindak selaku narasumber.
Kursus ini terbuka untuk mahasiswa, praktisi dan dosen ilmu kebumian seperti geologiwan, geofisikawan, insinyur, teknisi, atau mereka yang menaruh minat dalam eksplorasi hidrokarbon.
Diharapkan kursus ini dapat membawa peserta dari berbagai disiplin ilmu kebumian untuk lebih mengetahui perannya dalam industri eksplorasi hidrokarbon sebagai salah satu sumber energi di Indonesia.
Terutama bagi mahasiswa, kursus ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara garis besar tentang aplikasi ilmu yang didapatkan dari para dosen di kampus, juga tentang aliran kerja di perusahaan minyak secara terintegrasi, dan dapat mendorong mahasiswa untuk lebih termotivasi dalam belajar, supaya lebih siap dan lebih percaya diri dalam menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti.
Pendaftaran kursus ini dibuka hingga 8 November. Peminat dapat menghubungi Ali Mansur (0817384433), atau Titan Parasita 04 (081803824245). Dapat pula melalui email dengan alamat: scaapg_ub@yahoo.com atau geo_fisika_ub@yahoo.co.id, atau langsung ke Laboratorium Geofisika, Jurusan Fisika, FMIPA Unibraw. [Far]Endang Siti Astuti Azis: Lingkungan Organisasi Pengaruhi Perkembangan TI
9 November 2006Sistem informasi memainkan peranan vital di dalam operasi yang efisien, manajemen yang efektif dan keberhasilan strategi organisasi. Tujuan strategis organisasi dapat tercapai bila ada keseimbangan teknologi informasi dan sumber daya manusia dalam sebuah organisasi secara efektif dan efisien. Teknologi informasi memiliki tiga peranan vital dalam organisasi, yaitu: mendukung operasi organisasi, pengambilan keputusan manajerial dan keunggulan strategis.
Demikian Dra Endang Siti Astuti Azis MSi dalam disertasi berjudul "Pengaruh Partisipasi dan Latar Belakang Organisasi terhadap Keterlibatan Eksekutif dan Pengembangan Teknologi Informasi serta Kinerja Organisasi". Fakultas Ilmu Administrasi menggelar ujian terbuka bagi Dra Endang Siti Astuti MSi, Kamis 9/11. Bertindak selaku promotor Prof Dr Umar Nimran MA, serta kopromotor Prof Dr M Syafiie Idrus MEc dan Dr Eko Ganis MCom. Tim penguji terdiri dari Prof Dr Bambang Swasto ME, Prof Dr Djumilah Zain SE, Prof Dr Armanu Thoyib SE MSc, dan penguji tamu Prof Dr Muhammad Nur Sadik MPM dari Institut Pertanian Bogor.
Endang Azis dalam disertasi itu mengatakan, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki basis teknologi informasi masih terus meningkat, namun jumlah sumber daya manusia yang memiliki keterampilan teknologi informasi masih belum mencukupi. Berbagai hal yang menyebabkan kurangnya kesadaran untuk menggunakan teknologi informasi dalam membantu pelaksanaan sebuah pekerjaan di antaranya adalah masih adanya budaya yang menganggap bahwa tanpa teknologi informasi sudah bisa menyelesaikan suatu kegiatan, dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun sebuah infrastruktur teknologi informasi.
Penelitian Endang Azis menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif. Sebanyak 135 responden dari kalangan pekerja pada perusahaan keuangan, telekomunikasi, transportasi, manufaktur dan retail. Hasil penelitian menunjukkan lingkungan organisasi merupakan variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap pengembangan teknologi informasi dan kinerja organisasi, dibandingkan partisipasi eksekutif, latar belakang eksekutif dan kondisi organisasi. Agar kinerja organisasi berjalan secara efektif dan efisien, Endang Azis merekomendasikan beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya yaitu eksekutif perusahaan menggunakan, memanfaatkan serta mendukung secara aktif teknologi informasi, membangun kemitraan dengan para eksekutif lini bisnis internal, dan perusahan hendaknya memiliki tim teknologi informasi.
Dalam yudisium, Endang Azis dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor dalam bidang ilmu administrasi bisnis dengan predikat sangat memuaskan.
Dr. Endang Siti Astuti Azis MSi (53 tahun) adalah dosen senior pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang. Ibu satu orang putra kelahiran Magetan ini adalah sarjana administrasi niaga lulusan Universitas Brawijaya (1979) dan magister sains administrasi bisnis di universitas yang sama (2000). [nik]Workshop Information Resource Sharing
8 November 2006Kegiatan berbagi informasi melalui penyediaaan pangkalan data digital antar perpustakaan perguruan tinggi dan lembaga penelitian guna memenuhi keperluan informasi bagi pengguna perlu digalakkan. Namun usaha mewujudkan berbagai sumber informasi itu masih mengalami kendala, seperti minimnya pengetahuan pengguna akan sumber informasi, dan keterbatasan yang dimiliki pengguna dalam hal waktu, jarak dan biaya yang diperlukan untuk mengakses sumber informasi.
Hal itu terungkap pada pelaksanaan Workshop Information Resource Sharing di Gedung Perpustkaan Universitas Brawijaya Malang, Rabu 8 November 2006. Kegiatan yang akan berlangsung hingga Kamis 9/11 ini dibuka oleh Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito.
Manajer proyek TPSDP-UPT Per-pustakaan Universitas Brawijaya Malang Muslech DipLib MSi menyatakan, tujuan diselenggarakannya workshop adalah untuk menjalin kerjasama dengan per-pustakaan perguruan tinggi negeri dan pusat sumber informasi dalam meman-faatkan bersama sumber informasi berbasis teknologi informasi, secara efisien dan efektif. Puluhan peserta yang hadir berasal dari pengelola perpustakaan tinggi negeri dan swasta tingkat nasional yang tergabung dalam Forum Kerjasama Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri (FKP2PTN) serta pustakawan di lingkungan Universitas Brawijaya Malang.
Beberapa masalah yang dibahas dalam workshop kali itu diantaranya tata cara inter library loan, pertukaran data melalui media internet, kesepakatan tentang aspek royalti dan HaKI serta tangible benefit. Hadir sebagai pemateri yaitu Dra Hj Luki Wijayanti SIP MSi kepala perpustakan Universitas Indonesia dengan materi “Membangun Jaringan Antar Perguruan Tinggi dalam Upaya Memenuhi Kebutuhan Stakeholders”, Dra Welmin Sunyi Ariningsih MLib dengan materi “Sharing Sumber Informasi Ilmiah dalam Upaya Pengembangan Iptek”, serta Dr Ir Harry Soekotjo Dahlan MSc dari Pusat Pengembangan E-Learning Universitas Brawijaya, dengan materi “Pemanfaatan Bersama Jaringan Unibraw untuk Pengembangan Iptek”. [nik]Mohammad Shofie Juara Pertama Karya Tulis Ketenagalistrikan
8 November 2006Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang kembali meraih prestasi dalam lomba penulisan karya tulis nasional. Mohammad Shofie dari Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang keluar sebagai juara pertama Lomba Karya Tulis Ketenagalistrikan yang diselenggarakan oleh PT PLN (Persero) dalam rangka peringatan Hari Listrik Nasional 2006. Penghargaan berupa piagam dan uang tunai sebesar Rp 12 juta diterima Shofie langsung dari Direktur Utama PT PLN Persero, Eddie Widiono, Senin 6 November 2006, dalam sebuah upacara di Jakarta.
Shofie dalam karya tulisnya yang berjudul “Green Policy dalam Rangka Membudayakan Gerakan Hemat Listrik Berwawasan Lingkungan (Wujud Kepe-dulian PLN dalam Mengatasi Pemanasan Global” menyatakan tiga bentuk kebijak-an lingkungan yang dapat diterapkan oleh pemerintah maupun PLN. Tiga kebijakan itu meliputi penentuan tarif dasar listrik berdasarkan rata-rata suhu udara nasional per tahun.
Dengan mengimplementasikan kebijakan ini menurut Shofie, rencana kenaikan TDL tidak lagi semata-mata dipandang banyak kalangan hanya sebagai kepentingan pribadi pemerintah maupun PLN belaka, namun lebih karena misi menyelamatkan bumi dari pemanas-an global. Kebijakan kedua adalah menerapkan integrated green sale bagi pelanggan PLN berdasarkan tingkat konsumsi listrik (Kwh/bulan). Kebijakan ini menurut Shofie, dapat menghemat pasokan listrik puluhan hingga ratusan megawatt. Kebijakan terakhir yaitu melakukan diversifikasi sumber energi terbarukan yang belum serius direalisasikan oleh pemerintah dan PLN. [nik]Workshop Implementation of Local Knowledge Wealth Distribution
6-7 November 2006Sumber informasi ilmiah (local content) di lingkungan Universitas Brawijaya merupakan aset yang sangat berharga. Hasil karya ilmiah sivitas akademika Universitas Brawijaya ini sangat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karenanya, sumber informasi perlu dibangun dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada, agar dapat dimanfaatkan bersama-sama oleh sivitas akademika dan masyarakat dan mampu membuahkan karya ilmiah terkini berupa produk penelitian unggulan yang bersifat temuan. Demikian sebagaimana yang diungkap-kan oleh Kepala Perpustakaan Universitas Brawijaya Malang Dra Welmin Sunyi Ariningsih MLib pada pembukaan “Workshop Implementasi Penyebaran Kekayaan Ilmiah Lokal”, Senin 6 November 2006.
Lebih lanjut Welmin mengungkapkan, Perpustakaan Universitas Brawijaya Malang telah mengumpulkan karya ilmiah lokal. Penyediaan sarana bantu pengajaran melalui penyediaan dan pengem-bangan sarana pembelajaran multimedia, guna meningkatkan pengembangan e-learning sebagai salah satu sarana menuju e-campus juga telah dilakukan Perpus-takaan Universitas Brawijaya. Perbaikan dan peningkatan kualitas layanan perpustakaan itu dilakukan agar seluruh jurusan saling terkoordinasi serta ter-interkoneksi satu sama lain.
Pengumpulan sumber ilmiah lokal Universitas Brawijaya Malang menurut Welmin, memunculkan jumlah informasi yang cukup besar sehingga perlu dikembangkan sebuah virtual library system (VLS) yang memiliki kapasitas distribusi pangkalan data yang lebih baik. VLS baru yang dikembangkan Per-pustakaan Universitas Brawijaya Malang itu memungkinkan penggabungan pene-lusuran lebih efisien dan mudah, dengan pangkalan data yang lebih luas.
Kegiatan workshop merupakan rangkaian kegiatan TPSDP-UPT Perpustakaan Universitas Brawijaya Malang, setelah pada 20-21 Juni 2006 telah diselenggarakan Workshop Pengembangan Sistem Interkoneksi Karya Ilmiah Lokal Menuju Otonomi Universitas Brawijaya. Workshop kali ini diikuti oleh puluhan peserta dari kalangan dosen, pustakawan serta pejabat di lingkungan Universitas Brawijaya Malang. Hadir sebagai pemateri yaitu Drs Darmono MSi dari Universitas Negeri Malang dengan materi “Peran Karya Ilmiah Lokal bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”, Drs Achmad MA dari Institut Teknologi 10 November Surabaya dengan materi “Virtual Library System: Upaya Membangun Sumber Informasi Ilmiah Bersama”. Turut hadir sebagai pembicara dari Universitas Brawijaya Malang yaitu Agus Wahyu Widodo ST dengan materi “System Metadata Virtual Library System Baru UPT Perpustakaan Unibraw”, serta Drs Syaifuddin MHum dengan materi “Proses Diseminasi dan Temu Kembali Informasi pada VLS Baru UPT Perpustakaan Unibraw”. [nik]Seminar Nasional Membangun Bangsa Bersama IT/ICT
7 November 2006Masyarakat umum dapat mengikuti seminar nasional "Bersama IT/ICT Membangun Bangsa: Aplikasi Teknologi Komunikasi dan Informasi Indonesia 2006". Seminar itu diselenggarakan Kamis, 30 November 2006, di Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta. Demikian keterangan Prof. Dr. Soekartawi, ketua steering committee seminar tesebut kepada PRASETYA Online.
Soekartawi mengatakan, kini banyak ide, gagasan, dan hasil-hasil riset mengenai aplikasi IT/ICT yang ditunjukkan dalam berbagai aktivitas, namun sayangnya hal tersebut kurang dipublikasikan. Akibatnya, hasil riset yang mahal itu tidak banyak bermanfaat bagi orang banyak. Soekartawi yang juga guru besar Unibraw dan kini tenaga ahli di Depdiknas itu menembahkan, percuma kalau hasil riset hanya disimpan saja. Pada hal hasil itu dapat dipakai untuk pengayaan ilmu pengetahuan atau pengayaan materi pembelajaran; hasil riset juga andalan untuk mengembangkan Saintek/Iptek yang berguna pada masyarakat luas.
Karena itulah ketika diminta menjadi ketua SC seminar, ia menerimanya dengan senang hati. Dan di luar dugaan, kini sudah banyak peminat yang ingin menyampaikan hasil riset yang memanfaatkan IT/ICT untuk berbagai aktivitas. Misalnya untuk pendidikan, industri, manajemen, dan sebagainya.
Soekartawi mengakui, memang banyak di antara kita yang kurang senang menulis ide, gagasan, dan hasil penelitian dalam berbagai media, termasuk dalam kegiatan seminar, workshop atau lainnya. Hal yang demikian tentu akan merugikan yang bersangkutan. Sebab, mereka tidak atau kurang direcognize (disegani) oleh komunitasnya. Soekartawi yang sembilan tahun menjabat di SEAMEO (Southeast Asia Ministers of Education Organization) itu mengingatkan pentinya mengikuti seminar atau menulis hasil karya di media penerbitan. Di negara lain muncul moto: ’perish or publish’ atau sebaliknya ’publish or vanish’. Artinya kalau akademisi tidak mau menyampaikan buah karyanya dalam suatu seminar atau tidak mempublikasikan, maka itu tidak ada artinya apa-apa.
Sebaliknya, kalau akademisi, atau siapa saja, rajin menyampaikan hasil karyanya dalam seminar atau media penerbitan, apakah itu koran atau jurnal ilmiah, maka mereka berpeluang besar untuk ‘mendunia’. Soekartawi menceritakan ketika dirinya dinominasi sebagai pejabat SEAMEO di Filipina dan akhirnya berhasil, ternyata penilaian terhadapnya didasarkan pada banyaknya hasil publikasi di jurnal ilmiah, koran, seminar, dan sebagainya. Di SEAMEO, Soekartawi 6 tahun bertugas di Filipina, dan 3 tahun di Jakarta, sebelum akhirnya bertugas di Depdiknas.
Bagi mereka yang berkeinginan mengikuti seminar nasional tersebut, khususnya dari luar Jakarta, Soekartawi menyanggupi untuk membantu, dan dipersilakan menghubunginya melalui alamat email: soekartawi@yahoo.com, http://www.usahid.org, atau di Pascasarjana Usahid, d/a Hotel Sahid, Jl. Jenderal Sudirman 86, Jakarta. [skw]Disertasi Husen Alting: Pembaharuan Agraria, Jawaban atas Ketidakharmonisan Hukum
7 November 2006Masyarakat Indonesia bercorak agraris. Meski reformasi telah membawa perubahan pada tataran konstitusi, masih ada kearifan tradisional yang tidak diakomodir, belum ada perlindungan hak masyarakat hukum adat, sehingga terjadi ketidakadilan pemanfaatan tanah bagi masyarakat hukum adat. Kondisi saat ini didukung oleh kebijakan politik hukum sentralistik yang cenderung kurang memperhatikan keberagaman.
Demikian Husen Alting SH MH dalam disertasi berjudul “Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah di Maluku Utara: Perspektif Hukum dalam Otonomi Daerah”. Ujian terbuka disertasi kandidat dari Program Doktor Ilmu Hukum ini digelar Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Selasa 7/11. Bertindak sebagai promotor Prof Dr Moch Munir SH, dan kopromotor Prof Dr Muchsin SH serta Dr I Nyoman Nurjaya SH MH. Tim penguji terdiri dari Prof Dr Made Sadhi Astuti SH, Prof Dr Achmad Sodiki SH, serta penguji dari Universitas Airlangga Dr Haryono SH MCL.
Berkaitan dengan hak pengelolaan tanah, Husen Alting mengemukakan beberapa fenomena hukum di Indonesia. Pertama, pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat oleh pemerintah masih sebatas wacana untuk meredam tuntutan masyarakat adat atas hak-hak sumber daya alam (SDA). Ketika terjadi perebutan SDA dengan pemerintah atau pengusaha, masyarakat adat selalu dalam posisi lemah. Kedua, salah satu penyebab konflik agraria bersumber dari konsep hak menguasai negara. Tidak jelas dalam memberikan makna, substansi, batas-batas kekuasaan, dan keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan SDA, berimplikasi perbedaan tafsir pada tataran implementasi, dan ini menimbulkan konflik.
Ketiga, hukum adat menjadi dasar pembentukan Undang-undang Pokok Agraria (UUPA). Namun sampai sekarang hak-hak masyarakat tradisional semakin tidak mendapat tempat, bahkan ada kecenderungan untuk melakukan penghapusan. Keempat, terjadinya ketimpangan penguasaan SDA dikarenakan regulasi peraturan perundang-undangan pemerintah yang saling tumpang tindih dan bertentangan. Kelima, salah satu penyebab konflik horizontal di Maluku Utara, selain faktor politik, agama dan budaya, menurut Husen Alting, juga berkaitan dengan ketidakadilan pemanfaatan sumber daya tanah, berupa pengingkaran atas hak-hak tradisional masyarakat hukum adat (MHA).
Penelitian Husen Alting dilakukan di Ternate, Provinsi Maluku Utara. Masyarakat hukum adat Ternate masih taat dan menerapkan hukum adat, dan terdapat institusi adat. Hasil penelitian Alting menunjukkan substansi perundang-undangan yang mengatur hak atas masyarakat hukum adat saling bertentangan. Selain itu pengakuan masyarakat hak ada dalam perundang-undangan dilakukan secara bersyarat, hukum adat diletakkan lebih rendah dari hukum negara, belum adanya peraturan daerah yang mengatur hak MHA, terjadi dualisme kelembagaan pelayanan dalam otonomi derah, belum berpihaknya sarana dan kinerja aparat pada MHA, serta masih terdapat penguasaan tanah berdasarkan hukum adat.
Menurut Husen Alting, pembaharuan agraria merupakan jawaban atas ketidakharmonisan hukum. Disarankan untuk melakukan penataan pengelolaan sumber daya alam dalam bingkai otonomi daerah. Beberapa bagian UUPA perlu direvisi, juga peraturan sektoral lainnya, agar sesuai dengan amanah UUD 1945 dan Tap MPR IX/MPR/2001. Bagian penting yang perlu dimasukkan dalam revisi UUPA (Undang-undang Pokok Agraria) mauoun UU-MHA, menurut Husen Alting, antara lain: mengukuhkan hukum adat yang mengatur hak atas tanah sehingga mempunyai legal entity seperti UU; memasukkan asas-asas hukum adat sebagai hukum tidak tertulis dalam pembentukan UU; mewajibkan pemerintah dan pemerintah daerah melakukan perlindungan secara preventif maupun represif terhadap hal atas tanah dan SDA lainnya yang dikuasai MHA; pengakuan hal MHA harus dilakukan berdasarkan kepentingan kesejahteraan MHA; mengakui penguasaan tanah secara komunal maupun individual yang terdapat dalam MHA; dan mengakui lembaga/institusi adat dalam penyelesaian sengketa SDA.
Pada tingkat lokal, disarankan perlunya suatu lembaga yang difasilitasi pemda untuk menyatukan stakeholders, guna merancang struktur dan membangun sistem yang dapat didistribusikan dan memberikan kesempatan pada MHA dalam memanfaatkan SDA di daerah.
Dalam yudisium, Husen Alting dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor dalam ilmu hukum dengan predikat cumlaude (IPK 3,91 masa studi 3 tahun 3 bulan).
Dr Husen Alting SH MH (34 tahun) adalah putra Ternate kelahiran Weda 6 Maret 1972, sarjana hukum lulusan Universitas Hasanuddin Makassar (1996), magister hukum dari universitas yang sama (1999), saat ini bekerja sebagai dosen pada Fakultas Hukum Universitas Khairun, Ternate (Maluku Utara). Pernah mengikuti training NGO Management di Jepang (2003), Husen Alting pernah pula menjabat sebagai Ketua Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas Khairun Ternate (1999-2002), Direktur Media Watch Maluku Utara (2001-2002), dan Pembantu Dekan Bidang Administrasi Umum dan Keuangan (2002-2003). Selain mengajar Alting juga memimpin sebuah Lembaga Mitra Lingkungan Maluku Utara sejak 2900, dan saat ini aktif menjadi pengurus Konsorsium Makuwaje Maluku Utara. [nik]Disertasi Suparno: Transporter SERT untuk Diagnostik Molekuler Gangguan Jiwa
6 November 2006Tingginya angka kegagalan terapi (30%-60%) pada penderita psikiatri, baik terapi psikofarmaka maupun psikoterapi, merupakan problema utama. Hal ini terkait erat dengan beberapa faktor, antara lain ketepatan diagnosis. Diagnosis di bidang psikiatri saat ini cenderung mengarah pada diagnostik fenotipik yang berlandaskan pada observasi gejala dan tanda yang tampak dari luar.
Demikian dr Suparno SPKJ dari Program Doktor Ilmu Kedokteran dalam disertasi berjudul “Stresor Fisik atau Psikologik Menimbulkan Distres Melalui Peningkatan IL-6, Kortisol dan Kerusakan Neuron CA3 Hipokampus Berupa Peningkatan Distribusi Transporter Serotonin (SERT) dan Indeks Apoptis”. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya menggelar ujian terbuka disertasi tersebut, Senin 6/11.
Bertindak sebagai promotor Prof Dr dr Djanggan Sargowo SpPD SpJP(K), dan kopromotor Prof Dr dr Hanafi Muljohardjono SpKJ serta Dr dr I Ketut Gede Muliartha SpPA. Tim penguji terdiri dari Prof Dr dr Sanarto Santoso DTMH SpMK, Dr dr Edi Widjajanto MS SpPK, Dr dr M Rasjad Indra MS serta penguji dari UNS Sebelas Maret Prof Dr dr Aris Sudiyanto SpPK.
Lebih lanjut Suparno menyatakan, diagnosis psikiatrik akan lebih akurat bila mempertimbangkan jenis malfungsi individual yang terjadi pada berbagai jenis neorotransmisi seperti malfungsi serotonergik, malfungsi dopaminergik, malfungsi noradrenergik dan malfungsi GABAergik. Sehingga diagnosisnya sangat serasi dengan gejala dan tanda “tampak luar” maupun perubahan-perubahan internal yang terjadi di tingkat molekuler pada susunan syarat pusat ataupun bagian tubuh yang lain yang sejatinya merupakan pencetus gangguan jiwa.
Gangguan jiwa jenis distres menurut Suparno memiliki hubungan erat dengan jenis stresornya seperti fisik, kejiwaan, akut maupun kronis. Selain itu terkait pula dengan perubahan fungsi dan struktur hipokampus serta konsentrasi interleukin -6 plasma maupun kadar kortisol darah serta afinitas atau densitas transporter serotonin pada trombosit.
Penelitian Suparno dilakukan di Lab Biomedik, Lab Biologi, Lab Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/ Rumah Sakit Dr Saiful Anwar Malang. Dalam penelitian itu hewan coba tikus Rattus novergicus strain Winstar (mencit) dipapar renjatan listrik dan paparan predator kucing pada kurun waktu Juni-Oktober 2005. Hasil penelitian menunjukkan beberapa hal penting, di antaranya: stresor fisik maupun kejiwaan akan menyebabkan terjadinya perubahan fungsi dan struktur hipokampus, melalui peran kortisol dan IL-6 plasma. Di samping itu, peran IL-6 sebagai mediator stres menjadi lebih dominan dibandingkan dengan kortisol, mengingat IL-6 plasma dapat meningkatkan distribusi IL-6 maupun kortisol hipokampus lebih tinggi (63,79% dan 77,86%) dibandingkan dengan kortisol plasma (38,19% dan 41,98%). Baik stresor fisik maupun stresor psikologik akan menimbulkan distres dengan gradasi yang kurang lebih sama, melalui gangguan fungsi dan struktur hipokampus dengan tingkatan yang sama pula.
Dari penelitian ini telah dapat dibuktikan, transporter serotonin (SERT), interlekin-6 dan kortisol, dapat dimanfaatkan untuk menegakkan diagnosis molekuler (diagnostik genotipik) dari suatu gangguan kejiwaan. Akan tetapi manfaat tersebut masih perlu ditingkatkan kualitasnya dengan penelitian lanjutan.
Suparno menyarankan peningkatan fasilitas dan jumlah pakar laboratorium biomedik, terutama fasilitas pemeriksaan radioaktif (ligand binding). Hal ini diperlukan untuk mendukung penelitian lebih lanjut kemungkinan penggunaan transporter-serotonin trombisit sebagai prediktor laboratorik gangguan jiwa yang lebih sederhana tapi akurat.
Dr dr Suparno SpKJ adalah putra kelahiran Tulungagung 26 Mei 1949, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (1981), spesialis kesehatan jiwa lulusan Universitas Airlangga (1992), dan bertugas di kalangan militer. Dengan pangkat terakhir letnan kolonel CKM, kini Suparno telah memasuki masa purnawira. Sebelumnya, Suparno bertugas sebagai dokter militer pada Batalyon Kavaleri 3 Serbu, dan pada Batalyon Infantri 521 di Timor Timur. Saat ini, Suparno menjabat sebagai Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Soepraoen Kesehatan Daerah Militer (Kesdam) V Brawijaya. [nik]Sore Ini Prof Hendrawan Berangkat ke Nairobi
4 November 2006Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Brawijaya, Prof Dr Hendrawan Soetanto MRurSc, sore ini 4/11, berangkat ke Nairobi, Kenya, untuk selama beberapa hari mengikuti konferensi tentang quality insurance. Konferensi itu merupakan forum pertemuan alumni Unistaff Summerschool tahun 2005 University of Kassel, Jerman. Seperti diketahui, peserta Summerschool 2005 itu terdiri dari 24 orang. Dari Indonesia, peserta berjumlah 14 orang (Unibraw 2, IPB 5, UGM 5, UI 1, dan UKI 1), dan 10 orang lainnya dari Filipina 2, Iran 2, Mesir 1, Costa Rica 1, El-Salvador 1, Uganda 1, Kenya 1 dan Malawi 1.
Prof. Hendrawan dalam kapasitas sebagai country coordinator memprakarsai proposal kegiatan training di Indonesia bagian timur yang rencananya akan berlangsung pada tahun 2006 ini. Dijelaskannya, ada tiga modul utama yang dipersiapkan: Quality Teaching and Learning, Learning Organization Management, dan Reserach Development and Management.
Program ini disponsori oleh DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst) sebuah institusi Jerman yang mengurusi pertukaran di bidang akademik. Untuk implementasi di Indonesia bagian timur, program akan dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi bersama DAAD.
"Dengan keterlibatan ini, LP3-Unibraw turut memberikan sumbangsih pada kepentingan nasional dan internasional, melalui networking dengan para Alumni Unistaff di Indonesia dan dunia. Model yang kita usulkan ini akan diimplementasikan pula di negara-negara lain", tutur Prof Hendrawan. [Far]Yanis Maladi: Kebijakan Pertanahan Kapitalistik Timbulkan Masalah
4 November 2006Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Sabtu 4/11, menggelar ujian terbuka disertasi Yanis Maladi SH MH dari Program Doktor Ilmu Hukum. Dalam kesempatan itu, dipertahankan disertasi berjudul "Implementasi Pendaftaran Tanah di Kabupaten Lombok Barat". Bertindak sebagai promotor Prof Dr Achmad Sodiki SH, dan kopromotor Prof Dr Moch Munir SH serta Dr I Nyoman Nurjaya SH MH. Tim penguji terdiri dari Prof Dr Made Sadhi Astuti SH, serta 2 penguji dari Universitas Airlangga: Prof Dr Sri Hayati SH MS, dan Dr Haryono SH MCL.
Dalam disertasinya, Yanis Maladi mengatakan, kebijakan pertanahan nasional dengan melakukan pergantian berbagai instrumen program populistik menjadi kapitalistik banyak menimbulkan masalah. Baik masalah pembebasan tanah oleh pemerintah atau oleh swasta. Termasuk di dalamnya untuk keperluan perumahan yang dilakukan oleh real estate untuk kawasan industri ataupun lain-lain kegiatan ekonomi di tengah-tengah masyarakat.
Ketimpangan tersebut berdampak pada pandangan dan sikap serta perilaku hukum masyarakat. Mereka harus menyesuaikan diri dengan situasi yang terkesan mulai mengusik mereka. Di Lombok Barat, Perda No. 9 Tahun 1989 tentang Penetapan Kawasan Wisata, telah mengubah tanah-tanah milik masyarakat menjadi tempat usaha/kawasan wisata. Demi mendukung keinginan pemerintah tersebut para petani pemilik tanah harus merelakan tanah garapannya kepada pemilik modal. Nilai tawar tanah akan tinggi jika para petani memiliki sertifikat tanah atas nama pemiliknya. Karena itulah kemudian pemilik berlomba-lomba mendaftarkan tanahnya. Mereka tidak berfikir dari sisi kepastian hukumnya, melainkan hanya berdasarkan pertimbangan ekonomi semata. Pilihan sebagian warga ini menunjukkan kuatnya pengaruh nilai-nilai lokal tradisional dalam menjalankan fungsi kontrolnya melindungi hak tanah.
Yanis Maladi, dalam disertasi itu mencoba menganalisis kelemahan dan kelebihan peraturan undang-undang dalam implementasi pendaftaran tanah pada masyarakat, khususnya di Kabupaten Lombok Barat. Selain itu ia mencoba melihat kekuatan jaminan kepastian hukum dan perlindungan atas tanah yang berasal dari hukum adat, serta menganalisis pandangan dan sikap masyarakat terhadap program pendaftaran tanah yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Dari penelitian yang dilakukannya, ia menemukan rumusan pengelolaan pendaftaran tanah yang berkeadilan atas dasar dinamika masyarakat Indonesia. Disimpulkan bahwa implementasi pendaftaran tanah nampaknya belum menunjukkan kemajuan ke arah yang lebih baik meskipun terjadi pergantian peraturan. Jumlah pendaftaran tanah baru terlaksana 27% dari jumlah 223.487 bidang tanah yang siap didaftarkan. Masih kuatnya pengaruh hukum adat ternyata mempengaruhi respon masyarakat untuk mendaftarkan tanahnya. Hal lain yang mempengaruhi bahwa warga juga masih asing dengan cara yang berlaku. Mereka pun belum merasakan pentingnya sebuah sertifikat tanah dalam lalulintas hukum. Yanis juga mengungkapkan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi pendaftaran tanah disebabkan karena perolehan tanah merupakan warisan. ”Mereka menganggap bahwa milik orang tua yang selama ini dikuasai secara turun termurun tidak akan ada masalah status tanah bersertifikat atau tidak,” katanya.
Dari empat desa sampel, 50% penguasaan tanah hak milik adat diperoleh melalui warisan. Selebihnya hasil jual beli (25%), hibah (15%) dan lain-lain. Peralihan hak atas tanah menggunakan norma kebiasaan. Adanya pengakuan masyarakat atas peristiwa hukum tersebut maka peralihan hak tersebut sah memiliki kepastian hak secara hukum adat.
Hambatan implementasi pendaftaran tanah menurut Yanis ada dua hal. Pertama, bersifat substantif. Pendaftaran tanah yang diselenggarakan berdasarkan PP 10 tahun 1961 dan PP 24 tahun 1997 ternyata belum menghasilkan pendaftaran tanah yang signifikan. Terutama tanah-tanah obyek pendaftaran yang masih kuat hukum adatnya. Selain itu kondisi obyektif tanah yang tidak didukung dengan alat-alat pembuktian yang mudah diperoleh dan dapat dipercaya. Sehingga dalam tahap pelaksanaannya belum cukup waktu. Hambatan yang kedua, yaitu hambatan teknis. Jumlah tanah yang siap didaftarkan semakin bertambah padahal wilayah Indonesia yang luas akan menghambat proses pendaftaran tanah. Selain terbatasnya tenaga ahli dan data yang diperlukan.
Untuk mengatasi hambatan yang bersifat substantif. Pemerintah memberikan respon positif dengan melakukan penyederhanaan persyaratan tanah. Sedangkan untuk mengatasi hambatan yang bersifat teknis diperlukan pemikiran yang tidak berhenti pada kuantitas peraturan. Namun lebih pada kualitas kebijakan pada kepastian hak, perlindungan hak atas tanah.
Yanis menyarankan perlunya pembaharuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997, dengan mengupayakan nilai lokal tradisional dijadikan dasar penyusunan hukum pendaftaran tanah nasional yang baru. Selain itu perlu adanya pembangunan hukum secara efektif, sehingga arah dan fokus kajian tidak pada strukturisasi tapi pada subtansi undang-undang. Ia juga menyarankan bahwa pemerintah pun harus bersikap adil terhadap tanah yang masih berdasar hukum adat.
Dalam yudisium, Yanis Maladi dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, IPK 3,74, dengan masa studi 3 tahun 3 bulan, dan berhak menyandang gelar doktor dalam ilmu hukum.
Dr Yanis Maladi SH MH adalah putra kelahiran Montong Betok (NTB) 22 Desember 1956. Sarjana hukum lulusan Universitas Mataram (1982) dan magister hukum dari Universitas Airlangga (1997) ini adalah staf pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Mataram. Dari pernikahannya dengan Sri Wahyuni, Dr Yanis Maladi dikaruniai 4 orang putra. [vty]Meninggal Dunia: Abd Moekti Arsyad SH
2 November 2006Telah meninggal dunia Kamis 2 November 2006 pukul 05.00 WIB, Abdul Moekti Arsyad SH (67 tahun), dosen hukum tatanegara pada Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Almarhum sempat dirawat selama sepekan di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, setelah mengalami stroke sejak hari Jumat 27 Oktober silam.
Menurut Drs Anas Baharuddin, rekan seperjuangan almarhum, Abdul Moekti Arsyad adalah sosok pejuang yang patut diteladani oleh generasi muda saat ini. Semasa pelajar di akhir 1950-an, almarhum aktif menjadi pengurus dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) di Malang. Sedangkan semasa menjadi mahasiswa juga aktif menjadi pengurus organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dan setelah lulus pun aktif sebagai pengurus Korps Alumni HMI (KAHMI).
Dengan kemampuan analisis yang tajam, putra kelahiran Palembang 1 Mei 1939 ini dikenal sebagai organisator ulung. Semasa mahasiswa pula, di tahun 1960-an, bersama Mochamad Amien SMHk almarhum merintis berdirinya Sekolah Menengah Islam (SMI) dan menjadi kepala sekolah tersebut selama beberapa tahun. Di bawah kepemimpinannya, SMI dikenal sebagai salah satu sekolah swasta terbaik di Malang.
Setelah menjadi dosen, selama beberapa tahun almarhum aktif sebagai penatar Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), baik untuk tingkat lokal (Malang dan Unibraw), maupun tingkat regional. Juga pernah menjabat sebagai sekretaris Lembaga Penelitian Unibraw di sekitar tahun 1982.
Jenazah diberangkatkan dari rumah almarhum di Jalan Nongkojajar 9, Lowokwaru, Malang, pukul 15.00 WIB, untuk dimakamkan di pemakaman umum Samaan, Malang, dengan iringan karib kerabat, handai tolan dan rekan sejawatnya.
Dalam sambutan mengantar keberangkatan jenazah, Dekan FH Unibraw Warkum Sumitro SH MH mengatakan, almarhum adalah figur yang sangat konsisten dan menaruh perhatian besar dalam bidang pendidikan. Bahkan dalam sebuah diskusi pada bulan Ramadan baru lalu, sempat berpesan agar Fakultas Hukum khususnya, dan Universitas Brawijaya pada umumnya tetap berkomitmen untuk mencetak sarjana yang tangguh dan menjunjung tinggi pada nilai-nilai keadilan dan kebenaran, serta nilai-nilai moral-religius. [Far]